Majelis Ulama Indonesia Kota Tangerang bersama sejumlah pemuka agama menegaskan bahwa ibadah kurban dalam perayaan Idul Adha yang jatuh pada 27 Mei 2026 menjadi sarana krusial untuk memperkuat ketakwaan spiritual sekaligus membangun solidaritas sosial antarsesama manusia.
Ketua Komisi Infokom MUI Kota Tangerang Syarif Hidayatullah menyampaikan dimensi sosial kurban tersebut melalui khutbah Jumat yang mengulas ibadah ini sebagai syiar Allah SWT, wujud syukur nikmat iman, serta instrumen pendorong bagi kaum dhuafa agar merasakan kebahagiaan.
"Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." kata Syarif Hidayatullah menyitir Al-Qur'an Surat Al-Hajj ayat 32.
Syarif Hidayatullah menjelaskan bahwa melalui ibadah ini, umat Islam diajak untuk mengikis sifat mementingkan diri sendiri serta menumbuhkan kepedulian yang nyata terhadap lingkungan sekitar, termasuk keluarga dan fakir miskin.
"Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya." ujar Syarif Hidayatullah mengutip Surat An-Nibiaya ayat 94.
Syarif Hidayatullah menekankan pentingnya peningkatan kualitas keimanan serta pemahaman ilmu agama agar ibadah yang dilakukan memenuhi syarat dan rukun yang sah.
"Maka setiap orang yang beribadah tanpa berlandaskan ilmu, ibadahnya akan tertolak, tidak akan diterima." tambah Syarif Hidayatullah mengutip perkataan Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad.
Syarif Hidayatullah juga memaparkan pandangan dari para ulama fikih terdahulu mengenai tujuan utama penyembelihan hewan kurban yang mencakup aspek kedekatan diri kepada pencipta dan kelapangan bagi fakir miskin.
"Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada Hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban)." tutur Syarif Hidayatullah menyampaikan hadis riwayat Tirmidzi.
Syarif Hidayatullah kemudian menjelaskan pandangan Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mengenai hikmah kurban.
"Tujuan ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, dan memberi kelapangan kepada keluarga serta orang-orang fakir." jelas Syarif Hidayatullah.
Sementara itu, makna kurban dalam kehidupan sehari-hari juga disiarkan oleh Ustaz H. Kusnan dalam program Mutiara Pagi RRI Madiun pada Rabu, 20 Mei 2026, yang menekankan keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah dengan penuh keimanan.
"Idul Adha mengajarkan kepada kita arti pengorbanan yang sesungguhnya. Nabi Ibrahim AS menunjukkan ketaatan luar biasa ketika diperintahkan Allah SWT untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Dari kisah itu, kita belajar tentang keikhlasan dan kepasrahan kepada kehendak Allah," ujar Ustaz Kusnan.
Ustaz Kusnan menerangkan relevansi nilai Idul Adha seperti sikap rela berbagi, mendahulukan kepentingan bersama, serta merujuk pada firman Allah mengenai kabar gembira atas kelahiran Nabi Ishaq AS setelah ujian keimanan tersebut terlampaui.
"Makna terbesar Idul Adha bukan hanya berkurban hewan, tetapi bagaimana manusia mampu mengorbankan sifat egois, keserakahan, dan rasa mementingkan diri sendiri demi kebaikan bersama," tambah Ustaz Kusnan.
Di sisi lain, Kemenag Jabar melalui teks khutbah yang ditulis oleh Abu Cecen A. Khusaeri memberikan perspektif mengenai hikmah Idul Adha dalam membina kelangsungan keluarga agar sehat serta terhindar dari stunting dan kemiskinan dengan mencontoh keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS.
"Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian, dan barangsiapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." tulis Abu Cecen mengutip Surat Al-Mumtahanah ayat 6.
Abu Cecen menambahkan bahwa kecerdasan intelektual dan kepribadian matang Nabi Ismail AS terlihat ketika merespons pertanyaan Nabi Ibrahim AS mengenai perintah penyembelihan melalui mimpi.
"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" kata Abu Cecen menirukan dialog Nabi Ibrahim dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102.
Dialog tersebut kemudian dijawab oleh Nabi Ismail AS dengan penuh kesiapan dan kepasrahan atas segala konsekuensi perintah Allah SWT.
"duhai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu." ujar Abu Cecen mengutip jawaban Nabi Ismail.
Abu Cecen mengagumi tingkat kecerdasan Nabi Ismail AS di atas rata-rata yang meyakini kebenaran perintah tersebut dan berjanji untuk bersikap sabar.
"Insya Allah ayahanda akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." lanjut Abu Cecen menyitir kelanjutan ayat tersebut.
Melalui teks khutbahnya, Abu Cecen mengingatkan perintah Allah agar umat Islam merasa khawatir jika meninggalkan keturunan yang lemah dalam hal ekonomi, iman, akhlak, pengetahuan, maupun fisik.
"Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya)." tegas Abu Cecen mengutip Surat An-Nisa ayat 9.
Pembahasan mengenai hikmah Idul Adha juga dikaji dalam pengajian rutin Muslimah bulanan PRA Ranting Kembaran Kabupaten Banyumas pada Selasa, 19 Mei 2026 di kediaman Darmawan yang menghadirkan narasumber Ustadzah Dr. Nur Isnaini untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan semangat amar makruf nahi mungkar.