Kronologi Kerusuhan Mei 1998 yang Memicu Lengsernya Presiden Soeharto

Kronologi Kerusuhan Mei 1998 yang Memicu Lengsernya Presiden Soeharto

Tragedi Kerusuhan Mei 1998 merupakan lembaran kelam dalam sejarah Indonesia yang berlangsung selama kurang lebih sepuluh hari. Peristiwa ini dipicu oleh penembakan mahasiswa Universitas Trisakti dan mencapai puncaknya saat Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya.

Dikutip dari Nasional, rangkaian kekacauan ini bermula pada 12 Mei 1998 ketika aparat keamanan melepaskan tembakan terhadap mahasiswa Universitas Trisakti yang tengah menggelar aksi damai. Insiden berdarah ini merenggut nyawa enam mahasiswa.

Para korban gugur tersebut adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, Alan Mulyadi, Hendriawan Sie, dan Vero. Kematian mereka memicu kemarahan publik secara luas hingga gelombang demonstrasi besar menyebar ke berbagai sudut Jakarta.

Memasuki hari kedua pada 13 Mei, situasi di sekitar Universitas Trisakti semakin memanas dan kerusuhan mulai pecah. Sethari kemudian, pada 14 Mei, amuk massa tidak lagi terbatas di ibu kota, melainkan mulai merembet ke kota-kota besar lainnya di seluruh Indonesia.

Pada hari keempat, 15 Mei, aksi penjarahan dan pembakaran meluas hingga ke pusat perbelanjaan. Salah satu tragedi paling menyayat hati terjadi di toko serba ada Yogya, Klender, Jakarta, di mana ditemukan ratusan orang meninggal dunia di dalam bangunan tersebut.

Kondisi serupa terulang pada 16 Mei dengan penemuan ratusan korban jiwa di Cileduk Plaza. Hingga 17 Mei, laporan mencatat sebanyak 499 orang tewas akibat kerusuhan berkepanjangan ini, serta sekitar 4.000 bangunan hangus terbakar.

Pendudukan Gedung Parlemen dan Pengunduran Diri Soeharto

Eskalasi politik meningkat tajam pada 18 Mei saat ribuan mahasiswa berhasil menduduki Kompleks Parlemen Senayan. Ketua MPR Harmoko secara terbuka meminta Soeharto untuk mundur dari jabatannya sebagai Presiden.

Merespons tuntutan tersebut, Wiranto yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI menilai bahwa permintaan Harmoko tidak memiliki landasan hukum yang kuat. Namun, pada 19 Mei, Soeharto menjanjikan pelaksanaan pemilu secepatnya dan menyatakan tidak akan mencalonkan diri lagi.

Soeharto juga mengumumkan rencana pembentukan komite reformasi guna meredam situasi. Pada 20 Mei, sempat beredar kabar mengenai rencana long march mahasiswa menuju Monas untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional, meski agenda tersebut akhirnya batal terlaksana.

Titik balik sejarah terjadi pada 21 Mei saat Soeharto resmi mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada BJ Habibie. Peristiwa sepuluh hari ini meninggalkan luka mendalam serta kerugian material yang sangat besar bagi bangsa.

"Berdasarkan pemberitaan Kompas, 18 Mei 1998, kerugian fisik yang terjadi akibat kerusuhan dalam dua hari antara 13-14 Mei di Jakarta, sekitar Rp 2,5 triliun," tulis Litbang Kompas.

Artikel terkait

Rekomendasi