Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan tren kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Indonesia terus mengalami penurunan berkat langkah pencegahan dini dan sinergi lintas instansi. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu (6/5/2026) menyikapi tantangan iklim yang diprediksi akan lebih kering pada tahun ini.
Data Sipongi yang dilansir dari Lestari menunjukkan penurunan luas area terbakar secara bertahap dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024 luas karhutla tercatat sebesar 376.805 hektare, kemudian menyusut menjadi 359.619 hektare pada 2025, sementara periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 55.324 hektare.
"Kita menyaksikan bahwa angka karhutla dari tahun ke tahun Alhamdulillah terus menurun, termasuk ketika masa El Nino," kata Raja Juli dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Menteri Kehutanan menekankan pentingnya kolaborasi antara kementerian, lembaga, dan masyarakat untuk menghilangkan ego sektoral dalam penanganan di lapangan. Selain penguatan teknologi, keberadaan Masyarakat Peduli Api (MPA) di berbagai wilayah menjadi garda terdepan dalam mendeteksi potensi titik api secara dini.
"Pak Menko (Bidang Politik dan Keamanan) dengan tegas menyampaikan ini juga tanggung jawab TNI, Polri, termaksud Kejaksaan untuk mengusut secara tuntas dan menindak bila ada unsur pidana pada kebakaran ini," ucap Raja Juli.
Langkah mitigasi ini menjadi krusial mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan mengenai ancaman karhutla yang lebih berat pada musim kemarau 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi cuaca akan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya karena fase netral pada fenomena iklim global.
"Artinya, kita harus bersiap karena tantangan karhutla tahun ini akan lebih berat akibat kondisi yang lebih kering," kata Faisal, Jumat (6/3/2026).
Penurunan curah hujan diprediksi terjadi karena El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole berada pada posisi netral, sehingga curah hujan berada di bawah rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir. Faisal menambahkan bahwa wilayah ekuator seperti Kalimantan Barat, Jambi, dan Riau saat ini mulai memasuki fase kemarau pendek sebelum puncak musim kering pada Juni hingga Agustus.
"Apabila fenomena ini muncul bersamaan dengan penguatan monsun Australia pembawa massa udara kering, Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang. Karena itu, langkah-langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak sekarang," tutur Faisal.