Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan jajarannya untuk berkoordinasi dengan kepolisian guna menindaklanjuti dugaan penyelundupan bawang merah ilegal asal Thailand di wilayah Sumatera Utara pada Rabu (6/5/2026).
Laporan tersebut diterima Amran saat menggelar dialog interaktif mengenai tata kelola pangan bersama ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kediamannya, kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, sebagaimana dilansir dari Money.
Ketua BEM Universitas Sumatera Utara (USU), Muzammil Ihsan, menyampaikan bahwa peredaran bawang ilegal telah memicu aksi unjuk rasa petani lokal karena merusak harga pasar. Selain masalah impor, mahasiswa juga melaporkan adanya kelangkaan pupuk di Kabupaten Bima, NTB.
"Ada juga mahasiswa tadi bawang ilegal dari Sumatera Utara," kata Amran, Menteri Pertanian.
Merespons laporan mengenai hambatan distribusi pupuk di daerah, Mentan menegaskan telah mengambil langkah tegas terhadap perusahaan yang diduga menjadi penyebab masalah tersebut melalui sistem pemantauan daring.
"Dicopot, dicopot tadi sudah dicopot (izinnya). Cuma sepuluh menit dicopot karena online. Dan itu diproses hukum," ujar Amran, Menteri Pertanian.
Dalam pertemuan tersebut, Amran menjelaskan berbagai program strategis pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis serta optimalisasi Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih sebagai penyerap hasil produksi petani lokal.
"Saya salut pada BEM mahasiswa yang hadir pada hari ini, cukup kritis tapi konstruktif. Bukan fitnah, kritis tapi konstruktif," tutur Amran, Menteri Pertanian.
Pemerintah menyatakan keterbukaan terhadap kritik yang didasari oleh fakta lapangan guna memperbaiki kebijakan sektor pertanian dan memperkuat kolaborasi antarberbagai elemen masyarakat.
"Kita tunjukkan pakai data, bukan opini, bukan untuk pencitraan, tapi kita tunjukkan apa adanya," tutur Amran, Menteri Pertanian.