Pemerintah Indonesia memutuskan untuk memberangkatkan 742 prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda untuk menjalankan misi perdamaian UNIFIL di Lebanon pada akhir Mei 2026. Penugasan ini dilakukan berdasarkan evaluasi mendalam terhadap kondisi keamanan di wilayah konflik tersebut.
Dilansir dari Nasional, Karo Humas Datin Kemenko Polkam Brigjen TNI Honi Havana menjelaskan bahwa keputusan rotasi pasukan ini telah melewati pertimbangan strategis yang sangat matang. Pemerintah menetapkan sejumlah parameter untuk memastikan kelayakan operasi penjaga perdamaian ini.
"Pengiriman 742 prajurit dalam rotasi akhir Mei 2026 merupakan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan strategis yang matang. Pemerintah RI menggunakan beberapa parameter konkret dalam menilai kelayakan dan keamanan misi," kata Karo Humas Datin Kemenko Polkam Brigjen TNI Honi Havana, Selasa (12/5/2026).
Terdapat empat poin utama yang menjadi acuan pemerintah, yakni penilaian risiko lapangan dari laporan KBRI Beirut dan PMPP TNI, serta reorganisasi kekuatan untuk efektivitas perlindungan personel. Selain itu, pemerintah menekankan pentingnya akuntabilitas investigasi PBB terhadap insiden keamanan yang menimpa pasukan penjaga perdamaian.
"Ketiga, komitmen akuntabilitas dan investigasi PBB," jelas Brigjen TNI Honi Havana.
Honi menambahkan bahwa parameter terakhir mencakup rencana kontinjensi untuk menarik pasukan lebih awal jika mandat UNIFIL tidak lagi memadai dalam menjamin keselamatan personel. Hal ini menegaskan komitmen negara terhadap keamanan para prajurit yang bertugas.
"Keselamatan prajurit adalah prioritas tertinggi dan tidak dapat dinegosiasikan," pungkas Brigjen TNI Honi Havana.
Sebelum pemberangkatan, Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian di Bogor pada Senin (11/5/2026). Dalam forum tersebut, Menteri Luar Negeri Sugiono mengingatkan para prajurit mengenai tingginya risiko di medan tugas.
"Tempat kalian ditugaskan adalah tempat yang tidak damai sama sekali dan penuh risiko. Artinya, kemampuan dan keterampilan sebagai prajurit harus disiapkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya," kata Sugiono, Selasa (12/5/2026).
Menteri Luar Negeri juga memberikan penegasan bahwa koordinasi antarlembaga sangat krusial dalam menghadapi dinamika geopolitik global saat ini. Pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas misi perdamaian sesuai amanat konstitusi.
"Kemenlu akan terus melaksanakan koordinasi dan kerja sama untuk meningkatkan misi perdamaian sebagai bagian dari amanat konstitusi dan reputasi negara," ucap Sugiono.