Eskalasi bersenjata kembali pecah antara militer Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz pada Senin lalu ketika kedua negara terlibat aksi saling serang di tengah status gencatan senjata yang masih berlaku.
Kondisi keamanan di jalur vital perdagangan energi dunia tersebut dilaporkan kian rapuh setelah Washington melancarkan serangan terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Teheran yang dituding mencoba memasang ranjau. Pihak Iran segera membalas tembakan tersebut, bahkan media pemerintah Teheran melaporkan adanya korban jiwa dalam insiden itu.
Meski situasi di lapangan memanas, Washington memilih merespons dengan sangat hati-hati demi mempertahankan narasi gencatan senjata yang berjalan sejak 8 April lalu. Sikap ini terlihat dari pernyataan resmi Komando Pusat AS (CENTCOM) yang dilansir CNN International pada Rabu (27/5/2026).
"Komando Pusat AS terus mempertahankan pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang masih berlangsung," kata juru bicara CENTCOM.
Pernyataan tersebut mencerminkan pola baru pemerintahan Presiden Donald Trump yang berupaya keras menghindari perang terbuka, meskipun Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim telah menembak jatuh drone AS. Di sisi lain, menteri pertahanan memberikan penegasan bahwa situasi di perairan selatan tersebut belum membatalkan kesepakatan damai.
"Gencatan senjata belum berakhir," ujar Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Hegseth meminta Teheran bertindak bijaksana agar aksi militernya tidak melewati ambang batas eskalasi besar. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Presiden AS Donald Trump yang meremehkan serangan balasan lembaganya demi menjaga kesepakatan politik bilateral.
"Gencatan senjata terus berjalan. Itu masih berlaku," kata Trump kepada ABC News.
Trump menyebut operasi militer AS tersebut hanya sebagai sentuhan ringan, kendati janji pembukaan Selat Hormuz secara penuh yang disepakati sejak 7 April belum terealisasi setelah tujuh minggu berlalu. Tekanan blokade angkatan laut AS di pelabuhan selatan pun sebenarnya masih membebani perekonomian Iran yang sedang mengalami inflasi domestik.
Meski dibayangi ketegangan militer, pasar keuangan di Teheran justru menunjukkan tren positif yang dilansir dari REPUBLIKA.CO.ID. Nilai mata uang riyal menguat lebih dari lima persen dalam sepekan terakhir, sementara Indeks utama Bursa Efek Teheran kembali menembus angka 4 juta poin pada Selasa pagi waktu setempat.