Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memantau langsung ketersediaan material baja dalam pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II di Desa Jeulikat, Kota Lhokseumawe, Aceh, pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini diambil guna memastikan proyek selesai tepat waktu.
Dilansir dari Kompas, pengerjaan fisik kawasan pendidikan terpadu ini telah menyentuh angka 54,64 persen. Capaian tersebut melampaui target awal sebesar 51,84 persen, sehingga terdapat deviasi positif sebesar 2,79 persen dari rencana semula.
Dody Hanggodo memberikan perhatian khusus pada pengelolaan logistik karena material baja menjadi komponen vital dalam struktur bangunan tersebut agar target rampung pada 20 Juni 2026 tercapai.
"Baja itu kan sekarang jadi konsep utama, jadi perlu diperhatikan. Tapi kalau di sini tadi katanya aman," ujar Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum (PU).
Proyek senilai Rp 262,3 miliar ini dibiayai oleh APBN Tahun Anggaran 2025–2026 dan dikerjakan oleh KSO PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Lahan seluas 8,4 hektare tersebut akan mencakup gedung sekolah seluas 26.376 meter persegi.
Menteri PU menegaskan bahwa kehadiran fasilitas pendidikan yang memadai merupakan instrumen penting bagi pemerintah dalam melakukan intervensi sosial bagi masyarakat kelas bawah.
"Negara harus hadir memuliakan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Melalui Sekolah Rakyat ini, kita ingin memastikan akses pendidikan yang layak sehingga kemiskinan ekstrem bisa segera ditekan," kata Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum (PU).
Pihak kontraktor kini menerapkan sistem kerja dua shift untuk mempercepat progres pembangunan. Jumlah tenaga kerja yang saat ini mencapai 705 orang direncanakan bakal ditambah hingga 1.000 orang demi mengejar target penyelesaian bulan depan.
Sekolah Rakyat Lhokseumawe nantinya akan menjadi fasilitas terpadu untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA. Kompleks ini juga akan dilengkapi dengan asrama siswa, lapangan basket, serta lapangan minisoccer guna mendukung kegiatan ekstrakurikuler peserta didik.