Menkomdigi Sebut Pesantren Garda Terdepan Tangkal Radikalisasi Gim Daring

Menkomdigi Sebut Pesantren Garda Terdepan Tangkal Radikalisasi Gim Daring

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan pentingnya peran pondok pesantren dalam memproteksi anak-anak dari risiko kejahatan siber dan penyebaran paham radikalisasi melalui media gim daring. Penegasan tersebut disampaikan Meutya saat melakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Qomarul Huda, Lombok Tengah, pada Selasa.

Dilansir dari Cahaya, temuan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan adanya ancaman nyata berupa infiltrasi radikalisme yang menyasar generasi muda dengan memanfaatkan kamuflase permainan daring. Meutya menyebut fenomena ini sebagai ancaman serius yang tengah terjadi saat ini.

"Anak-anak sedang dijadikan target. Ini bukan lagi ancaman hipotetis, melainkan bahaya yang sudah terjadi di depan mata. Pesantren harus menjadi garda terdepan yang tangguh melindungi generasi muda," kata Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital.

Pemerintah menargetkan pesantren sebagai mitra strategis untuk mengedukasi masyarakat mengenai risiko ruang digital sekaligus mengajarkan penggunaan teknologi secara positif. Sinergi ini diharapkan mampu membekali santri agar tetap aman di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Selain melalui kolaborasi sosial, langkah perlindungan formal telah diperkuat lewat pengesahan Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2025. Regulasi mengenai Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas ini telah diberlakukan secara efektif sejak 28 Maret 2026.

Aturan tersebut mengatur secara ketat mengenai batas usia pengguna platform digital sebagai upaya pendisiplinan demi keamanan anak di dunia maya.

"Usia 16 tahun adalah batas yang lebih matang untuk memilah mana yang baik dan mana yang berbahaya. Aturan ini harus ditaati secara konsisten, tanpa kompromi. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak bebas mengakses platform yang tidak sesuai usia," ujar Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital.

Dalam kesempatan tersebut, Menkomdigi juga mendorong kalangan mahasiswa untuk mengambil peran sebagai duta literasi digital bagi lingkungan sekitarnya. Keterlibatan aktif generasi muda dianggap krusial untuk menciptakan ekosistem digital Indonesia yang produktif, aman, dan bermartabat bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Sampaikan kepada adik-adik dan masyarakat bahwa kita harus bersama-sama menjaga ruang digital agar tetap aman dan bermartabat," tutup Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital.

Artikel terkait

Rekomendasi