Jemaat Gereja Katedral Jakarta memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus pada Kamis (14/5/2026) dengan menekankan pesan keberanian untuk menyuarakan kebenaran di tengah masyarakat. Momentum keagamaan ini menjadi pengingat bagi umat untuk meneladani sikap konsisten dalam menghadapi berbagai dinamika sosial saat ini.
Dilansir dari Megapolitan, salah satu jemaat bernama Redemptus Risky menjelaskan bahwa periode 40 hari setelah kebangkitan merupakan masa penting bagi Yesus dalam memantapkan ajaran kepada para murid-Nya. Hal tersebut dianggap sebagai beban tanggung jawab moral bagi umat untuk mengikuti ketegasan Yesus, terutama saat menghadapi situasi sulit atau pengadilan.
Risky berpendapat bahwa keberanian dalam berbicara jujur tanpa keraguan merupakan poin utama yang harus diimplementasikan oleh setiap pengikut-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
"Dia (Yesus) selalu menjawab dengan kebenaran tanpa ragu-ragu walaupun dia (Yesus) tahu apa dampak dari kebenaran yang disampaikan. Dia tetap mengutarakan apa yang menurut dia benar gitu menurut saya teladan itu yang teladan-teladan itu yang perlu saya ikuti, bicara tentang kebenaran," ucap Riski di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (14/5/2026).
Ia menambahkan bahwa praktik menyampaikan kebenaran adalah bentuk keteladanan yang tetap relevan hingga masa kini. Risky menekankan pentingnya kejujuran sebagai prinsip hidup yang tidak boleh ditinggalkan oleh umat manusia.
"Dia selalu menjawab dengan kebenaran tanpa ragu-ragu walaupun Dia tahu apa dampak dari kebenaran yang disampaikan. Dia tetap mengutarakan apa yang menurut Dia benar gitu menurut saya teladan itu yang teladan-teladan itu yang perlu saya ikuti, bicara tentang kebenaran," ucapnya.
Sementara itu, Esther yang juga merupakan jemaat Katedral memberikan perspektif mengenai pemaknaan karya penebusan secara menyeluruh. Ia menilai peristiwa kenaikan ke surga adalah bukti konkret atas pemenuhan janji Tuhan yang tercantum dalam kitab suci.
"Di luar dari penderitaan di salib, kenaikan-Nya ini menandakan kalau Dia (Yesus) sudah menang, yakni menang lawan dosa dan menang atas maut," ujar Esther.
Dalam kaitan dengan etika sehari-hari, Esther mengingatkan agar pengampunan dosa yang telah diterima tidak disalahgunakan untuk terus melakukan kesalahan. Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan kebaikan sebagai wujud nyata dari rasa syukur atas penebusan tersebut.
"Intinya sih perbuatan baik yang kamu lakukan tidak menyelamatkanmu, tapi cuma Tuhan Yesus yang menyelamatkanmu. Makanya, alasan kenapa kita berbuat baik kepada orang lain itu adalah murni sebagai bentuk ucapan syukur karena kita telah diselamatkan," tutupnya.