Otoritas keagamaan Arab Saudi memperkuat kualitas pelayanan bagi jutaan tamu Allah melalui peluncuran program pelatihan khusus bagi petugas di Madinah pada Kamis (7/5/2026). Inisiatif bertajuk Enhancing Communication Skills with Visitors tersebut berfokus pada peningkatan keterampilan komunikasi dan nilai kemanusiaan menjelang puncak musim haji 2026.
Kepala Presidensi Urusan Keagamaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Abdulrahman Al Sudais, menginisiasi program ini sebagai bagian dari transformasi layanan sumber daya manusia. Dilansir dari Cahaya, langkah tersebut diambil guna menghadapi lonjakan jumlah jemaah haji dan umrah yang terus meningkat secara signifikan setiap tahunnya.
"Inisiatif ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif dengan pengunjung Masjidil Haram dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dalam berinteraksi dengan mereka," terang Abdulrahman Al Sudais, Kepala Presidensi Urusan Keagamaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Program ini dirancang untuk membekali petugas lapangan dengan kemampuan menghadapi jemaah dari berbagai latar belakang, termasuk lansia dan penyandang disabilitas. Selain penguatan kapasitas manusia, Arab Saudi juga mengintegrasikan teknologi modern seperti layanan penerjemah multibahasa dan pengelolaan arus manusia berbasis kecerdasan buatan.
Sementara itu, jemaah haji asal Indonesia sedang bersiap menghadapi fase puncak ibadah haji atau Armuzna di Makkah. Berdasarkan pengumuman resmi Kementerian Agama RI, pergerakan menuju Arafah akan dimulai pada 25 Mei 2026, sedangkan puncak haji jatuh pada 26 Mei 2026.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengimbau jemaah Indonesia untuk membatasi aktivitas fisik agar kondisi tubuh tetap prima saat suhu meningkat. Kepala Seksi Bimbingan Ibadah dan KBIHU PPIH Daker Makkah, Erti Herlina, memberikan arahan khusus terkait pelaksanaan umrah sunnah bagi para jemaah.
Erti Herlina menjelaskan bahwa sebelum memasuki fase Armuzna, jemaah sangat disarankan untuk tidak memaksakan diri dalam beraktivitas demi menjaga ketersediaan stamina. Langkah antisipasi ini dinilai krusial mengingat tantangan fisik yang berat selama prosesi wukuf dan mabit di tanah suci.