Militer AS Serang Situs Radar Iran di Selat Hormuz

Militer AS Serang Situs Radar Iran di Selat Hormuz

Eskalasi ketegangan baru di Timur Tengah kembali memuncak setelah pasukan militer Amerika Serikat menggempur instalasi radar pemantau pantai milik Iran di kota Goruk, Pulau Qeshm pada Jumat (5/6) waktu setempat.

Aksi ofensif dari Komando Pusat AS atau CENTCOM ini dilakukan segera setelah armada udara mereka melumpuhkan empat unit drone serang satu arah yang diterbangkan oleh pihak Iran menuju kawasan perairan strategis di Selat Hormuz.

Langkah penembakan jatuh pesawat tanpa awak tersebut diambil karena dinilai mengancam keamanan jalur maritim internasional.

"Drone-drone serang itu menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional," kata CENTCOM dalam pernyataannya.

Pihak militer Amerika Serikat menegaskan bahwa tindakan penghancuran fasilitas radar di wilayah selatan Iran tersebut murni sebagai bentuk pertahanan defensif demi memitigasi potensi eskalasi di masa mendatang, dilansir dari AFP.

"mencegah serangan-serangan lebih lanjut" sebut CENTCOM.

Hingga saat ini, otoritas resmi maupun Korps Garda Revolusi Iran masih belum memberikan respons resmi perihal klaim operasi militer yang dirilis oleh Amerika Serikat tersebut.

Kendati demikian, saluran media resmi pemerintah Iran melaporkan adanya aktivitas mencurigakan berupa suara dentuman keras yang terdengar di wilayah Sirik, bagian selatan negara tersebut.

"sejumlah ledakan terdengar" dilaporkan stasiun penyiaran negara Iran, IRIB.

Informasi mengenai dentuman yang terjadi pada Sabtu (6/6) dini hari sekitar pukul 02.30 waktu setempat itu disebarkan tanpa rincian lebih lanjut.

"Tidak ada sumber resmi yang mengomentari asal suara atau detailnya," sebut IRIB dalam laporan via Telegram.

Konflik terbuka antara poros Amerika Serikat-Israel melawan Iran sebenarnya sempat mereda pasca pemberlakuan gencatan senjata sejak 8 April lalu yang diperpanjang oleh Presiden Donald Trump.

Meskipun proses negosiasi perdamaian yang dijembatani oleh Pakistan masih berjalan, kedua belah pihak belakangan ini kerap saling melempar tuduhan terkait pelanggaran kesepakatan damai.

Artikel terkait

Rekomendasi