Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Seksi 1 memerlukan sedikitnya 10 juta batang bambu sebagai material utama konstruksi matras di atas laut. Dilansir dari Kompas, kebutuhan material dalam jumlah besar ini diumumkan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum pada Senin, 11 Mei 2026.
Material tersebut didatangkan dari wilayah Wonogiri, Magelang, dan Purworejo guna menyokong struktur jalan sepanjang 10,64 kilometer di wilayah Semarang-Sayung. Kriteria bambu yang digunakan harus memenuhi standar khusus, yakni memiliki kelurusan yang baik, panjang 8 meter, serta diameter berkisar 8 hingga 10 sentimeter.
Struktur timbunan pada seksi yang berada di atas laut ini akan diperkuat oleh matras bambu setebal 17 lapis yang dikerjakan oleh 1.500 tenaga kerja terampil. Selain berfungsi sebagai fondasi untuk mempercepat konsolidasi tanah, penggunaan bambu tersebut diproyeksikan memberikan dampak positif bagi keberlanjutan ekosistem laut sebagai tempat tumbuhnya terumbu karang.
Purnomo, Pengamat Perkerasan Jalan dan Aspal, menjelaskan bahwa pemilihan bambu didasarkan pada ketahanannya yang luar biasa terhadap air. Karakteristik ini dinilai sangat efektif untuk menghadapi tantangan pembangunan di atas lahan rawa dan lumpur yang memiliki stabilitas rendah.
"Sifat bambu kalau direndam dalam air 100 tahun tidak akan rusak atau lapuk," ujar Purnomo.
Purnomo menambahkan bahwa penggunaan bambu menjadi solusi alternatif mengingat kelangkaan kayu dolken di Pulau Jawa. Kayu dolken yang biasanya digunakan sebagai tiang pancang pada lahan basah lebih banyak ditemukan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
"Untuk mengatasi, tanah dipancang dengan kayu dolken. Di Jawa dolken tidak ada, sedangkan bambu banyak," jelas Purnomo.
Melalui metode ini, bambu dipancang langsung ke dalam tanah sebelum disusun menjadi lapisan matras yang kokoh. Langkah ini krusial untuk meningkatkan daya dukung tanah sehingga mampu menopang beban timbunan dan struktur badan jalan di atasnya secara stabil.
"Maka kita manfaatkan bambu tersebut. Bambu kita pancang dan di atasnya dibuat matras sebagai dasar timbunan tanah yang baik untuk badan jalan," tutur Purnomo.
Uji kelayakan terhadap penggunaan material ini sebelumnya telah dilakukan oleh Balai Bahan dan Struktur Bangunan Gedung di bawah Direktorat Jenderal Cipta Karya. Saat ini, pembangunan Tol Semarang-Demak terbagi dalam dua tahap, di mana Seksi 2 Sayung-Demak sepanjang 16,31 kilometer sudah resmi beroperasi bagi masyarakat.