Pemerintah Bangun Tanggul Laut Raksasa 575 Kilometer di Pantura Jawa

Pemerintah Bangun Tanggul Laut Raksasa 575 Kilometer di Pantura Jawa

Pemerintah meresmikan dimulainya rencana pembangunan Giant Sea Wall (GSW) sepanjang 575 kilometer di Pantai Utara Jawa dalam pertemuan di Jakarta, Senin (4/5/2026). Proyek ini bertujuan memitigasi dampak penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan air laut yang mengancam kawasan pesisir.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan bahwa infrastruktur ini merupakan solusi atas tekanan ganda yang melanda wilayah tersebut. Dilansir dari Kompas, penurunan tanah di Jawa mencapai 1 cm hingga 20 cm per tahun.

"Ini bisa dikatakan sebagai twin pressure, tekanan ganda, terjadi kenaikan permukaan air laut," terang AHY dalam momentum tersebut.

AHY juga menekankan bahwa langkah relokasi bagi warga di pesisir dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan ekonomi. Pembangunan proyek strategis ini diperkirakan akan memakan waktu hingga dua dekade ke depan.

"Relokasi nelayan ini tentunya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraannya, bukan untuk menggusur tanpa tujuan, apalagi membuatnya lebih sengsara," ujar AHY.

Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) membagi megaproyek ini ke dalam 15 segmen pengerjaan. Langkah ini diambil agar pemerintah dapat melakukan intervensi langsung pada wilayah-wilayah yang memiliki tingkat urgensi paling tinggi.

"Tidak kecil atau tidak pendek panjang ini," ujar Didit dalam momentum yang sama.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit H Ashaf, menjelaskan bahwa pembagian segmen memungkinkan konstruksi berjalan secara paralel tanpa harus menunggu urutan geografis. Prioritas utama saat ini diarahkan pada wilayah yang mengalami penurunan tanah paling ekstrem.

"Bisa saja segmen tiga yang menjadi prioritas di Pekalongan atau segmen empat di titik lain," katanya.

Data pemerintah menunjukkan wilayah Pekalongan sedang dalam tahap investigasi pesisir, sementara area Semarang dan Demak sudah mencapai progres perencanaan 80 persen. Fokus pembangunan berada pada lahan dengan kemiringan sangat landai.

"Karena di daratnya sendiri sudah turun sehingga permukaan air laut itu lebih tinggi," lanjut Didit.

Berbeda dengan wilayah lainnya, kawasan Batang tidak akan mendapatkan intervensi tanggul di daratan karena posisi daratannya masih terpaut 8 hingga 10 meter di atas permukaan laut. Namun, infrastruktur tetap akan terintegrasi dengan akses logistik di sana.

"Kami tidak melakukan intervensi di darat. Kami melaksanakan kegiatan di laut. Untuk Batang tidak dilakukan," kata Didit.

Tanggul ini dirancang tidak hanya menggunakan struktur beton, tetapi juga memadukan berbagai teknologi hasil riset bersama BRIN. Pendekatan pembangunan akan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah di sepanjang pantai utara.

"GSW tidak seluruhnya menggunakan pendekatan grey solution atau struktur beton masif," tegas Didit H Ashaf.

Data Penurunan Muka Tanah di Pantura Jawa
WilayahTingkat PenurunanPeriode Waktu
Tuban130 cm - 150 cm2 - 5 Tahun
Demak30 cm - 200 cm1 - 20 Tahun
Semarang83 cm1 - 20 Tahun
Pekalongan80 cm - 100 cm1 - 20 Tahun

Selain melindungi permukiman, proyek ini juga ditujukan untuk menyelamatkan 115.000 hektar sawah yang saat ini terdampak intrusi air laut. Pemerintah tengah menyiapkan sistem irigasi modern guna menjaga ketahanan pangan nasional di kawasan terdampak.

Artikel terkait

Rekomendasi