Momen kelulusan atau wisuda menjadi puncak perjalanan akademik yang paling dinantikan oleh setiap mahasiswa. Dalam upacara sakral tersebut, baju toga lengkap dengan topi persegi menjadi atribut wajib yang harus dikenakan.
Pakaian longgar berwarna hitam ini diakui secara universal sebagai simbol pencapaian akademik tertinggi. Dilansir dari Medcom, jubah ini menyimpan filosofi mendalam dan sejarah ribuan tahun yang menandai transisi penuntut ilmu menjadi sarjana.
Kata toga berasal dari bahasa Latin "tego" yang memiliki arti penutup. Sejarawan mengungkapkan bahwa pakaian ini pertama kali muncul di era Romawi Kuno pada abad ke-1 Masehi sebagai busana harian formal warga negara.
Kain wol sepanjang 3,7 hingga 6 meter dililitkan ke tubuh di atas tunik dengan lipatan rapi. Bagi masyarakat Romawi Kuno, busana ini menjadi satu-satunya pakaian yang dianggap pantas dan terhormat untuk beraktivitas di luar rumah.
Warna dan corak pakaian ini juga menentukan status sosial pemakainya. Toga Virilis berwarna putih polos dipakai pria dewasa sebagai simbol hak sipil, sedangkan Toga Praetexta dengan garis ungu dipakai oleh pejabat tinggi.
Ada juga Toga Pulla yang berwarna gelap untuk masa berkabung. Sementara itu, Toga Candida yang berwarna putih bersih bersinar digunakan oleh calon pejabat publik sebagai simbol integritas.
Fungsi pakaian ini bergeser pada abad pertengahan sekitar abad ke-12 hingga ke-13 ke lingkungan akademik Eropa. Universitas awal seperti Universitas Bologna dan Universitas Paris mulai mengadopsi jubah panjang ini untuk pengajar dan sarjana.
Penggunaan jubah wol tebal ini awalnya dipicu alasan praktis karena gedung universitas saat itu dingin dan tidak memiliki pemanas. Universitas Oxford dan Universitas Cambridge kemudian meresmikan jubah ini sebagai pakaian wajib wisuda pada tahun 1321.
Filosofi Warna Hitam dan Topi Persegi
Setiap elemen pada baju toga modern memiliki makna simbolis. Warna hitam pada kain melambangkan keagungan, ketegasan, sekaligus simbol kegelapan dari ketidaktahuan yang berhasil ditundukkan melalui ilmu pengetahuan.
Topi wisuda persegi datar atau mortarboard juga memiliki dua landasan filosofis. Bagian datar topi merepresentasikan meja belajar tempat mahasiswa membaca dan merenungkan teori ilmiah selama kuliah.
Sudut tajam pada topi menuntut para lulusan untuk berpikir rasional dan terstruktur. Bentuk persegi ini mengajarkan sarjana agar memandang setiap permasalahan dari berbagai sudut pandang secara objektif.
Makna Prosesi Pemindahan Tali Toga
Prosesi pemindahan tali rumbai atau tassel dari kiri ke kanan oleh rektor menjadi momen paling sakral. Pemindahan ini menyimbolkan transformasi dari dominasi teori otak kiri menuju kreativitas otak kanan di dunia nyata.
Sarjana diharapkan tidak hanya menimbun teori, tetapi juga mampu melahirkan inovasi dan menciptakan lapangan kerja. Selain itu, tali toga juga diibaratkan sebagai pita pembatas buku kehidupan.
Dipindahkannya tali tersebut menandakan bab pembelajaran akademik telah selesai ditutup. Para wisudawan kini resmi membuka lembaran baru di dunia profesional dan dituntut menjadi pembelajar sepanjang hayat.