Contoh teks khutbah Idul Adha menyentuh hati banyak dicari menjelang Hari Raya Kurban sebagai referensi bagi khatib dalam menyampaikan pesan keislaman kepada jemaah. Khutbah Idul Adha umumnya berisi tentang ketakwaan, keikhlasan, pengorbanan, dan keteladanan Nabi Ibrahim AS serta Nabi Ismail AS, seperti dikutip dari Detikcom.
Materi ini juga dapat menjadi sarana untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya kepedulian sosial dan semangat berbagi melalui ibadah kurban. Oleh karena itu, isi khutbah biasanya disusun dengan bahasa yang menyentuh, mudah dipahami, dan penuh hikmah.
الله أَكْبَرُ ٩ لا إله إلا الله الله أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحَمْد
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. وَمَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Marilah kita mengucapkan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya. Sholawat serta salam marilah kita panjatkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW karena beliaulah yang telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya terang benderang Addinul Islam.
Dalam kesempatan ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi sendiri dan juga kepada jemaah sekalian agar tetap senantiasa memelihara serta meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Pada pagi yang mulia ini, jutaan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tengah merayakan salah satu syiar terbesar dalam Islam: Idul Adha, hari raya pengorbanan, hari raya ketundukan, hari raya di mana kita kembali meneguhkan makna sejati dari ketaatan kepada Allah Ta'ala.
Hari ini bukan sekadar hari memotong hewan kurban, tetapi hari untuk meneladani pengorbanan Nabi Ibrāhīm dan Nabi Ismā'il 'alayhimā as-salām, dua sosok yang menorehkan teladan agung tentang kepatuhan total kepada Allah, tanpa syarat, tanpa ragu. Terdapat 3 hal utama yang dapat kita perhatikan, yaitu:
Kisah ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putranya Ismā'il merupakan salah satu ujian terbesar dalam sejarah manusia. Allah berfirman:
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." (QS. Aş-Şaffāt: 102)
Sebuah perintah yang berat secara emosional, sulit secara logika, tetapi jelas secara iman. Lalu Ismā'il memberikan jawaban yang kekal dalam sejarah:
أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ، سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Aş-Şaffāt: 102)
Inilah puncak ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.
1. Pengorbanan adalah ujian cinta kepada Allah. Nabi Ibrāhīm membuktikan bahwa cintanya kepada Allah SWT mengalahkan cintanya kepada anak yang telah lama ia dambakan.
2. Keikhlasan menumbuhkan kekuatan untuk taat. Ismail dengan tenang menerima perintah yang amat berat, karena ia yakin bahwa ketaatan tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
3. Kurban bukan sekadar penyembelihan hewan. Ibnu 'Abidin dalam Radd al-Muhtar menjelaskan:
قَالَ ابْنُ عَابِدِينَ: «إِنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ إِظْهَارُ التَّعَظِيمِ لِشَعَائِرِ اللَّهِ، وَالتَّقَرُّبُ إِلَيْهِ بِإِرَاقَةِ الدَّمِ»
Ibnu 'Abidin berkata: "Tujuan dari kurban adalah menampakkan pengagungan terhadap syiar-syiar Allah dan mendekat kepada-Nya dengan mengalirkan darah kurban."
4. Hikmah kurban melampaui daging dan darah. Seperti dijelaskan dalam Tafsir al-Qurtubi:
قَالَ الْقُرْطُبِيُّ : «لَيْسَ الْمَقْصُوْدُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ اللَّحْمَ، وَلَكِنَّ الْمَقْصُوْدُ إِصْلَاحُ الْقُلُوْبِ وَتَخْلِيْصُهَا مِنَ الشُّرِّ»
Al-Qurtubi berkata: "Tujuan kurban bukan pada dagingnya, tetapi pada perbaikan hati dan pembersihannya dari sifat kikir."
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ بِالْقُرْءَانِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ
الله أَكْبَرُ x7 لا إله إلا الله الله أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحمد
الْحَمْدُ لِلَّهِ، حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ . وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْبَشَرِ.
Pada hari raya nan suci ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, memperbanyak amal saleh, serta memohon ampunan atas dosa-dosa kita.
Ya Allah, jadikanlah kurban kami sebagai bukti ketundukan kami kepada-Mu.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari sifat tamak, riya', ujub, dan sombong.
