Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan kewajiban pesantren untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam kepemimpinan, tetapi juga memiliki kapasitas manajerial yang kuat. Penegasan tersebut disampaikan dalam pembukaan kegiatan Penguatan Direktorat Jenderal Pesantren melalui Bedah Buku KH. Abdul Wahab Hasbullah di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, Jumat, 6 Juni 2026, sebagaimana dilansir dari Medcom.
Peningkatan kapasitas ini dinilai penting oleh Menag agar pesantren mampu menjawab tantangan zaman melalui karakter keilmuannya yang khas. Keunggulan tata kelola ini menjadi fokus baru agar lembaga pendidikan keagamaan tersebut tetap kompetitif dalam sistem pendidikan nasional.
"Pesantren memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang khas. Keunggulan itu harus terus diperkuat agar pesantren mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman," ujar Nasaruddin.
Dalam kesempatan tersebut, sosok KH. Abdul Wahab Hasbullah diangkat sebagai teladan kepemimpinan ideal yang sukses memadukan visi besar dengan tata kelola organisasi profesional. Menag mengimbau agar pesantren masa kini tidak sekadar melahirkan figur pemimpin yang karismatik.
"Pesantren ke depan tidak cukup hanya melahirkan figur pemimpin yang kharismatik. Pesantren juga harus melahirkan pengelola yang profesional, adaptif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan lembaga," tegas Nasaruddin.
Inspirasi manajemen ini juga berkaca pada figur Rasulullah SAW yang menyatukan kepemimpinan dan manajemen dalam satu pribadi. Selain aspek manajerial, Menag mengingatkan pentingnya memelihara tradisi nasionalisme serta komitmen kebangsaan di lingkungan pesantren.
"Pesantren sejak awal telah membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan komitmen kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam membangun Indonesia," kata Nasaruddin.
Langkah penguatan kelembagaan ini didukung oleh pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren yang menjadi tonggak baru dalam sejarah pengembangan pesantren di tanah air. Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menjelaskan bahwa kehadiran ditjen baru tersebut merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang menaungi lebih dari 42 ribu lembaga di seluruh Indonesia.
"Ini merupakan capaian bersejarah bagi dunia pesantren. Kami bersyukur pesantren kini memiliki penguatan kelembagaan yang lebih kuat untuk mendukung pengembangan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat," ujar Basnang.
Saat ini, pihak Direktorat Pesantren sedang merumuskan arah pengembangan jangka panjang untuk sepuluh tahun ke depan yang mencakup mutu pendidikan, ekosistem dakwah, ekonomi masyarakat, dan pembenahan data nasional. Terkait jumlah santri nasional, data Kementerian Agama menunjukkan angka yang stabil, meski terdapat tantangan sinkronisasi data pada pesantren yang memiliki satuan pendidikan formal.
Relevansi pemikiran tokoh pendiri NU tersebut diakui pula oleh pihak keluarga yang menilai keteladanan sang ulama tetap kontekstual dalam menghadapi dinamika modern. Perwakilan keluarga besar KH. Abdul Wahab Hasbullah, Hizbiyah Rochim Wahab, menekankan pentingnya pewarisan nilai kepemimpinan ini kepada generasi penerus.
"Generasi muda perlu terus diperkenalkan pada keteladanan para ulama pendiri bangsa agar memiliki pijakan yang kuat dalam menghadapi tantangan masa depan," ujar Hizbiyah.
Apresiasi terhadap kajian sejarah pemikiran ulama juga diutarakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, KH. Khoirul Fuad. Ia menilai rekam jejak perjuangan para pendahulu menyimpan banyak pelajaran penting mengenai pengabdian bagi negara.
Rangkaian kegiatan bedah buku ini sebelumnya telah dilaksanakan di Lampung. Agenda serupa dijadwalkan akan terus bergulir ke berbagai wilayah lain, termasuk Kalimantan Timur dan kawasan Indonesia Timur.