Sebuah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kampung Pramuka Proklim, Koja, Jakarta Utara, menerapkan kebijakan pembayaran biaya pendidikan menggunakan sampah yang telah dipilah oleh orang tua murid pada Rabu (6/5/2026). Program ini bertujuan mengedukasi masyarakat mengenai pelestarian lingkungan sekaligus meringankan beban ekonomi warga setempat.
Sistem pembayaran unik ini mengharuskan setiap wali murid membawa sampah dari rumah untuk ditimbang di bank sampah yang berlokasi di dekat sekolah. Dilansir dari Megapolitan, data setoran tersebut kemudian dicatat dalam buku tabungan khusus sebagai bukti kontribusi keluarga terhadap kebersihan lingkungan.
Penggagas program sekaligus Ketua RT setempat, Deni Herwanto, menyatakan bahwa institusi tersebut tidak hanya fokus pada kemampuan dasar anak seperti membaca dan berhitung. Penekanan utama justru diberikan pada pembentukan karakter peduli lingkungan bagi anak-anak dan para orang tua.
"Yang belajar di sini bukan cuma anak-anak. Orangtuanya juga ikut belajar, bagaimana menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan," ujar Deni Herwanto, Ketua RT.
Aktivitas harian di sekolah ini melibatkan interaksi langsung dengan alam, seperti pemanfaatan tanaman anggur dan kolam ikan sebagai sarana belajar. Melalui kebiasaan menyetor sampah, anak-anak diharapkan memahami bahwa limbah rumah tangga dapat dikelola dengan bijak daripada sekadar dibuang.
Salah satu wali murid, Jumiyati, mengungkapkan bahwa aspek edukasi lingkungan menjadi alasan utamanya menyekolahkan anak di tempat tersebut. Ia mencatat adanya perubahan perilaku yang signifikan pada anaknya dalam menyikapi sampah di ruang publik.
"Anak-anak di sini diajarkan cara mengolah sampah, jadi mereka lebih paham dan peduli lingkungan," kata Jumiyati, Orangtua Murid.
Menurut penuturan Jumiyati, sang anak kini aktif memungut sampah yang ditemui di jalanan untuk dibawa pulang dan dikelola. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan mulai tumbuh menjadi budaya baru di lingkungan keluarga.
"Kadang kita sebagai orang tua malu ya kalau harus memungut sampah di jalan. Tapi anak-anak justru semangat, mereka bawa pulang," ujar Jumiyati, Orangtua Murid sambil tersenyum.
Kepala Sekolah PAUD, Yuli, menjelaskan bahwa kurikulum yang diterapkan mengedepankan aspek perkembangan kepribadian peserta didik. Pihak sekolah memfasilitasi lingkungan terbuka sebagai media pembelajaran agar siswa dapat bereksplorasi secara bebas.
"Yang penting anak-anak keluar dari sini percaya diri, mandiri, berani tampil, dan berani berkomunikasi," kata Yuli, Kepala Sekolah PAUD.