Profesi membersihkan kaca gedung pencakar langit menjadi salah satu pekerjaan ekstrem yang jarang mendapat perhatian di tengah hiruk-pikuk kota besar. Padahal, para pekerja ini harus menggantungkan tubuhnya di sisi bangunan puluhan lantai demi menjaga estetika kota tetap mengilap, seperti dikutip dari Megapolitan.
Saat ditemui di Gedung BPH Migas, Tandean, Jakarta Selatan pada Rabu (20/5/2026), sejumlah tenaga kerja pada ketinggian (rope access) tampak bersiap dari atap. Mereka memakai helm proyek dan full body harness sebagai pengaman utama, lengkap dengan carabiner, descender, ascender, serta pengait logam. Perlengkapan lain seperti tali pengaman, sarung tangan, sepatu anti-slip, kacamata pelindung, dan penutup wajah juga disiapkan untuk menghalau debu dan panas matahari.
Para pembersih kaca ini mengandalkan sistem tali pengaman yang terhubung ke tubuh untuk bergerak naik-turun sekaligus menjaga keseimbangan dari terpaan angin. Mereka berstatus pekerja lepas (freelance) di bawah PT Moramon, sebuah perusahaan general contractor, supplier, trading, konstruksi, desain interior, hingga maintenance bangunan.
Bagi Fajar Maulana (27), pekerjaan ekstrem ini merupakan tantangan yang sudah lama ingin ia jalani setelah sebelumnya bekerja di bidang lain.
"Awalnya saya kerja di bidang lain sebelum jadi rope access (tenaga kerja pada ketinggian). Saya lihat pekerjaan ini lebih menantang, jadi saya tertarik buat jadi rope access dan Alhamdulillah langsung dapat kesempatan," kata Fajar.
Fajar tidak menampik adanya rasa takut yang muncul ketika pertama kali menginjakkan kaki di ketinggian.
"Awalnya takut, karena manusia pasti takut saat belajar. Tapi lama-lama terbiasa jadi lebih berani, apalagi sudah kenal SOP dan alat-alatnya," ujar dia.
Selama tujuh tahun berkarier, Fajar telah menangani berbagai bangunan tinggi di Jakarta hingga luar pulau, termasuk gedung setinggi 257 meter atau 72 lantai. Baginya, kondisi cuaca mendadak menjadi tantangan yang paling diwaspadai di lapangan.
"Kalau hujan tiba-tiba, biasanya langsung turun kalau memungkinkan. Kalau sudah telanjur di tengah pekerjaan, itu yang agak susah karena turun juga enggak gampang," kata Fajar.
Sebelum meluncur ke bawah, seluruh tim wajib melakukan briefing dan memeriksa kelayakan alat hingga dua kali demi keselamatan.
"Briefing pagi, doa masing-masing, lalu cek alat dua kali sebelum mulai kerja," ujar Fajar.
Ia menambahkan bahwa profesi ini menuntut kestabilan emosi dan fokus yang sepenuhnya prima.
"Biasanya saya diam saja kalau ada masalah pribadi. Karena pekerjaan ini berkaitan dengan emosi, jadi harus tetap stabil saat turun," tutur dia.
Medan yang paling menegangkan bagi para pekerja adalah ketika menghadapi struktur bangunan yang tidak rata.
"Biasanya kalau kondisi gedung overhang, jadi bentuk bangunannya menjorok dan enggak rata. Itu yang bikin takut," katanya.
Selain memahami titik anchor atau pengaman, pekerjaan ini dilakukan minimal oleh empat orang dalam satu tim dengan durasi tergantung luas gedung.
"Kalau lima lantai mungkin sejam selesai. Tapi kalau gedung 72 lantai bisa tiga hari untuk satu jalur," ujar dia.
Jenis kotoran yang paling sulit dibersihkan di kaca luar ruang adalah kerak air dan sisa cipratan hujan.
"Kalau yang sudah berpengalaman bisa Rp 15 juta ke atas. Yang sudah puluhan tahun bisa lebih lagi," ujar dia.
Faktor pendapatan ini menjadi alasan Fajar bertahan, meski beberapa rekannya memilih mundur setelah berkeluarga.
"Ada yang berhenti karena sudah punya istri dan anak, jadi pilih pekerjaan lain yang dianggap lebih aman," katanya.
Keputusannya sempat dipertanyakan oleh pihak keluarga yang mengkhawatirkan keselamatan jiwanya.
"Awalnya sempat tanya, ‘Enggak ada kerjaan lain?’ Tapi saya jelaskan kalau pekerjaan ini memang menghasilkan," kata dia.
Modal Mandiri hingga Puluhan Juta
Pengalaman serupa dirasakan oleh Rizki Rianto (36), yang beralih profesi menjadi tenaga rope access sejak tahun 2014 setelah sebelumnya bekerja di bengkel atas ajakan teman.
"Dulu karena penghasilannya juga. Sebelumnya saya kerja di bengkel. Terus ada teman yang ngajak," kata Rizki.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, Rizki harus menempuh pelatihan khusus untuk mendapatkan lisensi resmi.
"Dulu sekitar tiga sampai empat tahun baru benar-benar dapat lisensi dan bisa diturunkan kerja," ujarnya.
Rizki menegaskan bahwa siapa pun tidak bisa langsung bekerja di sektor ini tanpa adanya pendampingan ketat.
"Enggak langsung bisa turun. Ada proses sekolah dulu, baru lisensi, setelah itu baru bisa kerja di lapangan," kata dia.
Rizki mengenang momen pertamanya berada di ketinggian dengan bimbingan langsung dari instruktur senior.
"Awalnya lihat ke bawah takut juga. Tapi karena didampingi terus sama senior, jadi lebih tenang. Dua sampai tiga hari mulai terbiasa," katanya.
Sepanjang 10 tahun berkarier, Rizki telah menjangkau proyek hingga ke Kalimantan untuk pembersihan, pengecatan, hingga coating luar gedung.
"Selain bersihin kaca, juga pekerjaan pengecatan dan coating," ujar dia.
Karena statusnya pekerja lepas, sistem pendapatan mereka sangat bergantung pada ketersediaan proyek yang masuk.
"Kalau ada proyek, hasilnya dibagi rata sesuai tim yang turun," kata Rizki.
Dalam sebulan, mereka rata-rata menangani satu hingga dua proyek, meski ada kalanya situasi sepi menjelang hari raya.
"Kadang menjelang Lebaran agak kosong, tapi jarang lama," ujar dia.
Sebagai pekerja freelance, Rizki juga harus merogoh kocek sendiri untuk membeli set perlengkapan keselamatan kerja.
"Satu set perlengkapan bisa sekitar Rp 25 juta," kata Rizki.
Pembelian alat tersebut ia lakukan secara bertahap dari komisi proyek yang berhasil diselesaikan.
"Dicicil dari hasil proyek. Jadi harus pintar bagi uang buat beli alat dan maintenance," ujarnya.
Pilihan menjadi pekerja lepas diambil karena fleksibilitas waktu, walaupun keluarga awalnya sempat merasa cemas.
"Ibu sempat panik. Beliau bilang, ‘Kok kerjanya begitu?’ Tapi saya bilang yang penting halal," ujar dia.
Kekhawatiran yang sama juga sempat diutarakan oleh istrinya saat awal mula bekerja.
"Tapi setelah tahu hasilnya dan tahu safety kerja kami, akhirnya percaya," kata Rizki.
Menurut Rizki, ketenangan mutlak diperlukan ketika embusan angin kencang datang secara tiba-tiba di atas gedung.
"Yang penting jangan panik. Kalau panik malah bisa blank," tutur dia.
Lebih Memilih Tali ketimbang Gondola
Pekerja lainnya, Supriatna (33), memiliki pengalaman selama 15 tahun di bidang pembersihan gedung, dengan delapan tahun terakhir menggunakan sistem tali.
"Karena lebih fleksibel," kata Supriatna.
Ia mengaku beralih dari penggunaan metode gondola ke rope access karena menyukai tantangan ekstrem.
"Awal-awal tetap takut. Semua orang yang pertama kali turun pasti takut. Tapi lama-lama kalau sudah biasa ya jadi terbiasa," ujar dia.
Supriatna terus menekuni profesi ini karena merasa keahlian utamanya memang berada di sektor ketinggian.
"Tapi kalau keluar dari dunia ini bingung mau kerja apa lagi, karena basic-nya sudah di sini," ujar dia.
Menariknya, ia kini justru merasa lebih aman menggunakan sistem tali dibandingkan dengan perangkat gondola.
