Naskah Khutbah Jumat Ingatkan Bahaya Maksiat dan Prioritas Sedekah

Naskah Khutbah Jumat Ingatkan Bahaya Maksiat dan Prioritas Sedekah

Materi khutbah Jumat pada 8 Mei 2026 menyoroti pentingnya skala prioritas dalam beribadah serta dampak sistemik perbuatan maksiat yang dapat menghambat rezeki. Pesan ini disampaikan melalui teladan ulama Abdullah bin Mubarak yang mengutamakan kepedulian sosial di atas ibadah haji personal.

Kisah tersebut merujuk pada Kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi. Abdullah bin Mubarak memutuskan batal berangkat ke Tanah Suci demi menolong sebuah keluarga di Kufah yang kelaparan hingga terpaksa mengonsumsi bangkai untuk bertahan hidup.

"Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini," kata Abdullah bin Mubarak saat memberikan penjelasan kepada penduduk di kampung halamannya sebagaimana dikutip dari asatunews.co.id.

Keputusan menyedekahkan seluruh bekal perjalanan tersebut membuahkan petunjuk spiritual dalam mimpi sang ulama. Meskipun tidak berangkat secara fisik, rekan-rekannya melihat sosok menyerupainya melakukan pelayanan jemaah di Makkah.

"Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji," bunyi suara dalam mimpi Abdullah bin Mubarak yang dilansir dari laman Kemenag melalui Kompas.

Prinsip mendahulukan ibadah sosial saat situasi mendesak ini selaras dengan ajaran Al-Qur'an mengenai kesempurnaan kebajikan. Hal ini ditegaskan dalam surat Ali Imran ayat 92 tentang syarat memperoleh kebaikan sempurna.

"Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan (yang sempurna), sebelum kalian mendermakan sebagian dari hartamu yang kamu cintai," bunyi kutipan QS Ali Imran: 92.

Selain masalah prioritas ibadah, naskah khutbah yang dilansir dari TribunPriangan menguraikan pandangan Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayah al-Hidayah. Ia menekankan bahwa menahan hawa nafsu dan meninggalkan larangan Allah SWT memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan sekadar menjalankan ketaatan.

"Ketahuilah bahwa agama itu mempunyai dua dasar: Pertama, meninggalkan larangan-larangan Allah swt. Kedua, menjalankan ketaatan kepada Allah swt meninggalkan larangan-larangan Allah swt lebih berat daripada menjalankan keta’atan kepada-Nya, karena setiap orang mampu melaksanakan ketaatan kepada Allah swt sedang menjauhi larangan-larangan-Nya hanya orang yang siddiqin saja yang mampu melakukannya," jelas Imam al-Ghazali.

Kondisi ini dipengaruhi oleh karakteristik surga dan neraka yang bertolak belakang dengan keinginan nafsu manusia. Penjelasan tersebut diperkuat oleh sebuah riwayat hadis dari Imam Tirmidzi.

"Surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak disenangi (nafsu) sedangkan neraka selalu diselimuti oleh hal-hal yang disenangi (nafsu)," sabda Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Anas ibn Malik.

Imam al-Ghazali juga mengingatkan bahwa setiap anggota tubuh merupakan amanat Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan penggunaannya. Bermaksiat menggunakan nikmat badan dianggap sebagai pengkhianatan besar terhadap amanat tersebut.

"Ketahuilah! engkau melakukan maksiat itu dengan memakai anggota badanmu, yang itu merupakan nikmat dan amanat bagimu. Penggunaanmu atas nikmat tersebut untuk maksiat kepada Allah merupakan bentuk pengingkaran yang amat besar, sedang pengkhianatanmu atas amanat yang dititipkan Allah kepadamu untuk maksiat kepada-Nya merupakan bentuk pengkhianatan yang amat besar. Seluruh anggota badanmu adalah hal-hal yang harus kamu pelihara, oleh sebab itu perhatikanlah bagaimana kamu menjaganya. Kalian semua adalah pemimpin, dan masing-masing akan mempertangungjawabkan terhadap apa yang dipimpinnya," papar Imam al-Ghazali.

Dampak nyata dari perbuatan dosa tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga berpengaruh pada aspek ekonomi. Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Ahmad memperingatkan tentang terhalangnya pintu rezeki akibat kemaksiatan.

"Sesungguhnya seorang hamba itu terhalang rezekinya sebab dosa yang diperbuatnya," sabda Rasulullah SAW.

Meskipun dosa dapat memicu musibah dan penyakit, Islam mengajarkan bahwa rasa sakit yang dialami seorang mukmin memiliki sisi pengampunan. Rasulullah SAW menjelaskan hal ini dalam riwayat Imam Muslim mengenai pengguguran kesalahan masa lalu melalui kesedihan atau rasa sakit.

"Tidaklah seorang Mukmin," sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim.

Artikel terkait

Rekomendasi