Sebuah meteor berukuran besar meledak di atmosfer bumi di atas perbatasan New Hampshire dan Massachusetts, Amerika Serikat, pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 14.06 waktu setempat. Fenomena alam ini memicu gelombang kejut udara serta suara dentuman keras yang terdengar di berbagai wilayah.
Guncangan dan kilatan cahaya terang dilaporkan oleh warga dari Delaware hingga Montreal, sehingga memicu kepanikan massal. Banyak penduduk lokal awalnya mengira peristiwa tersebut merupakan gempa bumi tektonik, sebelum akhirnya pihak berwenang memberikan konfirmasi resmi mengenai kejadian sebenarnya.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) segera merespons laporan masyarakat dengan memeriksa catatan seismograf. Lembaga tersebut memastikan bahwa alat pendeteksi tidak menunjukkan adanya pergerakan lempeng atau aktivitas tektonik di dalam kerak bumi pada saat kejadian.
"Guncangan murni berasal dari gelombang kejut udara, bukan dari pergerakan kerak bumi," penegasan Steve Sobie, Juru bicara USGS.
Laporan visual dan audio dalam jumlah besar juga diterima oleh Organisasi Pengamat Meteor Amerika (AMS). Berdasarkan analisis data yang terkumpul, objek antariksa ini diidentifikasi memiliki dimensi yang jauh lebih besar daripada batuan luar angkasa yang biasa melintasi atmosfer.
"Ini bukan bintang jatuh biasa," kata Robert Lunsford, pemantau AMS.
Petugas pemantau menjelaskan bahwa batuan tersebut hancur menjadi serpihan kecil pada ketinggian sekitar 60 kilometer di atas permukaan bumi. Kecepatan objek saat memasuki atmosfer tercatat mencapai 120.700 kilometer per jam.
"Ukurannya sekitar 0,9 meter—cukup besar untuk menghasilkan ledakan sonik ganda yang terdengar jelas di permukaan," kata Robert Lunsford, pemantau AMS.
Sementara itu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi bahwa benda tersebut merupakan material alami dari luar angkasa. Pengamatan awal memastikan objek itu bukan bagian dari sampah satelit buatan manusia yang jatuh kembali ke bumi.
"Jika ada sisa, kemungkinan besar jatuh ke laut," ujar juru bicara NASA, Allard Beutel.
Hingga saat ini, laporan mengenai kerusakan infrastruktur bangunan ataupun korban cedera akibat peristiwa ini tidak ditemukan oleh otoritas setempat. Para ilmuwan kini memanfaatkan rekaman video dan data suara yang beredar luas di media sosial sebagai materi riset interaksi objek luar angkasa.