"Justru sekarang lebih takut gondola," katanya.
Fleksibilitas tali dinilai lebih tinggi dan memudahkan proses evakuasi mandiri saat situasi darurat terjadi.
"Kalau gondola harus menyelamatkan mesin juga. Kalau pakai tali, kami bisa langsung turun sendiri kalau ada kondisi darurat," ujar Supriatna.
Ia telah membersihkan gedung-gedung tinggi hingga 50 lantai, termasuk Autograph Tower di Jakarta. Menurutnya, pekerja senior justru lebih mawas diri.
"Kadang pekerja baru justru terlalu percaya diri dan enggak sesuai standar. Kalau yang sudah lama pasti lebih menjaga keselamatan," tutur dia.
Sebagai pekerja lepas, ia tidak memungkiri bahwa ketiadaan asuransi dan jaminan kerja tetap menjadi beban pikiran.
"Pasti kepikiran, karena semua ditanggung sendiri. Makanya kami benar-benar menjaga diri sendiri," katanya.
Setiap bulan, upah yang ia terima berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 12 juta, tergantung dari volume proyek.
"Kadang sekitar Rp 10 juta sampai Rp 12 juta per bulan, tergantung proyek. Kadang bisa lebih," ujar dia.
Sorotan Aspek Perlindungan dan Ketimpangan Kerja
Pengamat ketenagakerjaan, Timboel Siregar, menegaskan bahwa profesi berisiko tinggi seperti ini seharusnya mendapatkan perlindungan penuh dari pemberi kerja.
"Freelance-freelance itu juga tentunya bukan berarti dia tanpa perlindungan, harus dilindungi," kata Timboel.
Perusahaan dinilai wajib memfasilitasi jaminan sosial ketenagakerjaan serta alat pelindung diri tanpa membebankannya kepada pekerja.
"Pemberi kerjanya, orang yang menyuruhnya itu harus memastikan bahwa mereka terlindungi di jaminan sosial dan mendapatkan alat-alat yang bisa menjalankan tugasnya dengan aman," ujar dia.
Pembebasan biaya alat perlindungan diri merupakan hal mutlak yang tidak boleh dialihkan menjadi tanggung jawab pribadi pekerja.
"Itu enggak boleh. Dia tetap harus dinaungi bahwa si pekerja itu dijamin oleh perusahaan itu," kata dia.
Timboel mendesak pemerintah melalui pengawas ketenagakerjaan untuk melakukan pengawasan ketat terhadap vendor ketenagakerjaan maupun pengelola gedung.
"Ini harus diawasi oleh pengawas ketenagakerjaan karena pekerja-pekerja tersebut berisiko tinggi," ujar Timboel.
Sertifikasi kompetensi resmi juga menjadi elemen krusial bagi para pekerja agar tidak hanya bermodal keberanian semata.
"Jangan orang yang punya nekat aja yang disuruh. Bukan pekerjaan yang mudah," kata dia.
Keahlian teknis dan pemahaman mendalam tentang keselamatan kerja harus dibuktikan lewat dokumen resmi.
"Dia harus punya skill, punya sertifikat menurut saya," ujarnya.
Dari kacamata sosiologis, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, memandang fenomena ini sebagai bentuk nyata ketimpangan sosial-ekonomi di wilayah urban.
"Kelompok atas menikmati fasilitas dan kenyamanan kota modern, sedangkan kelompok pekerja melakukan pekerjaan berisiko tinggi dengan upah yang tidak selalu sebanding dengan risiko yang dihadapi," kata Rakhmat.
Publik kerap mengabaikan beban psikologis dan fisik para pekerja karena hanya melihat hasil akhir dari gedung yang bersih.
"Masyarakat kota cenderung hanya menikmati hasil kerja mereka, gedung yang bersih dan indah, tanpa menyadari risiko fisik dan mental yang dihadapi para pekerja," ujar dia.
Kondisi ekonomi menjadi pendorong utama mengapa sektor berisiko tinggi ini tetap diminati oleh masyarakat kelas bawah.
"Pemerintah dan perusahaan perlu memastikan standar keselamatan kerja yang ketat, pemberian asuransi kesehatan dan kecelakaan, upah yang layak, serta jaminan sosial bagi pekerja dan keluarganya," ujar Rakhmat.