Abu Nawas dikenal luas sebagai sosok yang cerdas dan penuh humor, namun tetap memiliki sisi religius yang mendalam. Seperti dilansir dari Detikcom, ia tercatat sebagai salah satu penyair terbesar dalam sejarah sastra Arab klasik.
Perjalanan hidup tokoh legendaris ini dimulai dari kesederhanaan hingga akhirnya menjadi penyair kesayangan di lingkungan istana. Kehidupannya yang penuh warna memberikan banyak pelajaran berharga bagi generasi setelahnya.
Nama lengkap tokoh ini adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani' al-Hakami. Berdasarkan buku Abu Nawas: Sufi dan Penyair Ulung yang Jenaka karya Muhammad Ali Fakih, ia merupakan seniman multitalenta yang sangat tersohor.
Julukan Abu Nawas sendiri diperoleh saat ia masih remaja di Basrah, Irak Selatan. Nama tersebut diberikan karena ciri fisik rambutnya yang ikal dan panjang hingga menyentuh bahu.
Ia lahir di Provinsi Ahwaz, wilayah Khuzistan, Persia, sekitar tahun 757 Masehi. Meski terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai tahun kelahirannya, para pemerhati sepakat bahwa ia wafat pada usia 59 tahun.
Kematiannya diperkirakan terjadi pada tahun 814 atau 815, tepat setelah wafatnya Khalifah Muhammad al-Amin. Sang ibu, Jullaban, merupakan keturunan Persia yang bekerja sebagai penjahit dan pencuci kain wol.
Ayahnya, Hani' bin Abdul Awwal, adalah seorang tentara pada masa pemerintahan Khalifah Umayyah terakhir, Marwan II. Hani' memiliki darah Arab yang berasal dari suku Jizani, Bani Hakam.
Pendidikan dan Bakat Sastra yang Menonjol
Setelah ayahnya wafat, Abu Nawas dibawa ibunya ke Kota Basrah dan dititipkan kepada seseorang bernama Attar. Di bawah asuhan Attar, ia mendapatkan perawatan yang baik dan mendapatkan pendidikan di sekolah Al-Qur'an.
Kecerdasannya yang luar biasa membuat Abu Nawas berhasil menjadi penghafal Al-Qur'an pada usia dini. Pemahaman mendalam terhadap kitab suci ini kemudian tercermin secara konsisten dalam puisi-puisi zuhdiyat yang ia tulis.
Bakat dan ketampanannya menarik perhatian seorang penyair Kufah bernama Abu Usamah Walibah bin al-Hubah al-Asadi. Walibah kemudian mengangkatnya sebagai murid dan melatihnya dalam seni berpuisi yang tajam serta jenaka.
Karier sastranya melonjak pesat setelah kecerdasannya menarik minat Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui perantara musikus istana Ishaq al-Wawsuli, ia akhirnya diangkat menjadi penyair resmi di lingkungan istana.
Selain bertugas membuat puji-pujian untuk khalifah, ia juga dikenal sebagai pribadi yang jujur meski gemar berseloroh. Namanya bahkan diabadikan dalam kumpulan dongeng klasik 1001 Malam.
Penyesalan dan Kecerdasan dalam Berlogika
Menjelang akhir hayatnya, Abu Nawas meninggalkan syair yang sangat masyhur berisi ungkapan penyesalan atas masa lalu. Syair tersebut menggambarkan sisi spiritualitasnya yang kuat.
"Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa lagi Maha Agung"
Kecerdikan logika Abu Nawas juga sering terlihat dalam interaksi sehari-hari. Dalam sebuah kisah, ia pernah ditanya oleh seseorang mengenai kapan waktu kematiannya.
Orang tersebut bermaksud menitipkan surat untuk mendiang ayahnya jika Abu Nawas meninggal kelak. Namun, Abu Nawas menolak permintaan tersebut dengan alasan yang tak terduga.
"Sebab aku tak tahu jalan ke neraka Jahannam."
Jawaban yang menohok tersebut membuat penanya terdiam dan segera pergi. Hal ini menunjukkan kepiawaian Abu Nawas dalam membalas pertanyaan yang tidak menyenangkan dengan logika yang cerdas.