Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan rencana ambisius untuk mengakhiri ketergantungan bantuan militer dari Amerika Serikat secara bertahap dalam sepuluh tahun ke depan di tengah menurunnya dukungan publik di Washington. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara program 60 Minutes CBS pada Senin (11/5/2026) sebagai langkah memperkuat kemandirian pertahanan Tel Aviv.
Langkah pengurangan bantuan tersebut bertujuan untuk mengatur ulang hubungan keuangan antara kedua negara yang telah berlangsung lama. Berdasarkan data yang dilaporkan CNN Indonesia, saat ini Israel menerima bantuan militer sekitar US$3,8 miliar atau setara Rp66 triliun per tahun dari Washington.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah menyetujui paket bantuan militer total senilai US$38 miliar untuk periode 2018 hingga 2028. Namun, Netanyahu menegaskan bahwa perubahan kebijakan ini harus segera diinisiasi tanpa menunggu pergantian periode pemerintahan di Kongres AS.
"I ingin mengurangi hingga nol dukungan keuangan Amerika, komponen keuangan dari kerja sama militer yang kita miliki," kata Netanyahu sebagaimana dilansir Arab News melalui CNN Indonesia.
Keinginan untuk mandiri secara finansial ini juga disebut telah dikomunikasikan oleh Netanyahu kepada para pemimpin di Amerika Serikat jauh sebelumnya. Ia menilai saat ini adalah momentum yang tepat untuk mengevaluasi kembali struktur kerja sama keamanan tersebut.
"Tentu saja. Saya telah mengatakan ini kepada Presiden Trump. Saya telah mengatakannya kepada rakyat kami sendiri. Mereka terkejut," ujar Netanyahu dalam wawancara yang juga dikutip oleh Sindonews.
Netanyahu menggarisbawahi bahwa proses transisi menuju kemandirian anggaran militer ini tidak dilakukan secara mendadak. Ia menargetkan penghapusan ketergantungan finansial tersebut dapat tuntas dalam satu dekade ke depan.
"Saya ingin mengurangi hingga nol dukungan keuangan Amerika, komponen keuangan dari kerja sama militer yang kita miliki," kata Netanyahu dalam kutipan yang disiarkan CBS.
Meskipun ada upaya kemandirian, Netanyahu menyadari adanya penurunan sentimen positif terhadap negaranya di Amerika Serikat. Survei Pew Research mencatat 60 persen warga AS memiliki pandangan buruk terhadap Israel, yang menurut Netanyahu dipicu oleh manipulasi di media sosial.
"I tidak ingin menunggu Kongres berikutnya. Saya ingin memulainya sekarang," ujar Netanyahu menegaskan urgensi perubahan kebijakan tersebut.
Di sisi lain, Netanyahu tetap menutup rapat mengenai detail rencana militer Israel terkait Iran. Ia hanya memberikan gambaran mengenai potensi keruntuhan jaringan proksi milisi di kawasan Timur Tengah apabila terjadi perubahan kepemimpinan di Teheran.
"Jika rezim ini memang melemah atau mungkin digulingkan, saya pikir itu adalah akhir dari Hizbullah, itu adalah akhir dari Hamas, itu mungkin juga akhir dari Houthi, karena seluruh kerangka jaringan proksi teroris yang dibangun Iran akan runtuh," kata Netanyahu menjelaskan pandangan geopolitiknya.
Ketika disinggung mengenai peluang jatuhnya pemerintahan Iran saat ini, Netanyahu memberikan jawaban yang realistis mengenai ketidakpastian politik di kawasan tersebut.
"Apakah itu mungkin? Ya. Apakah itu dijamin? Tidak," kata Netanyahu mengakhiri tanggapannya.