Ibadah haji musim penyeberangan tahun 2026 menghadirkan kisah luar biasa dari seorang warga Jawa Timur. Perempuan lanjut usia asal Kediri bernama Mbah Marsiyah tercatat menjadi jemaah dengan umur paling sepuh di dunia pada pelaksanaan rukun Islam kelima tahun ini.
Seperti dikutip dari Detikcom, kepastian mengenai status Mbah Marsiyah sebagai jemaah tertua di dunia pada musim haji 1447 H ini mengacu pada laporan Arab News (30/5/2026). Nenek yang telah menginjak usia 104 tahun tersebut merupakan bagian dari 221.000 jemaah kuota Indonesia.
Mbah Marsiyah tergabung dalam kelompok terbang Kloter SUB 112 Embarkasi Surabaya. Rombongan ini dilaporkan telah mendarat di kota suci Makkah pada Jumat (22/5/2026) pagi waktu setempat.
Perjuangan Mbah Marsiyah untuk berangkat ke Tanah Suci membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ia mulai mendaftarkan diri pada tahun 2021 setelah mengumpulkan dana selama bertahun-tahun dari hasil berdagang jenang.
Keuntungan dari hasil berniaga tersebut ia sisihkan secara konsisten dan disimpan di dalam wadah kaleng. Ketika tabungan tersebut masih belum mencukupi untuk melunasi biaya keberangkatan, sang anak ikut membantu menutup kekurangannya.
"Anu ya menabung, saya kan jualan jenang. Saya menabung sedikit-sedikit begitu, saya masukkan kaleng lalu saya simpan. Nanti kalau ada kurangnya, ditambahkan anak saya," tutur Mbah Marsiyah kepada tim Media Center Haji, Jumat (22/5/2026).
Perempuan yang lahir pada 1 Juli 1921 ini masih sanggup melangkah perlahan menggunakan bantuan tongkat. Meski demikian, demi kelancaran dan keamanan selama menjalani ibadah di Tanah Suci, ia lebih sering menggunakan fasilitas kursi roda.
Perjalanan spiritual ini tidak ia lakukan sendirian. Mbah Marsiyah didampingi oleh putri kandungnya, Muidah, yang saat ini telah menginjak usia 67 tahun.
Kesehatan fisik perempuan berusia di atas satu abad ini dikabarkan berada dalam tingkat yang prima. Kepala Kloter 112 Embarkasi Surabaya, Abiswatun Nadhiroh, menegaskan bahwa Mbah Marsiyah siap mengikuti seluruh tahapan ibadah haji.
Saat mendapat pertanyaan mengenai status kesehatannya dari petugas di lapangan, jemaah tertua ini memberikan jawaban yang ringkas.
"Saya ndak pernah sakit," ujar Mbah Marsiyah.
Walaupun mobilitasnya bertumpu pada alat bantu kursi roda, kesiapan fisik serta mental jemaah asal Kediri ini dinilai sangat baik oleh petugas kloter.
Menjelang puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah yang menguras energi, kondisi psikologis dan jasmani Mbah Marsiyah dilaporkan tidak mengalami kendala.
"Alhamdulillah, atiku marem (hatiku senang)," ujar Mbah Marsiyah kepada Media Center Haji, Senin (25/5/2026).