Skema penyaluran daging kurban di Masjid Istiqlal mengalami transformasi signifikan pada tahun 2026. Pengelola masjid negara ini tidak lagi menerapkan pembagian langsung kepada individu di lokasi masjid untuk menghindari kerumunan massal.
Seperti dikutip dari Suara, manajemen distribusi kini beralih menggunakan sistem berbasis data yang dinamakan "By Name By Address". Pendekatan baru ini diterapkan agar penyaluran hewan kurban menjadi lebih aman, transparan, dan tepat sasaran.
Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa pihaknya memutuskan mengubah skema distribusi. Tahun ini (1447 H/2026 M), tidak ada lagi pembagian langsung kepada individu di lokasi masjid.
Langkah ini diambil berkaca pada pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, di mana antrean panjang menggunakan kupon sering memicu ketidaktertiban. Berdesak-desakannya warga hingga mengalami pingsan dinilai tidak sejalan dengan kesucian momentum Idul Adha.
Sistem "By Name By Address" bekerja dengan mendata identitas lengkap dan lokasi para penerima manfaat, baik perorangan maupun lembaga. Metode ini mengadopsi prinsip penyaluran bantuan sosial milik pemerintah guna mencegah terjadinya duplikasi data penerima.
Prosedur distribusi diawali dengan pengajuan proposal dari berbagai lembaga sosial di wilayah Jabodetabek, seperti panti asuhan, pondok pesantren, dan yayasan pendidikan Islam. Panitia kurban kemudian melakukan verifikasi lapangan secara ketat sebelum menyetujui permohonan tersebut.
Setelah proses penyembelihan yang memenuhi standar kesehatan, daging kurban dikemas secara rinci. Petugas lalu mengirimkan paket daging tersebut langsung ke alamat lembaga pemohon atau melalui masjid-masjid kecil binaan Istiqlal.
Manfaat dan Tantangan Pengelolaan
Penerapan akuntabilitas berbasis data ini membuat setiap kilogram daging yang keluar dapat ditelusuri secara jelas. Selain meningkatkan efisiensi logistik, model penyaluran ini memastikan kelompok rentan mendapatkan haknya tanpa perlu mengantre.
Kendati demikian, pembaruan sistem ini menghadapi tantangan berupa kebutuhan pemutakhiran data yang konstan demi menghindari validasi lembaga fiktif. Pengelola berkomitmen meningkatkan kerja sama dengan pemerintah daerah demi akurasi data.
Masjid Istiqlal memproyeksikan pengembangan sistem ini ke arah digitalisasi melalui aplikasi pelacakan pada masa mendatang. Langkah tersebut diharapkan dapat mempermudah para donatur untuk memantau langsung penyaluran hewan kurban mereka.