Ya Allah, kuatkanlah kami untuk mengikuti teladan Nabi Ibrāhīm dan Nabi Ismā'il dalam keikhlasan dan ketaatan.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
2. Memburu Pahala Berkurban
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهِ فَلا مُضِلَّ لَهُ, وَمِنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه signatures وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلَّى وَسَلَّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كثيرا.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ, أَوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
اما بعد:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ الله, وَخَيْرِ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بدعة وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ في النار.
Puja dan puji hanya tertuju kepada Allah Rabbul Jalil. Dengan pancaran kasih sayang-Nya, kembali kita bersimpuh sujud, menghambakan diri, sebagai refleksi kesyukuran kita kepada-Nya. Sholawat dan taslim semoga tercurah selalu keharibaan, kekasih kita, Muhammad SAW, figur yang rekam jejak kehidupannya laksana samudera biru nan luas terbentang.
Jika ikan membutuhkan air demi kelangsungan hidupnya, maka manusia membutuhkan iman dan takwa guna menapaki terjalnya kehidupan dunia dan menuju akhirat. Oleh karena itu, marilah terus kita gandakan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Takwa yang secara terminologi dijabarkan oleh para ulama, imtisalu awamirillah wajtinabu nawāhillah, yakni menjalankan semua titah dan perintah Allah SWT dan meninggalkan segala bentuk larangan-Nya. Pastikan dengan keimanan dan ketakwaan yang sejati, mahligai surgawi dapat kita raih.
Tanpa terasa, saat ini kita tengah berada pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijjah. Sepuluh hari yang sarat dengan kebaikan yang bobot nilainya begitu utama di sisi Allah SWT. Allah jelaskan dalam firman-Nya:
وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرِ, وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
Artinya: Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. (QS. al-Fajr: 1-3)
Bahkan dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Tidak ada amal pada hari-hari, yang lebih utama daripada amal di sepuluh hari ini, sahabat bertanya, tidak pula jihad wahai Rasulullah? Nabi SAW menjawab: tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang berangkat menghadapi musuh dengan jiwa dan hartanya lalu dia tidak pulang dengan sesuatu (dari keduanya atau mati syahid). (HR. Bukhari)
Salah satu ibadah utama di hari-hari ini adalah ibadah haji di tanah suci, Makkah Al-Mukarramah, sebagaimana yang sedang dilakukan oleh sebagian saudara-saudara kita dari berbagai penjuru dunia.
Sejuta doa dan harapan kita rintihkan, semoga ibadah haji mereka diberkahi dan sekembalinya mereka dari rumah Allah yang suci itu dengan menggenggam predikat haji mabrur. Amin yâ ilahil âlamîn.
Satu hal yang mesti dipahami bahwa tidak ada satu agama pun di dunia ini yang memiliki konsep ibadah seindah dan seagung konsep ibadah haji dalam Islam. Di dalamnya mengandung seribu makna dan tersimpan sejuta hikmah.
Perjalanan suci ibadah haji ini mesti dijaga kesuciannya dengan sebaik-baiknya. Jangan dikotori, jangan dinodai dengan sifat-sifat buruk dan tercela. Buang sejauh-jauhnya sifat sombong, kibr dan ujub yang bersemayam dalam hati.
Karena ketika terdapat biji kesombongan yang dibawa mengiringi perjalanan suci ini, maka pastikan kesombongan itu akan hancur berkeping-keping ketika matanya memandang rumah Allah yang suci, air matanya berderai, hatinya runtuh tak kuasa membendung sentuhan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
Karenanya, tidak ada bekal berharga yang harus kita bawa dalam perjalanan suci ini, melainkan bekal takwa kepada Allah SWT. Allah tegaskan dalam Al-Qur'an:
... وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى....
Artinya: "...Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..."(QS. Al-Baqarah: 197)
Selain ibadah haji yang difardhukan, kaum muslimin juga di bulan ini diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban bagi yang memiliki kesanggupan, sebagai perwujudan rasa syukur dan sebagai bentuk ketundukan total kepada syariat Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat al-Kautsar:
Artinya: "Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah" (QS. al-Kautsar:2)
Syaikh Abdullah Ali Bassam mengatakan: "Sebagian ulama tafsir mengatakan, yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan kurban setelah salat 'ied"
Hal esensial yang mesti digarisbawahi dalam berkurban adalah memurnikan niat, semata karena Allah SWT dan menyadari sungguh bahwa berkurban merupakan manifestasi kesyukuran kita atas segala nikmat yang telah Allah beri.
Ibadah kurban mempunyai keutamaan yang spesial, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits-hadits nabawi. Di antara fadilah berkurban, yang pertama adalah mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda kepada putrinya, Fatimah: "Wahai Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah: "sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Rabb alam semesta" (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Yang kedua adalah sarana memperoleh keridhaan dari Allah SWT. Allah tegaskan dalam al-Qur'an:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
Artinya: "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu." (QS. Al-Hajj:37)
Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat 'ied kami" (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Fadilah berkurban yang ketiga adalah amalan yang paling dicintai Allah pada hari Raya Idul Adha. Ketika menafsirkan firman Allah dalam surat al-Kautsar ayat 2, Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawanya menjelaskan:
"Adalah Allah SWT memerintahkan Nabi SAW, untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung, yaitu salat dan menyembelih kurban sebagai indikator sikap taqarrub, tawadhu', merasa butuh kepada Allah, baik sangka, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada janji, perintah serta keutamaan dari-Nya"
Dikuatkan pula dengan hadits Rasulullah SAW:
Artinya: "Tidak ada satu amalan yang paling dicintai Allah dari bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban" (HR. Tirmidzi dan Hakim)
Selanjutnya fadilah yang keempat adalah hewan kurban akan menjadi saksi pada hari kiamat. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (as sebagai saksi) dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengan nya." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)
Tiada harapan dan impian dari ibadah haji dan kurban yang kita berikan, melainkan apa yang telah kita kerjakan ini diberkahi dan diterima di sisi Allah SWT sebagai simpanan amal baik kita.
بَارَكَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيم وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُواهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ
3. Idul Adha dan Kepedulian Sosial
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَحْتَارُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ الْوَاحِدُ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ، وَأَشهد أن لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ إِنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ الْمُتَقِينَ وَقُدْوَةُ الْأَبْرَارِ اللَّهُمَّ صَلَ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ، صَلَاةً دَائِمَةً مَّا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا إِخْوَةَ الْإِسْلَامِ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَ الْقَائِلِ فِي مُحْكُم كِتَابِهِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلَ لِرَبَّكَ وَالْحَرُ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ.
Bersyukur kepada Allah SWT dengan berucap alhamdulillahi rabbil 'alamin, hari ini kita masih dalam suasana Idul Adha yang dapat disebut pula dengan istilah Idul Kurban, Idul Nahr, dan Idul Akbar. Hari raya Idul Adha menekankan kepada kita semua semangat hidup sosial dan berkorban.
Tercapainya suasana dzikrillah 'mengingat Allah', hasil dari pada ibadah salat kita sehari-hari. Mendapatkan maghfirah, 'ampunan', rahmah 'kasih sayang', dan hidayah 'petunjuk' dari Allah SWT, buah dari kesabaran atas musibah yang telah menimpa.
"Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu...."
Bila diri mengaku ber"iman", bukanlah semata-mata hanya ungkapan yang terucap dari bibir semata, tetapi keimanan yang sebenar-benarnya adalah merupakan suatu keyakinan yang memenuhi seluruh isi lubuk hati sanubari kita.
وَلَكِن َّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِمَنَ وَزَيْنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْمُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الأَشْدُونَ فَضَلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.
"Tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Hujurat: 7-8).
Diantara salah satu bukti keimanan kita kepada Allah SWT adalah dengan bersedekah, sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad SAW:
الصَّدَقَةُ بُرْهَان (رواه مسلم)
"Dan sedekah itu adalah bukti (keimanan) yang nyata". (H.R. Muslim)
Ibadah sedekah memiliki banyak fadhilah (keutamaan), terlebih bila sedekah itu diberikan di waktu, tempat dan keadaan yang utama seperti bersedekah di bulan suci Ramadhan, diberikan kepada fakir miskin, diberikan pada 10 hari bulan Dzulhijjah dan saat urusan yang penting seperti untuk orang yang sedang menderita sakit. Demikian dalam Tuhfatul Muhtaj li Syarhil Minhaj.
Al-Imam Abu Bakr ar-Razi menjelaskan bahwa iman dalam hati seorang mukmin adalah seumpama sebatang pohon yang mempunyai tujuh dahan. Satu dahan mencapai hatinya, sedang buahnya adalah kehendak yang benar; satu dahan mencapai lidahnya, sedangkan buahnya adalah perkataan yang benar; satu dahan mencapai kedua belah kakinya, sedang buahnya berjalan menuju salat berjemaah; satu dahan mencapai kedua belah tangannya, sedangkan buahnya adalah memberikan sedekah; satu dahan mencapai kedua belah matanya, sedang buahnya adalah memandang kepada pelajaran-pelajaran; satu dahan mencapai perutnya, sedang buahnya ialah memakan yang halal dan meninggalkan barang yang meragukan; dan satu dahan lagi mencapai jiwanya, sedangkan buahnya ialah meninggalkan dan mengendalikan keinginan-keinginan nafsu syahwatnya.
Seluruh ibadah lah yang disyariatkan Allah SWT bertujuan untuk menanamkan keutamaan, kebaikan, akhlak mulia, dan mengikis sifat kezaliman dan kerusakan. Ibadah salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (QS. Al-Ankabut: 45).
Ibadah puasa menanamkan ketakwaan dalam diri muslim (QS. Al-Baqarah: 183), ibadah zakat dapat membersihkan hati dari sifat kikir (QS. at-Taubah: 103) dan ibadah kurban menyebabkan bertambahnya kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya Allah SWT, sebagaimana dalam QS. al-Kautsar:1-2:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَالْحَرْ.
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah)."
Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى شِرَاءِ الأَضْحِيَّةِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَ مُحِيَ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَ رُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَ إِذَا تَكَلَّمَ فِي شِرَائِهَا كَانَ كَلَامُهُ تَسْبِيْحًا وَ إِذَا نَقْدَ لَمِنْهَا كَانَ لَهُ بِكُلِّ دِرْهَمٍ سَبْعُمِائَةٍ حَسَنَة وَ إِذَا طَرَحَها عَلَى الْأَرْضِ يُرِيدُ ذَبْحَهَا اسْتَغْفَرَ لَهُ كُلُّ خَلْقٍ مِنْ مَوْضِعِهَا إِلَى الْأَرْضِ السَّابِعَةِ وَ إِذا أهرَقَ دَمَّهَا خَلَقَ اللهُ بِكُلِّ قَطْرَة مِن دَمَّهَا عَشْرَةً مِنَ الْمَلَائِكَةِ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
"Siapa keluar dari rumahnya pergi untuk membeli hewan korban maka akan dihitung bagi orang tersebut setiap dari langkah kakinya sepuluh kebaikan, dan dihilangkan atasnya sepuluh kejelekan, dan diangkat (diberi) atasnya sepuluh derajat. Dan ketika terjadi transaksi pembelian maka setiap ucapannya dihitung sebagai tasbih, dan ketika akad pembelian berlangsung maka setiap dirham (satu rupiah) disamakan dengan tujuh puluh kebaikan, dan ketika hewan tersebut diletakkan (dibaringkan) di atas bumi untuk dipotong maka setiap makhluk yang ada di bumi sampai lapis ketujuh akan memohonkan ampun atas orang tersebut, dan ketika darah dari hewan tersebut telah dialirkan maka Allah SWT menjadikan setiap tetes dari darah tersebut sepuluh malaikat yang selalu memohonkan ampun sampai hari kiamat." (HR. Ahmad).
Sedangkan ibadah haji dimaksudkan agar memperbanyak mengingat Allah SWT dan agar dapat menyaksikan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang sudah dianugerahkan kepada mereka (QS. al-Hajj: 27-28).
فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجَّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمُهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ.
"Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (perkataan kotor), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal." (QS. al-Baqarah: 197).
Maha suci Allah SWT yang telah memberikan hikmah terhadap segala perintah yang diberikan dan seluruh larangan yang tetapkan. Benar-benar harus kita akui bahwa tidak ada syariat Allah SWT yang merugikan ummat manusia, semuanya menguntungkan, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam atsar yang ada di bawah ini:
فَرَضَ اللَّهُ الْإِيمَانَ تَطْهِيراً مِنَ الشِّرْكِ، وَالصَّلاَةَ تَنْزِيهاً عَنِ الْكِبَرِ ، وَالزَّكَاةَ تَسْبِيباً لِلرِّزْقِ، وَالصَّيَامَ ابْتِلاءُ الإخلاص الخَلْقِ، وَالْحَجَّ تَقْرِبَةً لِلدِّينِ وَالْجِهَادَ عِزّاً لِلْإِسْلَامِ، وَالْأَمْرَ بِALْمَعْرُوفِ مَصْلَحَةً لِلْعَوَامِ، وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ رَدْعاً لِلسُّفَهَاءِ، وَصِلَةَ الرَّحِمِ مَنْمَاةً لِلْعَدَدِ، وَالْقِصَاصَ حَقْناً لِلدِّمَاءِ، وَإِقَامَةَ الْحُدُودِ إِعْظَاماً لِلْمَحَارِمِ، وَتَرْكَ شُرْبِ الْخَمْرِ تَحْصِيناً لِلْعَقْلِ، وَمُجَانَبَةَ السَّرِقَةِ إيجاباً لِلْعِفَّةِ، وَتَرْكَ الزِّنَى تَحْصِينَا لِلنَّسَبِ، وَتَرْكَ اللوَاطِ تَكْثِيراً لِلنَّسْلِ، وَالشَّهَادَةَ اسْتِهَاراً عَلَى الْمُجَاحَدَاتِ وَتَرْكَ الْكَذِبِ تَشْرِيفاً لِلصِّدْقِ، وَالسَّلَامَ أَمَانَا مِنَ الْمَخَاوِفِ، وَالْإِمَانَةَ نِظَاماً لِلْأُمَّةِ، وَالطَّاعَةَ تَعْظِيماً لِلْإِمَامَةِ..
"Allah mewajibkan iman untuk membersihkan hati dari syirik, mewajibkan salat untuk mensucikan diri dari takabbur, mewajibkan zakat untuk menjadi sebab datangnya rezeki bagi manusia, mewajibkan puasa untuk menguji keikhlasan manusia, mewajibkan haji untuk mendekatkan umat Islam antara satu dengan lainnya, mewajibkan jihad untuk kebesaran Islam, mewajibkan amar ma'ruf untuk kemaslahatan orang awam, mewajibkan nahyu 'anil munkar untuk menghardik orang-orang yang kurang akal, mewajibkan silaturrahmi untuk menambah bilangan, mewajibkan qishas untuk pemeliharaan darah, menegakkan hukum-hukum pidana untuk membuktikan besar keburukan barang-barang yang diharamkan itu, mewajibkan kita untuk menjauhkan diri dari minuman yang memabukkan untuk memelihara akal, mewajibkan kita menjauhkan diri dari pencurian untuk mewujudkan pemeliharaan diri, mewajibkan kita menjauhi zina untuk memelihara keturunan, meninggalkan liwath untuk membanyakkan keturunan, mewajibkan pensaksian untuk memperlihatkan mana yang benar, dan mewajibkan kita menjauhi dusta untuk memuliakan kebenaran, dan mewajibkan perdamaian untuk memelihara manusia dari ketakutan dan mewajibkan kita memelihara amanah untuk menjaga keseragaman hidup dan mewajibkan taat untuk memberi nilai yang tinggi kepada pemimpin negara."
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفْعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِني وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ..
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُوْرِنَا ، اللهُمَّ وَفَقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ الإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِم| كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبُّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَبْعِدُ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِينَ وَقَرِب| إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَصْلِح| وَلَاةَ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِALْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
4. Ibadah Kurban Dan Spirit Menghilangkan Egoisme Demi Kemaslahatan Umat
الْحَمْدُ لِلهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ المُخَوْفِ مَكْرُهُ المَألُوفِ ذِكْرُهُ، الكَشِيفِ سِتْرهُ، الجَلِيلِ قَدْرُهُ، المَقْبُولِ أَمْرُهُ، المَعْرُوفِ بِرُّهُ، العَنِيْفِ زَجْرُهُ، الَّذِي ضَوَّا قُلُوْبَ الخَائِفِينَ بِمَصَابِيحِ أُنْسِهِ ، وَبَوْا هِمَمَ العَارِفِينَ مَقَاصِدِ الْعِزِ مِنْ قُدْسِهِ، فَهُوَ الشَّاكِرُ عَلَى مَا لَهُ الشَّكْرُ عَلَيْهِ، وَالقَادِرُ الَّذِي لَا مَلْجَأَ مِنْهُ إِلَّا إِلَيْهِ ، أَحْمَدُهُ عَلَى حُسْنِ نَظْرِهِ، وَأُسَلِّمُ لِقَضَائِهِ وَقَدْرِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَحْمَنُ الدُّنْيَا وَرَحِيمُ الآخِرَة العَزِيزُ الَّذِي يَغْلَبُ وَلَا يُغْلَبُ ذُو القُوَّةِ القَاهِرَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ حِيْنَ ضَرَبَ الكُفْرُ بِجِرَانِهِ، وَنَدَبَ الضَّلَالُ إِلَى شَيْطَانِهِ، وَجَمَعَ الشَّرْكُ فِي عِنَانِهِ، وَتَمَادَى الجَاهِلُ فِي طُغْيَانِهِ، وَاسْتَبَدَّ الكَافِرُ بِعِبَادَةِ أَوْثَانِهِ، فَأَدَلَّ اللهُ رِجْزَ شَيْطَانِهَا بِعِزّ سُلْطَانِهِ، وَأَنَارَ ظُلَمَ بُهْتَائِهَا بِنُوْرِ بُرْهَانِهِ، وَأَقَرَّ الحَقَّ عَلَى قَوَاعِدِ أَرْكَانِهِ، صَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَعْوَانِهِ، الْمُوْفِينَ بِعَقْدِ ذِمَّتَهِ وَإِثْمَانِهِ، صَلَاةٌ يُحِلُّهُمْ بها دَارَ أَمَانِهِ، وَمَوَاطِنَ رِضْوَانِهِ.
أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ كَمَا قَالَهُ فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُسْلِمُونَ، وَقَالَ أَيْضًا: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَابَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّبِرِينَ
Puji beriring syukur semata-mata hanya untuk Allah SWT, tempat segala doa dipinta dan segala harapan digantungkan. Salam beriring sholawat untuk Rasul pilihan Allah, Muhammad SAW, semoga kita beroleh syafa'at beliau di akhirat kelak. Amin ya Rabbal 'alamin. Selisih dari itu, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Salah satu bentuk ketakwaan kita kepada Allah SWT adalah selalu berusaha menjalankan syariat yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, termasuk di dalamnya syariat berkurban. Meskipun menurut jumhur ulama berkurban bukan termasuk ibadah yang masuk kategori wajib, akan tetapi berkurban menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan atau sunnah mu'akkad.
Kata kurban berasal dari bahasa ibrani qorban, artinya persembahan, atau dari bahasa Syiria kurbana yang artinya adalah pengorbanan. Tapi di dalam bahasa arab berasal dari qaraba yang berarti cara atau jalan untuk mendekat kepada Allah SWT. Aktivitas kita berkurban hakikatnya adalah jalan kita untuk mendekat kepada Allah SWT.
Bila kita melihat tarikh tasyri' dari ibadah kurban, maka kurban adalah salah satu ibadah syar'un man qoblana atau syariat yang sudah dijalankan sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW. Di dalam kitab Tarikh ath-Thabari, Ibnu Ishaq r.a. meriwayatkan bahwa saat Nabi Ibrahim AS mendapatkan perintah untuk mengorbankan anaknya, beliau memerintahkan anaknya untuk mengambil pisau dan tali serta mengajaknya ke Syi'ib dengan alasan untuk mencari kayu bakar.
Di tengah perjalanan, datanglah iblis yang menyamar sebagai seorang laki-laki dan berkata, "Wahai orang tua, ke mana engkau akan pergi?" Ibrahim menjawab, "Aku ingin pergi mencari kayu bakar ke Syi'ib". Iblis kemudian berkata, "Demi Allah sesungguhnya aku telah melihat setan datang kepadamu serta menyuruhmu untuk mengorbankan anakmu, kemudian engkau benar-benar ingin menyembelihnya".
Mendengar perkataan tersebut Nabi Ibrahim AS menyadari bahwa laki-laki ini sejatinya adalah Iblis, kemudian beliau berkata, "Sesungguhnya dirimu tidak akan mendapatkan apapun dariku, pergilah wahai musuh Allah, demi Allah aku akan tetap meneruskan perjalananku ini untuk melaksanakan perintahNya."
Mendengar jawaban yang tegas dari Nabi Ibrahim AS, Iblis pun merasa putus asa, tetapi kemudian dia mulai menggoda putranya yakni Nabi Ismail AS. Iblis bertanya kepada Nabi Ismail, "Hai anak kecil, tahukah engkau mau dibawa kemana oleh ayahmu?" Ismail menjawab, "Ayahku menyuruhku untuk mencari kayu bakar di Syi'ib. "
Iblis kemudian mengatakan: "Sungguh demi Allah, ayahmu tidaklah membawamu melainkan hendak menyembelihmu." Ismail pun kemudian bertanya, "Mengapa demikian?" Iblis memberikan jawaban, "Allah SWT telah memerintahkan kepada ayahmu untuk melakukannya." Mendengar itu, Nabi Ismail pun menjawab, "Kalau memang demikian, maka aku akan tunduk dan patuh terhadap perintah Allah SWT."
Mendengar jawaban tegas dari ayah dan anak tersebut iblis pun kembali putus asa, sehingga kemudian berpikir untuk menggoda ibu dari Ismail, sayyidah Hajar yang ada di rumah. Iblis bertanya kepada Sayyidah Hajar, "Hai ibu Ismail, tahukah engkau kepada Ibrahim mengajak Ismail? Sayyidah Hajar menjawab, "Mereka pergi mencari kayu bakar." Iblis pun kemudian berkata, "Tidak, sesungguhnya Ibrahim hendak menyembelih Ismail."
Mendengar perkataan iblis tersebut, Sayyidah Hajar mengingkari seraya berkata, "Tidak mungkin, sungguh Ibrahim sangat mencintai Ismail." Kemudian iblis melanjutkan, "Sesungguhnya Ibrahim menyangka Tuhannya telah memerintahkan hal itu." Sayyidah Hajar dengan lantang menjawab, "Jika Tuhannya yang memberikan perintah maka aku akan tunduk serta patuh terhadap perintah tersebut. "
Setelah mendengar jawaban yang lebih tegas dari ibu Ismail pulanglah sang iblis dengan penuh kemarahan karena telah gagal menggoda Nabi Ibrahim dan keluarganya. Kemudian setelah Ibrahim dan Ismail sampai di Syi'ib, Nabi Ibrahim AS berkata,
يبنى إنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
"Wahai anakku, sesungguhnya aku telah melihat di dalam mimpiku aku menyembelihmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan menjadi jawabanmu?
يَأْبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّبِرِينَ
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang sudah Allah perintahkan kepadamu, insya Allah aku termasuk orang-orang yang bersabar."
Maka, prosesi penyembelihan pun dilaksanakan. Pisau tajam menempel di leher Ismail. Dalam suasana hening dan syahdu, doa dipanjatkan dan sesaat kemudian ditariklah pisau tajam itu. Tetapi, leher ismail tidak terpotong. Karena, sebelum pisau melukai Ismail, Allah telah menggantinya dengan seekor domba. Domba itulah yang terpotong dan Ismail selamat.
Kisah suci ini berakhir dengan penggantian sosok Ismail dengan sebuah hewan. Di sini seakan Allah SWT hendak memberi pelajaran agar jangan sampai kita tega mengorbankan manusia demi egoisme kita. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang mulia yang tidak boleh dikorbankan oleh keserakahan manusia lainnya.
Tetapi, mengapa Ibrahim mau menyembelih anak yang sangat disayanginya? Pertama, karena ia yakin perintah itu datang dari Allah. Yang kedua, karena Ibrahim tidak egois dan takabur, ia merasa tidak memiliki Ismail secara mutlak walau Ismail anak kandungnya. Apabila Ismail dikehendaki Allah untuk disembelih, maka sebagai orang yang bertakwa, Ibrahim tentu rela menyerahkannya kepada Allah.
Demikian pula Ismail, ia mau dipotong lehernya karena ia merasa bahwa dirinya adalah milik Allah. Sikap pasrah seperti itulah yang disebut sebagai makna "Islam" dalam arti yang hakiki.
Dalam ibadah kurban itu ada ruh atau semangat yang perlu terus kita kembangkan di luar Idul Adha, yaitu semangat memberi, semangat membantu, dan semangat berbagi. Firman Allah:
.... لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ :
"Sungguh engkau tidak akan mencapai kebaikan yang hakiki sebelum engkau sanggup berinfak dari harta yang kamu cintai (QS. Ali Imran : 92)
Tidak semua orang mampu melaksanakan ibadah kurban, karena orang yang mau berkurban memiliki tiga kategori. Pertama, orang yang pemberani. Kedua, orang yang kuat, Ketiga, para pecinta. Oleh karena itu orang yang mau berkorban adalah orang yang berani kehilangan sesuatu yang kita sayangi.
Orang yang mau berkurban adalah orang yang kuat, kuat menahan sakitnya kehilangan sesuatu. Yang ketiga, orang yang berkurban adalah mereka yang mencintai. Ketika orang itu mencintai orang lain dia rela melakukan apapun yang berat. Tujuan dari kurban adalah membentuk kita menjadi orang yang berani, kuat dan yang mencintai.
أَيُّha الناس وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الخَلَائِقِ وَالبَشَرِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك| عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيحِ الغُرَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ اتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَAAَ وَالْمُنْكَرَ وَال|بَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحْنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُورِنَا، اللهُمَّ وَفَقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ الإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَAMِ بِمَهَAMِهِْمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبُّ الْعَالَمِينَ . اللَّهُمَّ أَبْعِدُ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِينَ وَقَرَبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
5. Spirit Idul Adha Dalam Mendidik Generasi Muda
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَتالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ المُبِين. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الأمين، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، إِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِم| فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Melalui mimbar yang mulia ini, izinkan khatib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan kepada para jemaah pada umumnya untuk senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT.
Hari raya Idul Adha merupakan salah satu hari besar yang diperingati oleh umat muslim seluruh dunia pada 10 Zulhijah, dilanjutkan tiga hari setelahnya yang disebut hari tasyriq. Sejarah berkurban pada Idul Adha diprakarsai oleh Nabi Ibrahim AS beserta putranya Nabi Ismail AS. Al-Qur'an mencatat kisah ini pada surah al-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ Сَعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur baligh) bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" la menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Kisah berkurban yang melibatkan seorang bapak dan anak memberikan pelajaran yang berharga bagi umat Islam dalam mendidik generasi muda muslimanjutnya. Ada beberapa pelajaran yang tersirat dari kisah tersebut:
Pertama, Nabi Ibrahim memosisikan anaknya sebagai makhluk yang berakal. Metode dialog dalam berkomunikasi kepada anak akan menghidupkan daya pikir anak.
Kedua, Nabi Ibrahim memberikan teladan tentang pentingnya berislam dan beriman secara totalitas. Hal ini tegas tercatat pada QS. al-Baqarah: 132:
someوَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِي إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
"Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam."
Pelajaran ketiga adalah bahwa perhatian Nabi Ibrahim yang cukup besar dalam melahirkan generasi muslim yang unggul semakin jelas dan nyata, disempurnakan dengan terus mendoakan anak; Rabbi habli minasshalihin (Tuhanku, anugerahkanlah saya keturunan yang saleh).
Terkait pentingnya melahirkan generasi muda yang saleh ini, dalam Diwan al-Syafi'i, Muhammad bin Idris al-Syafi'i menyatakan:
وَذَاتُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتَّقَى " إِذَا لَمْ يَكُونَا لَا اعْتِبَارَ لِذَانِهِ
Demi Allah, seorang pemuda adalah dengan ilmu dan ketakwaan Bila keduanya tidak ada, maka tiada pengakuan (kemuliaan) bagi dzatnya.
بارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِني وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ ، حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيمَا أَمَرَ . وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَرَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَا لِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا . إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشَّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحَدِيْنِ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ وَ دَمِرٌ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَاغْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلاء وَالْوَبَاءَ وَال|زَّلازِلَ وَالْمِحْنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَال|مِحْنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا انْدُونِيْسِيًّا خَاصَّةً وَسَائِرِ البُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبُّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرِّ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُوْرِنَا ، اللَّهُمَّ وَفَقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَAMِ بِمَهَAMِهِْم| كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبُّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أ|بْعِدُ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِينَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِALْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْIِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاذْكُرُ واللَّهُ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُّكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
6. Spirit Berkurban Sebagai Fondasi Keluarga Tangguh
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم| وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الشَّافِعِ فِي الْمَحْشَرِ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَطْهَارِ.
أَمَّا بَعْدُ: Fَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ المَتَّقُوْنَ وَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ الله تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيم, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قُلْ صَدَقَ اللهُ ، فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Marilah kita semua meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Spirit menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha hakikatnya adalah cara Allah agar manusia menjaga ikatan pokok dalam hidupnya dengan Allah SWT. Mari kita perhatikan firman Allah SWT:
لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَذَيكُمْ ، وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS. al-Hajj: 22)
Menurut Tafsir al-Baidlawi, bahwa yang dimaksud dengan sampainya ketakwaan adalah menjadikan seseorang semakin mendekatkan diri kepada Allah serta ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.
Dalam ibadah kurban, hewan-hewan disembelih sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلانَا
"Siapa yang memiliki kelapangan, sedangkan ia tidak berkurban, janganlah dekat-dekat tempat salat kami." (H.R. Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim).
Semangat untuk dapat melaksanakan ibadah kurban sebenarnya dapat menjadi fondasi bagi lahirnya keluarga tangguh. Ikatan kuat ini dicontohkan Rasulullah SAW dalam doa Beliau ketika hendak menyembelih hewan kurban:
بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
"Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah terimalah (kurban ini) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta umat Muhammad." (HR. Muslim).
Imam at-Tirmidzi menukil pendapat bahwa doa Nabi Muhammad SAW juga menyebutkan, ini untuk umatku yang tidak berkurban.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَال|إِسْلَامِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ.
أَمَّا بَعْدُ: Fَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ أَمَرَكُمْ بالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الكَرِيمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى |لنَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِALْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِبْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَال|بَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.