PT MRT Jakarta (Perseroda) menerapkan sistem terowongan bertingkat untuk mengatasi keterbatasan lahan pada pembangunan jalur Fase 2A rute Bundaran HI hingga Kota. Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, mengonfirmasi kendala tersebut saat meninjau lokasi proyek di kawasan Harmoni pada Selasa (12/5/2026).
Perbedaan signifikan terlihat antara pembangunan fase kedua ini dibandingkan dengan fase pertama sebelumnya. Dilansir dari Nasional, penyempitan area jalan dari wilayah Harmoni menuju Kota menjadi faktor utama yang memengaruhi metode konstruksi di lapangan.
"Area yang kita hadapi yang kita bangun ini mulai dari Harmoni sampai dengan Kota itu relatif sempit, tidak selalu lebar," kata Tuhiyat, Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda).
Pihak pengelola menyiasati kondisi geografis tersebut dengan memperdalam struktur area bawah tanah. Langkah teknis ini diambil agar operasional kereta tetap berjalan optimal meski berada di koridor yang padat dan sempit.
"Sehingga konsekuensinya mulai dari Harmoni, tunnel yang tadinya kanan-kiri menjadi atas-bawah. Ini yang kita namakan stack tunnel. Oleh karena itu, kedalamannya menjadi lebih dalam. Kalau biasanya 17–18 meter, ini menjadi 28 meter di bawah karena atas-bawah," ujar Tuhiyat, Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda).
Kondisi geologis berupa struktur tanah yang cenderung lunak juga menuntut dilakukannya perbaikan tanah atau soil improvement. Selain masalah teknis tanah, keberadaan objek diduga cagar budaya di sepanjang jalur bawah tanah menjadi perhatian serius tim pengembang.
"Kita tidak bisa sembarangan karena menghadapi cagar budaya yang luar biasa di bawah, sehingga harus bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan tim ahli cagar budaya untuk mengambil beberapa peninggalan yang harus dilestarikan dan diamankan," ucap Tuhiyat, Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda).
Data per akhir April menunjukkan progres fisik proyek MRT fase 2 secara menyeluruh telah mencapai angka 60 persen. Khusus untuk pengerjaan jalur dari Bundaran HI hingga Harmoni, capaian pembangunannya tercatat sudah menyentuh 92,5 persen.
"Mudah-mudahan sampai dengan akhir tahun ini mendekati 100 persen untuk Bundaran HI sampai dengan Harmoni," ujar Tuhiyat, Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda).
Target operasional rute dari Bundaran HI hingga Monas diproyeksikan mulai berjalan pada pengujung tahun 2027. Sebelum dibuka untuk masyarakat umum, serangkaian uji coba akan dilakukan untuk memastikan aspek keamanan moda transportasi tersebut.
"Akhir tahun depan itu sudah kita operasikan dan mungkin pertengahan tahunnya itu kita akan melakukan trial dulu sebelum untuk publik di akhir tahun," kata Tuhiyat, Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda).
Penyelesaian proyek secara utuh hingga mencapai Stasiun Kota ditargetkan dapat terealisasi pada tahun 2029 mendatang. Jeda waktu pengoperasian antarstasiun ini disesuaikan dengan tingkat kerumitan konstruksi di setiap titik pemberhentian.
"Kemudian dua tahun kemudian setelah beroperasinya Bundaran HI–Monas dilanjutkan Bundaran HI sampai dengan Kota," ucap Tuhiyat, Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda).