Mahfud MD Soroti Ketidakcocokan Paradigma Militeristik di Tubuh Polri

Mahfud MD Soroti Ketidakcocokan Paradigma Militeristik di Tubuh Polri

Anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP), Mahfud MD, menekankan bahwa paradigma militeristik tidak tepat untuk diimplementasikan dalam institusi kepolisian karena perbedaan fungsi mendasar. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri jumpa pers di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (7/6/2026).

Dilansir dari Nasional, Mahfud menjelaskan bahwa militer memiliki tanggung jawab utama dalam pertahanan negara yang menuntut kedisiplinan komando yang ketat serta sifat yang cenderung represif. Namun, karakteristik tersebut dinilai berseberangan dengan peran utama Polri dalam melayani publik secara langsung.

"Gaya militer tuh salah atau enggak? Enggak, tapi tidak cocok untuk Polri," kata Mahfud, Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM.

Ia memaparkan bahwa pemisahan paradigma ini bukan berarti menempatkan satu sistem lebih baik dari yang lain. Penekanan utama terletak pada efektivitas dan kesesuaian tugas masing-masing lembaga dalam struktur tata negara.

"(Militeristik) itu bukan jelek. Nah itu tidak cocok untuk Polri yang tugasnya mengayomi, melayani, melindungi dan sebagainya itu," jelas Mahfud.

Mantan Menko Polhukam tersebut turut mengingatkan agar masyarakat maupun personel kepolisian tidak terburu-buru memberikan sentimen negatif terhadap gaya militer secara umum. Menurutnya, setiap profesi memiliki pakem yang tidak bisa dipaksakan untuk saling bertukar peran.

"Coba baca saja di ilmu tata negara, ya harus represif, harus tegak, disiplin taat pada perintah atasan," tutur Mahfud.

Dalam kesempatan itu, ia mendorong agar Polri memperkuat identitas sebagai polisi sipil atau civilian police. Pendekatan ini menuntut anggota kepolisian untuk tampil sebagai sosok yang transparan, bersahabat, serta mampu membangun kedekatan emosional yang positif dengan warga.

Mahfud menganalogikan citra kepolisian yang ideal sebagai tokoh protagonis yang menjadi rujukan publik, sehingga kehadiran aparat di tengah masyarakat tidak menimbulkan kesan menakutkan.

"Selain itu, perilaku. Nah perilaku tuh banyak sekali, tadi, jangan militeristik, jangan hedonis, jangan memeras, jangan membekingi perjudian, jangan macam-macamlah yang jelek-jelek itu flexing-flexing dan macam-macam itu," ucap Mahfud.

Artikel terkait

Rekomendasi