Limbah Berbahaya Picu Dominasi Ikan Sapu Sapu di Sungai Ciliwung

Limbah Berbahaya Picu Dominasi Ikan Sapu Sapu di Sungai Ciliwung

Sungai Ciliwung mengalami penurunan daya dukung lingkungan secara sistemik akibat akumulasi limbah domestik hingga limbah medis yang melampaui ambang batas ekosistem. Fenomena ini diungkapkan dalam sebuah webinar pada Kamis (7/5/2026) yang menyoroti degradasi kualitas air sungai di Jakarta tersebut.

Aktivitas urbanisasi dan kebiasaan buruk masyarakat memicu kondisi sungai yang tidak lagi berfungsi optimal sebagai ekosistem alami. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Lestari, pencemaran paling berbahaya bersumber dari limbah industri yang mengandung berbagai macam logam berat.

Dewi Elfidasari, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Al-Azhar Indonesia, menjelaskan bahwa sungai ini telah berubah menjadi lokasi pembuangan berbagai jenis kotoran manusia dan sisa medis.

"(Sungai) Ciliwung itu ibaratnya tempat pembuangan sampah, ada limbah limbah domestik, limbah, bahkan mmm limbah rumah sakit. Kami pernah menemukan mmm sisa bekas-bekas sampah-sampah jarum suntik, bekas infus, alat bedah di sungai ini (selama mengikuti program Ciliwung Bersih tahun 2015 lalu)," ujar Dewi Elfidasari, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Al-Azhar Indonesia.

Penelitian pada daging ikan sapu-sapu yang ditangkap di lokasi tersebut menunjukkan keberadaan 57 jenis logam, termasuk zat berbahaya seperti merkuri, timbal, dan kadmium. Konsentrasi logam berat ini dilaporkan terus mengalami peningkatan signifikan dalam tubuh ikan selama periode tahun 2015 hingga 2018.

Kondisi ekstrem ini menguntungkan populasi ikan sapu-sapu yang bertindak sebagai bioindikator kerusakan lingkungan dan menurunkan keberagaman spesies lokal. Kemampuan adaptasi ikan ini didukung oleh gen khusus yang merespons stres lingkungan dengan meningkatkan penyerapan logam.

"Riset dari kami mengindentifikasi beberapa gen, termasuk HSP (Heat Shock Protein, salah satu pengontrol stres pada ikan sapu-sapu) yang menunjukkan hasil bahwa semakin stres, kemampuan (ikan sapu-sapu) menyerap logamnya semakin tinggi," tutur Dewi Elfidasari.

Keunggulan morfologi seperti mulut penghisap dan sisik keras memungkinkan ikan ini bertahan hidup meskipun arus deras atau kondisi air sangat keruh. Karakteristik tersebut menjadikan mereka kompetitor yang tangguh bagi ikan-ikan asli penghuni sungai.

"Siripnya yang keras dan besar membuatny menjadi penguasa di kawasan perairan tawar," ucap Dewi Elfidasari.

Ikan sapu-sapu juga memiliki organ labirin yang memungkinkannya bernapas dalam kondisi kadar oksigen yang sangat rendah, berbeda dengan spesies ikan lokal yang membutuhkan air bersih. Struktur respirasi tambahan ini memberikan ketahanan luar biasa bahkan saat berada di luar lingkungan air.

"Ada insang dan ada labirin yang memberi kemampuan untuk hidup diperairan berkadar oksigen minim, bahkan ikan sapu-sapu yang dibiarkan saja di darat enggak akan mati dan setelah dimasukkan ke air, hidup kembali, karena mempunyai organ labirin saluran pernapasan tambahan," ujar Dewi Elfidasari.

Adaptasi fisiologi menjadi faktor utama ketahanan ikan ini dibandingkan evolusi bentuk tubuh, mengingat mereka tetap bisa hidup meski terpapar limbah berat dalam jumlah besar. Berdasarkan riset tahun 2022-2023, ikan ini memiliki ambang batas kematian terhadap logam timbal yang sangat tinggi mencapai di atas 5.900 ppm.

"Kalau evolusi secara morfologi rasanya tidak, tapi kami menduga evolusinya adalah fisiologi karena ikan sapu-sapu yang awalnya hidup di air jernih, kemudian mampu bertahan hidup di air yang sangat-sangat kotor, bahkan mengandung limbah dalam jumlah yang berat," tutur Dewi Elfidasari.

Data ketahanan tersebut menunjukkan tingkat toleransi lingkungan yang jauh melampaui batas kemampuan spesies ikan air tawar lainnya di habitat yang sama.

"Kemampuan letal dosisnya itu ternyata sangat tinggi. Sementara ikan lain mungkin nggak akan sanggup hidup di situ," ucap Dewi Elfidasari.

Artikel terkait

Rekomendasi