Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf mengevaluasi pelaksanaan kerja sama kesehatan jemaah haji Indonesia di Saudi German Hospital, Madinah, pada Jumat (5/6/2026). Langkah ini diambil guna mendongkrak kualitas pelayanan medis melalui penguatan sinergi bersama rumah sakit di Arab Saudi, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Pria yang akrab disapa Gus Irfan tersebut meninjau langsung kondisi para jemaah yang sedang menjalani perawatan intensif. Kolaborasi perdana pada musim haji tahun ini diakui sangat membantu penanganan medis, meskipun evaluasi total tetap harus dilakukan pada beberapa aspek operasional.
Masalah komunikasi dan koordinasi menjadi poin utama yang disoroti dalam pelaksanaan program awal tersebut. Gus Irfan memproyeksikan perbaikan menyeluruh demi kelancaran proses rujukan hingga pemulangan pasien ke tanah air.
"Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah komunikasi dan koordinasi dalam pelaksanaan kerja sama ini. Karena baru pertama kali dilakukan, tentu ada sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, termasuk terkait proses rujukan pasien dan kepastian waktu pemulangan mereka," ujar Gus Irfan, Menteri Haji dan Umrah RI.
Kendala komunikasi pada tahun pertama ini dipastikan tidak akan menyurutkan program kolaborasi yang telah berjalan. Pemerintah berkomitmen mempertegas dan memperluas jaringan kemitraan ini di masa mendatang agar manfaatnya lebih nyata bagi jemaah.
"Kami ingin kerja sama ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar sehingga pelayanan kesehatan bagi jemaah Indonesia semakin optimal," tegas Gus Irfan, Menteri Haji dan Umrah RI.
Selain masalah manajemen rumah sakit, regulasi perpindahan pasien kritis yang mendekati fase pemulangan juga menjadi perhatian khusus. Gus Irfan mengingatkan jajarannya agar perpindahan pasien dari Makkah ke Madinah harus didasarkan pada asas manfaat yang konkret.
Kebijakan tersebut diambil karena pemindahan jemaah yang sekadar berpindah kamar tanpa bisa melaksanakan ibadah dinilai tidak efektif bagi pemulihan psikologis mereka. Pelayanan haji diharapkan tetap peka terhadap aspek spiritual jemaah yang sedang sakit.
"Kami membahas apakah jemaah yang sedang dirawat perlu dipindahkan ke Madinah atau tidak. Jika di Madinah mereka tetap berada di rumah sakit dan tidak dapat menjalankan aktivitas ibadah, maka yang lebih penting adalah memastikan proses perawatan dan pemulihan berjalan dengan baik," urai Gus Irfan, Menteri Haji dan Umrah RI.
Menteri Haji dan Umrah memastikan bahwa kebijakan pemindahan ini tidak akan disamaratakan untuk seluruh pasien. Keputusan medis bakal diambil secara kasuistik berdasarkan rekomendasi berkala dari tim dokter yang memantau kondisi pasien di lapangan.
"Tergantung kondisi masing-masing. Jika memungkinkan akan dipindahkan ke Madinah. Namun jika belum memungkinkan, maka mereka tetap menjalani perawatan sampai benar-benar siap untuk melanjutkan perjalanan atau dipulangkan," tambah Gus Irfan, Menteri Haji dan Umrah RI.