Mentalitas Politik Donald Trump Dinilai Perumit Konflik Amerika-Iran

Mentalitas Politik Donald Trump Dinilai Perumit Konflik Amerika-Iran

Gaya kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengutamakan kemenangan mutlak tanpa kompromi dinilai menjadi faktor utama yang memengaruhi kebijakan Washington dalam konflik dengan Iran pada Mei 2026. Pendekatan politik tersebut memicu kekhawatiran global terhadap prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Analisis yang disusun oleh Jafar M Sidik menyebutkan bahwa Trump menerapkan konsep pemenang mengambil semuanya dalam memandang konstelasi politik. Berdasarkan laporan The Independent, presiden tersebut tercatat telah mengklaim kemenangan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran sedikitnya 12 kali dalam periode 7 Maret hingga 5 Mei 2026.

Trump juga dipandang memegang teguh teori permainan zero-sum, di mana keberhasilan satu pihak harus disertai kekalahan total pihak lawan. Karakteristik ini terlihat dari rekam jejaknya yang tetap mengejar jabatan kepresidenan meski sempat mengalami kekalahan pada pemilihan periode sebelumnya.

Mantan Menteri Perburuhan Amerika Serikat, Robert Reich, dalam opininya di media The Guardian pada 8 Mei, menyoroti penolakan Trump terhadap kekalahan yang dianggap sebagai pengalaman menyakitkan.

"Negara-negara yang mematuhi AS dengan memberlakukan sanksi terhadap Republik Islam Iran pasti akan menghadapi kesulitan menyeberangi selat tersebut," kata pejabat militer Iran sebagaimana dilansir dari pantau.com.

Sikap keras kepala dalam strategi perang tersebut mendapat tentangan dari berbagai pemimpin dunia. Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik tajam dengan menyebut Iran telah memberikan rasa malu bagi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump.

Merz menyatakan bahwa Trump tidak memiliki arah strategi yang terang dalam mengelola peperangan. Selain itu, pemimpin Jerman tersebut menilai Washington sejauh ini belum menawarkan solusi atau jalan keluar konkret untuk mengakhiri ketegangan bersenjata.

Di sisi lain, Paus Leo XIV secara tegas menolak segala bentuk pengaitan unsur agama dalam konflik yang melibatkan Iran tersebut. Pendekatan Trump yang terlalu fokus pada ambisi kemenangan politik diprediksi akan memperlama durasi konflik dan menyulitkan diplomasi internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi