Seorang anak berinisial M (9) mengalami luka serius setelah diserang oleh seekor monyet liar di Jalan Marunda Empang, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, pada Rabu (20/5/2026). Korban langsung mendapatkan penanganan medis intensif berupa 30 jahitan akibat luka gigitan hewan tersebut, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Insiden tersebut terjadi ketika korban sedang menjaga adiknya di depan rumah. Peristiwa bermula saat M berniat memberikan makanan berupa pisang kepada monyet peliharaan yang dimiliki oleh pihak keluarganya.
Nenek korban, Badriah, menjelaskan bahwa seekor monyet liar tiba-tiba muncul dari arah belakang dan langsung melancarkan serangan kepada cucunya.
“Pas dia lagi kasih, tahu-tahunya tuh dari belakang udah ditubruk aja sama dia (monyet liar). Dia jerit-jeritan, ‘Nek, Nek, Nek, tolongin!’” ujar Badriah.
Mendengar teriakan minta tolong tersebut, Badriah segera berlari menuju lokasi untuk menyelamatkan cucunya. Namun, ia juga sempat diserang oleh monyet liar itu sebelum akhirnya hewan tersebut melarikan diri dari tempat kejadian.
“Pas ngelihat, ‘Ya Allah, darah mulu!’ Jadi saya dekap lagi dia, itu darah ngalir aja,” kata Badriah.
Pihak keluarga kemudian bergegas membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat demi mendapatkan pertolongan pertama. Tindakan medis segera dilakukan oleh petugas kesehatan karena kondisi luka yang cukup parah.
“Di puskesmas tuh dijahit sampai 30 jahitan,” ucap Badriah.
Badriah menambahkan bahwa primata liar tersebut diketahui telah berkeliaran di area permukiman warga setempat selama kurang lebih sepekan terakhir. Hewan tersebut bahkan sempat memunculkan diri kembali di lokasi tidak lama sebelum kedatangan jurnalis pada Kamis (21/5/2026).
“Setiap hari emang datang,” ujar Badriah.
Keberadaan satwa liar yang belum ditangkap ini memicu kecemasan mendalam bagi masyarakat sekitar. Warga mengkhawatirkan keselamatan anak-anak mereka yang kerap menghabiskan waktu dengan bermain di luar lingkungan rumah.
“Anak-anak yang biasa pada main di luar, enggak berani,” kata Badriah.
Keresahan serupa turut disampaikan oleh warga lain bernama Neneng Nur Aeni. Muncul dugaan bahwa primata tersebut lepas dari kawasan Tarumajaya, menyusul adanya kabar mengenai insiden serangan serupa di wilayah koridor tersebut sebelumnya.
“Enggak tahu itu katanya monyet ada tujuh, tapi kan larinya ke mana kita enggak tahu. Pas kemari-mari itu, jangan-jangan monyet dari sana,” ujar Neneng.
Neneng menegaskan situasi ini merupakan hal baru bagi komunitas lokal karena wilayah Marunda dikenal aman dari gangguan satwa liar selama bertahun-tahun.
“Dari dulu tuh aman, nggak pernah ada rusuh monyet gini, baru-baru tahun inilah,” kata Neneng.
Oleh karena itu, warga sangat mengharapkan tindakan cepat dari pihak berwenang guna mengamankan lingkungan. Petugas diharapkan segera melakukan penangkapan terhadap monyet liar itu demi mencegah timbulnya korban baru.
“Harusnya ada penjagaan yang lebih ekstra lah gitu. Supaya jangan terjadi sama anak-anak lain lagi,” tambah Neneng.