MUI Imbau Jemaah Haji Indonesia Tak Paksakan Lempar Jumrah Waktu Afdal

MUI Imbau Jemaah Haji Indonesia Tak Paksakan Lempar Jumrah Waktu Afdal

Rangkaian puncak ibadah haji di Tanah Suci yang meliputi wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga lempar jumrah di Mina mulai berlangsung. Keselamatan para jemaah kini menjadi fokus utama pihak penyelenggara di tengah kondisi padat dan cuaca panas ekstrem di area Jamarat, seperti dilansir dari Cahaya.

Jemaah haji asal Indonesia diminta untuk tidak memaksakan diri mengejar waktu afdal ketika melakukan lempar jumrah pada Hari Tasyriq. Langkah preventif ini disosialisasikan guna menekan risiko kelelahan akut serta menghindari penumpukan massa yang berpotensi memicu bahaya.

Musyrif Diny, Asrorun Niam Sholeh, memberikan penegasan bahwa ritual lempar jumrah pada Hari Tasyriq secara hukum syariat sudah sah apabila dikerjakan sejak selesai Salat Subuh.

"Meski waktu afdal adalah setelah tergelincir matahari (zuhur), itu adalah waktu yang sangat padat dan panas. Karena itu, lebih baik mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh maktab dan syarikah demi keselamatan dan kenyamanan jemaah," kata ulama yang akrab disapa Prof Niam di Makkah, Arab Saudi, Senin (25/5/2026), seperti dilansir dari laman MUI Digital.

Ketua MUI Bidang Fatwa tersebut mengingatkan para jemaah agar tidak memaksakan diri mengejar keutamaan waktu jika kondisi fisik tidak mendukung. Langkah mematuhi jadwal dari maktab dan syarikah dinilai sebagai ikhtiar menjaga keselamatan yang tetap berada dalam koridor syariat.

Faktor kesehatan dan keselamatan jiwa jemaah harus menjadi prioritas paling utama sepanjang pelaksanaan ibadah di Mina dan Jamarat.

Selain memberikan imbauan mengenai waktu pelaksanaaan jumrah, Prof Niam mengapresiasi pembenahan skema pergerakan jemaah setelah menjalani Wukuf di Arafah. Sistem baru ini diterapkan sebagai hasil evaluasi dari penyelenggaraan sebelumnya dengan mengutamakan aspek syariah sekaligus keselamatan jiwa.

Mekanisme pergerakan tersebut membagi jemaah haji ke dalam tiga kelompok utama.

Kelompok pertama mulai diberangkatkan dari Arafah menuju Muzdalifah pada pukul 19.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Jemaah pada kelompok ini turun untuk mabit di Muzdalifah sampai melewati tengah malam, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina menggunakan bus.

Kelompok kedua mulai bergerak pada pukul 23.00 WAS. Mengingat kedatangan di Muzdalifah terjadi setelah melewati tengah malam, kelompok ini menerapkan sistem mabit murur atau mabit di atas bus sebelum bertolak ke Mina.

Sementara itu, kelompok ketiga dikhususkan bagi jemaah yang memiliki udzur syar’i, seperti lansia risiko tinggi dan jemaah sakit. Mereka langsung diberangkatkan dari Arafah menuju tenda pemukiman di Mina tanpa harus turun di Muzdalifah.

"Pengaturan ini sejalan dengan prinsip kemaslahatan yang tetap berada dalam koridor ketentuan syariah," ujar Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat tersebut.

Imbauan Memaksimalkan Ibadah di Arafah

Menjelang pergerakan menuju Arafah yang dilakukan bertahap pada 8 Dzulhijjah, Prof Niam meminta jemaah menyiapkan kondisi fisik dan mental secara matang. Jemaah diharapkan memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT selama berada di Arafah.

Hari Arafah dinilai sebagai momentum dan tempat yang sangat mustajab untuk memanjatkan doa.

"Gunakan waktu tersebut untuk memohon ampun atas kesalahan, baik kepada Allah maupun kepada sesama," kata Prof Niam.

Artikel terkait

Rekomendasi