Nasaruddin Umar Ungkap Perjuangan Bangun Terowongan Silaturahmi

Nasaruddin Umar Ungkap Perjuangan Bangun Terowongan Silaturahmi

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengenang kembali proses negosiasi dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo terkait pembangunan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, Jakarta Pusat, pada Sabtu (9/5/2026) pagi.

Dilansir dari Megapolitan, pembangunan akses bawah tanah ini awalnya menghadapi kendala besar karena minimnya dukungan akibat estimasi biaya yang sangat tinggi. Ide penyatuan dua rumah ibadah ini pertama kali diutarakan Nasaruddin kepada Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo.

"Seandainya saya punya kewenangan, saya akan memohon izin supaya pagar-pagar yang ada di antara Istiqlal dan Katedral ini kita robohkan saja, agar ini menjadi satu halaman bersama antara Istiqlal dengan Katedra," ujar Nasaruddin, Menteri Agama RI.

Gagasan tersebut kemudian dibawa ke tingkat kenegaraan saat Nasaruddin menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dengan mengusulkan pembangunan terowongan kepada Presiden Joko Widodo. Meskipun Presiden merespons positif, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sempat memberikan catatan terkait kesulitan teknis.

Pihak PUPR menilai proyek tersebut sangat mahal karena terdapat pipa air raksasa peninggalan Belanda di jalur penggalian yang menyuplai kebutuhan air ke wilayah Menteng. Kendala biaya ini sempat membuat proses perencanaan berjalan lambat karena memerlukan penggalian yang sangat dalam.

"Awalnya tidak ada yang mendukung karena anggarannya lumayan besar. Saya lapor kembali kepada Bapak Presiden 'Pak, katanya mahal biayanya," sambung Nasaruddin, Menteri Agama RI.

Nasaruddin memberikan penegasan kepada Presiden bahwa terowongan tersebut memiliki nilai filosofis yang lebih besar daripada sekadar infrastruktur fisik. Ia meyakinkan bahwa bangunan ini akan menjadi simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia bagi dunia internasional.

Setelah mendengar penjelasan mengenai nilai simbolis tersebut, Joko Widodo memberikan instruksi untuk segera memulai proyek. Terowongan ini kini menjadi destinasi wajib bagi tamu negara yang berkunjung ke Indonesia setelah selesai melakukan agenda resmi di Istana.

"Artinya, satu-satunya terowongan toleransi di dunia adalah ini. Setiap tamu negara, kunjungan pertamanya setelah dari Istana adalah ingin melihat terowongan ini, termasuk Yang Mulia Paus Fransiskus yang baru saja berkunjung," sambung Nasaruddin, Menteri Agama RI.

Infrastruktur penghubung ini telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2024 dan sempat difungsikan secara khusus saat peringatan Tri Hari Suci pada 17 April 2025.

Artikel terkait

Rekomendasi