Pemerintah Memfasilitasi Ratusan Jemaah Haji Lansia Melalui Program Safari Wukuf

Pemerintah Memfasilitasi Ratusan Jemaah Haji Lansia Melalui Program Safari Wukuf

Pemerintah menyiapkan program safari wukuf khusus bagi ratusan jemaah haji lanjut usia (lansia) dan disabilitas yang memiliki keterbatasan fisik pada musim haji tahun ini. Fasilitas tersebut diberikan untuk memastikan kelompok jemaah rentan tetap dapat menjalankan puncak ibadah haji dengan aman.

Layanan khusus ini memprioritaskan jemaah lansia dengan risiko kesehatan tinggi, tidak memiliki pendamping, atau membutuhkan bantuan tambahan, seperti dilansir dari Detikcom. Pengelolaan program berada di bawah pengawasan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

Kepala Bidang Layanan Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas, Suviyanto Sukirman, memberikan keterangan mengenai estimasi jumlah peserta yang akan menerima fasilitas penjemputan dari hotel pemondokan menuju hotel transit ini.

"Total jemaah haji yang diberikan kepada kami kurang lebih 300-400 jemaah," kata Suviyanto Sukirman, Kepala Bidang Layanan Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas pada Minggu (24/5/2026).

Mekanisme program ini melibatkan mobilisasi jemaah dari pemondokan asal ke hotel transit Durat Almashaeir sebagai titik kumpul sebelum diberangkatkan menuju Padang Arafah.

"Tim safari wukuf ini adalah proses keberangkatan jemaah haji dari hotel transit menuju ke Arafah secara langsungnya, tentunya diawali dengan penjemputan jemaah haji dari sektor (hotel pemondokan) ke hotel transit," ujar Suviyanto Sukirman.

Selama berada di hotel transit, jemaah mendapatkan pasokan konsumsi tiga kali sehari, bimbingan ibadah, tenaga kesehatan, layanan psikososial, serta dukungan armada transportasi berupa 18 unit bus.

"Kami sudah menyiapkan fasilitas yang ada yaitu memberikan makan sehari tiga kali, lalu bimbingan ibadah juga kami berikan dari bimbadnya," ujar Suviyanto Sukirman.

Petugas di lapangan mengidentifikasi penurunan daya ingat atau demensia sebagai salah satu kendala utama dalam mengawal para jemaah lanjut usia selama pelaksanaan program.

"Ya, tantangannya namanya lansia ya. Tentunya banyak faktor lain. Terutama demensia. Demensia ini banyak sekali," kata Suviyanto Sukirman.

Pihak PPIH juga menyiapkan prosedur penanganan medis darurat termasuk pemberian bantuan oksigen hingga rujukan ke rumah sakit setempat jika kondisi kesehatan jemaah memburuk.

"Tadi contohnya dari siang ada jemaah yang perlu bantuan pernafasan. Kami berikan bantuan oksigen. Apabila tidak bisa dilakukan, kami kirim ke rumah sakit Arab Saudi," tutur Suviyanto Sukirman.

Seluruh jemaah yang terdata dijadwalkan bertolak dari hotel transit menuju Arafah untuk melaksanakan ibadah wukuf pada 9 Zulhijah atau Selasa, 26 Mei 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi