Libur Panjang Idul Adha dan Ritme Alam Masyarakat Pesisir

Libur Panjang Idul Adha dan Ritme Alam Masyarakat Pesisir

LIBUR panjang Idul Adha tahun ini—yang merentang hingga enam hari (Kompas.com 18/5/2026)—terasa seperti jeda kolektif mewah.

Kita berhenti bersama, meski tidak selalu beriman pada hal yang sama.

Di atas kertas, ini adalah potret toleransi yang indah: negara memberi ruang bagi semua agama untuk dirayakan, dan warga ikut larut dalam ritme itu.

Namun, pengalaman di wilayah pesisir Sulawesi Selatan—misalnya pada komunitas nelayan di Pangkep dan Takalar—memberi sudut pandang yang tak kalah jujur.

Di sana, ritme religius kerap bernegosiasi dengan ritme alam.

Ketika musim tangkap ikan tiba dan cuaca mendukung, perahu tetap melaut bahkan pada hari-hari yang secara normatif dianggap sakral.

Waktu subuh hingga siang dihabiskan di laut, dan ibadah berjemaah sering menyesuaikan dengan jadwal kembali ke darat.

Tidak ada keributan, tidak pula rasa bersalah yang mengemuka; semuanya berjalan sebagai bentuk kompromi sunyi antara keyakinan dan kebutuhan hidup yang mendesak dan tak selalu bisa ditunda.

Di titik ini, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah berhenti bersama di hari libur benar-benar membuat kita lebih dekat satu sama lain?

Sebab realitasnya, banyak dari kita hanya menikmati libur itu sebagai waktu istirahat—bukan sebagai kesempatan memahami keyakinan orang lain.

Kita tidak datang ke ruang dialog, tidak belajar lintas iman, bahkan tidak selalu tahu makna hari yang sedang “kita rayakan bersama”. Kita hanya ikut berhenti.

Ini adalah bentuk toleransi yang rapuh: kita patuh secara sosial, tetapi belum tentu terhubung secara emosional.

Kita hidup berdampingan, tetapi belum sungguh-sungguh saling menyapa. Toleransi kita rapi di kalender, tetapi seringkali rapuh di relasi.

Di sinilah idealisasi itu bekerja: kita merasa sudah cukup toleran hanya karena memiliki banyak hari libur keagamaan.

Ritme Kerja yang Tersendat

Di sisi lain, ada pertanyaan yang lebih sunyi tetapi tidak kalah penting: apa yang terjadi pada ritme kerja kita?

Indonesia memiliki jumlah hari libur yang relatif banyak.

Dalam banyak kasus, terutama ketika libur berdekatan dan panjang, ritme kerja menjadi terputus-putus.

Kita memulai pekerjaan, berhenti sebentar, kembali lagi dengan momentum yang sudah menurun, lalu berhenti lagi.

Bagi sektor yang bergantung pada kontinuitas—riset, industri, manufaktur—putusnya ritme ini bukan sekadar jeda, melainkan kehilangan akumulasi.

Kita tidak hanya kehilangan waktu, tetapi juga kehilangan kedalaman.

Saya melihat masalah ini bukan sekadar soal “terlalu banyak libur”.

Banyak negara dengan jam kerja lebih pendek justru jauh lebih produktif.

Persoalannya ada pada bagaimana kita mengelola waktu—dan bagaimana kita menghargai fokus.

Di banyak institusi kita, pekerjaan masih terseret ke pola yang dangkal: rapat yang berulang, dokumen administratif yang menumpuk, keputusan yang berlarut. Ketika libur datang, pekerjaan berhenti; ketika kembali, energi tidak sepenuhnya pulih menjadi produktivitas yang bermakna.

Kita seperti berjalan tanpa ritme yang stabil. Libur memang menyenangkan, tetapi tanpa sistem kerja yang kuat, ia bisa menjadi jeda yang tidak pernah benar-benar kita kejar kembali.

Dalam jangka panjang, ini bisa berdampak pada kesejahteraan itu sendiri.

Sebab kesejahteraan bukan hanya soal waktu istirahat, tetapi juga rasa bermakna dalam bekerja—dan kemampuan melihat hasil dari upaya yang konsisten.

Namun, akan terlalu sederhana jika kita menyalahkan libur sebagai sumber utama masalah. Keterlambatan inovasi dan riset di Indonesia jauh lebih dalam daripada sekadar kalender.

Pertanyaan yang lebih jujur adalah: apa yang kita lakukan ketika kita tidak libur?

Banyak institusi kita masih terjebak dalam rutinitas yang tidak menghasilkan pengetahuan baru.

Riset seringkali menjadi kewajiban administratif, bukan dorongan intelektual. Kita bekerja, tetapi tidak selalu berpikir. Kita sibuk, tetapi tidak selalu mencipta.

Sebagai pengamat sistem pendidikan dan kebijakan publik, saya melihat pola yang berulang: kita memiliki waktu, tetapi belum memiliki intensitas.

Kita punya hari kerja, tetapi belum tentu punya ekosistem yang membuat hari-hari itu produktif secara intelektual.

Di titik ini, pengalaman komunitas nelayan menjadi metafor yang sama kuatnya. Mereka menyesuaikan praktik agama bukan karena mengabaikannya, melainkan karena ritme alam dan tekanan ekonomi menuntut prioritas yang tak selalu bisa ditunda.

Demikian pula kita: kerap menunda inovasi bukan karena tidak memahami urgensinya, tetapi karena sistem yang kita bangun belum memungkinkan pengetahuan menjadi denyut utama dalam kehidupan bersama.

Masalahnya bukan sekadar pilihan individu, melainkan struktur kolektif.

Kita bisa memiliki lebih sedikit libur atau lebih banyak libur—tetapi tanpa perubahan dalam cara kita bekerja, berpikir, dan mengelola pengetahuan, hasilnya tidak akan banyak berubah.

Pertama, kita perlu mengembalikan makna pada hari libur keagamaan. Libur tidak harus sekadar berhenti.

Ia bisa menjadi ruang perjumpaan: kegiatan sosial lintas iman, kerja kemanusiaan, atau dialog sederhana di tingkat komunitas. Toleransi perlu dipraktikkan, bukan hanya ditandai.

Kedua, kita perlu merancang ulang ritme kerja yang lebih utuh. Bukan dengan menghapus libur, melainkan dengan mengelola jeda secara strategis.

Blok kerja yang lebih stabil, pengurangan aktivitas yang tidak produktif, serta penghargaan pada fokus dan kedalaman menjadi kunci.

Ketiga, kita perlu membangun ekosistem riset yang hidup. Ini bukan hanya soal anggaran, tetapi juga budaya.

Institusi harus memberi ruang bagi eksplorasi, kegagalan, dan ide-ide baru. Kita perlu beralih dari budaya “menyelesaikan tugas” ke budaya “menghasilkan pengetahuan”.

Keempat, kita perlu memulihkan peran nilai—termasuk agama—sebagai sumber etos, bukan sekadar identitas.

Agama memiliki potensi besar untuk membentuk kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian. Jika itu hidup kembali, maka hubungan antara kerja dan makna akan menjadi lebih utuh.

Akhirnya, kesejahteraan tidak lahir dari banyaknya hari libur semata. Ia lahir dari keseimbangan: antara berhenti dan bergerak, antara identitas dan tindakan, antara kalender dan kehidupan nyata.

Kita boleh berhenti bersama. Tetapi yang lebih penting: apakah setelah itu kita berjalan ke arah yang sama?

Artikel terkait

Rekomendasi