Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa militer Israel telah membunuh Komandan Sayap Militer Hamas, Ezzedine Al-Haddad, dalam sebuah serangan di Gaza pada Jumat (16/5/2026). Klaim penumpasan seluruh otak serangan 7 Oktober tersebut disampaikan Netanyahu pada Minggu (17/5/2026), sebagaimana dilansir dari Kompas.
Sebelumnya, pemimpin Israel tersebut sempat bersumpah akan menargetkan dan menghabisi seluruh arsitek di balik serangan lintas perbatasan Hamas. Operasi militer dan dinas intelijen Israel terus dilancarkan di seluruh wilayah Gaza sejak konflik tersebut pecah.
“Saya berjanji bahwa setiap arsitek pembantaian dan penyanderaan akan dieliminasi hingga orang terakhir, dan kita hampir menyelesaikan misi ini,” kata Netanyahu dikutip dari DW.
Hingga saat ini, Israel telah mengklaim bertanggung jawab atas kematian beberapa petinggi kelompok Hamas selama perang berlangsung. Di antara pemimpin yang dilaporkan tewas adalah Yahya Sinwar, yang dianggap sebagai dalang utama serangan, serta Komandan Sayap Militer Hamas Mohammed Deif.
Selain mengumumkan kematian komandan Hamas, Netanyahu menegaskan bahwa tentara Israel saat ini telah memperluas kehadiran operasionalnya. Langkah tersebut dibuktikan dengan keberhasilan militer Israel mengontrol sekitar 60 persen wilayah Gaza.
Padahal, berdasarkan ketentuan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan berlaku sejak 10 Oktober, pasukan Israel diharuskan mundur ke wilayah "Garis Kuning" di Gaza.
“Kami telah menguasai Hamas. Kami tahu persis apa misi kami, dan misi kami adalah, memastikan bahwa Gaza tidak akan pernah lagi menjadi ancaman bagi Israel,” tutur Netanyahu.