Pakistan mengerahkan 8.000 tentara, satu skuadron jet tempur, dan sistem pertahanan udara ke Arab Saudi di bawah pakta pertahanan bersama saat gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran terancam runtuh. Langkah militer ini dilakukan ketika Islamabad justru bertindak sebagai mediator utama dalam konflik bersenjata tersebut.
Pengerahan kekuatan militer tersebut mencakup sekitar 16 jet tempur JF-17 hasil kerja sama dengan Tiongkok, dua skuadron drone, serta sistem pertahanan udara HQ-9 buatan Tiongkok. Pemerintah Arab Saudi dilaporkan membiayai operasi pengerahan ini, sementara seluruh komando peralatan tempur tetap dioperasikan oleh personel militer Pakistan.
Ketegangan regional ini meningkat setelah wilayah energi Arab Saudi sempat menjadi sasaran serangan udara Iran yang menewaskan seorang warga negara Saudi. Hubungan strategis erat antara Islamabad dan Riyadh telah berlangsung selama beberapa dekade melalui latihan militer gabungan rutin di Okara dan Muzaffargarh.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Mohammad Asif menyatakan dalam wawancara dengan GeoTV tahun lalu bahwa kemampuan senjata nuklir Pakistan akan tersedia bagi Arab Saudi di bawah perjanjian pertahanan tersebut. Kesepakatan rahasia itu juga memungkinkan pengiriman hingga 80.000 tentara untuk mengamankan perbatasan wilayah kerajaan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Teheran mengenai batas waktu yang terus berjalan setelah kembali tanpa hasil dari Tiongkok. Donald Trump juga menyebut bahwa gencatan senjata yang berlangsung selama enam minggu tersebut pada dasarnya merupakan bantuan untuk Pakistan.
Pihak militer dan kantor urusan luar negeri Pakistan bersama dengan kantor media pemerintah Arab Saudi tidak memberikan tanggapan saat dimintai keterangan oleh Reuters mengenai rincian pengerahan pasukan ini.