Pemantauan hilal untuk menentukan awal bulan Zulhijah dilakukan oleh Tim Hisab Rukyat Rumah Falak Pondok Labu di titik pengamatan pada Minggu (17/5/2026) sore. Dilansir dari Megapolitan, seluruh kesiapan tim beserta peralatan observasi dipastikan telah rampung secara menyeluruh.
"Hari ini kami melakukan rukyatul hilal, untuk persiapan, dari segi alat kita sudah menyediakan tiga teleskop. Dua manual dan satu robotik, insyaallah kami sudah siap," ujar Arrafi saat ditemui Kompas.com di lokasi, Minggu.
Metode pengoperasian dari ketiga instrumen optik tersebut berbeda-beda dalam membidik titik kemunculan bulan sabit muda. Jenis teleskop komputerisasi dinilai memberikan kemudahan lebih karena mempunyai kemampuan mendeteksi posisi objek secara otomatis.
"Cara penggunaannya, kalau manual itu kita memosisikannya secara manual atau pakai tangan kita sendiri. Sedangkan robotik itu kita otomatis dengan komputerisasi. Kalau untuk yang robotik dia bisa nge-lock, mengunci (titik hilalnya)," jelasnya.
Ketinggian posisi hilal pada hari pelaksanaan berada di angka 4,83 derajat dengan sudut elongasi mencapai 10,05 derajat berdasarkan data perhitungan astronomi. Durasi pemantauan diproyeksikan berlangsung selama 25 menit 30 detik setelah matahari terbenam.
"Untuk hari ini kita start di jam 17.44 WIB hingga 18.10 WIB, kurang lebih 25 menit," tuturnya.
Koordinasi mengenai prakiraan cuaca juga telah dijalin bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika demi kelancaran proses pengamatan. Wilayah Jakarta Selatan dilaporkan berada dalam kondisi cerah berawan saat persiapan berlangsung.
"Untuk kita dengan BMKG berkoordinasi untuk perkiraan cuacanya saja. Jika tadi kita melihat di BMKG, kurang lebih cuacanya masih berawan ya. Cuma insyaallah cerah lah, jam segini saja cerah. Dan mungkin kita nanti lihat juga cuacanya, apabila cuaca mendukung, insyaallah hilal terlihat," ungkap Arrafi.
Kondisi geografis lokasi yang berada di tengah area pemukiman padat dan dikelilingi bangunan tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi para pengamat di lapangan di samping faktor meteorologi.
"Untuk di Rumah Falak sendiri, kendala kita antara lain gedung, terus juga kadang berawan, faktor cuaca, atau misalnya hujan," ucapnya.
Apabila objek yang dicari tidak dapat teramati akibat faktor alam, tim akan tetap memberikan laporan apa adanya dari lokasi pemantauan.
"Insyaallah lancar, tapi kalau misal cuaca tidak mendukung ya memang dilaporkan bahwa di sini tidak bisa terlihat. Sedangkan jika di sini terlihat, kita langsung melaporkan ke Kementerian Agama langsung ke pusat," tutup Arrafi.