Sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 kini dalam proses pemulangan ke Tanah Air setelah resmi dibebaskan dari penahanan oleh tentara Israel pada Kamis (21/5/2026).
Pemulangan para relawan yang terdiri dari empat jurnalis dan lima aktivis tersebut mendapat pengawalan ketat dari pemerintah, sebagaimana dilansir dari Nasional. Anggota Komisi I DPR Ahmad Iman Sukri menegaskan perlunya jaminan keamanan dan pemeriksaan kesehatan setibanya mereka di Indonesia.
"Para relawan juga perlu mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh setelah tiba di Indonesia. Negara harus memastikan mereka pulang dalam kondisi aman dan sehat," ujar Ahmad Iman Sukri, Anggota Komisi I DPR.
Ahmad Iman Sukri menambahkan bahwa perlindungan bagi warga negara di wilayah konflik merupakan kewajiban mutlak yang harus dipenuhi oleh pihak eksekutif.
"Proses ini jangan dilepas begitu saja setelah dibebaskan. Pemerintah harus terus mengawal sampai mereka benar-benar tiba di Indonesia. Koordinasi dengan seluruh pihak terkait perlu diperkuat agar tidak ada hambatan selama proses transit dan pemulangan," ujar Ahmad Iman Sukri, Anggota Komisi I DPR.
Apresiasi juga diberikan kepada jajaran Kementerian Luar Negeri serta lembaga swadaya yang secara intensif mengupayakan pembebasan para delegasi kemanusiaan tersebut.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras, khususnya Kementerian Luar Negeri, Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), serta seluruh otoritas yang membantu proses pembebasan dan pemulangan para relawan," ujar Ahmad Iman Sukri, Anggota Komisi I DPR.
Sementara itu, pihak Kementerian Luar Negeri menjelaskan bahwa para relawan saat ini sedang menempuh jalur udara menuju Istanbul, Turki, sebelum melanjutkan penerbangan ke Jakarta.
"Penangkapan relawan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0 saat ini dalam perjalanan meninggalkan wilayah Israel menuju Istanbul, Turki, dan akan segera melanjutkan perjalanan kembali ke Tanah Air," ujar Sugiono, Menteri Luar Negeri.
Optimalisasi seluruh jalur diplomasi internasional, termasuk perwakilan KBRI di Ankara, Kairo, Roma, Amman, dan KJRI Istanbul, dikerahkan demi mempercepat kepulangan ini.
"Termasuk melalui KBRI Ankara, KBRI Kairo, KBRI Roma, KBRI Amman, dan KJRI Istanbul, serta menjalin komunikasi aktif dengan otoritas dan mitra internasional terkait guna memastikan keselamatan dan percepatan pembebasan seluruh warga negara Indonesia," ujar Sugiono, Menteri Luar Negeri.
Selain fokus pada pemulangan, diplomasi Indonesia juga menaruh perhatian pada perlakuan pertahanan militer asing terhadap para relawan sipil selama masa penahanan.
"Tindakan yang merendahkan martabat warga sipil dalam sebuah misi kemানুsiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional yang tidak dapat ditoleransi," tegas Sugiono, Menteri Luar Negeri.
Sebelumnya, laporan dari Global Peace Convoy Indonesia pada Rabu (20/5/2026) mendeteksi pesan darurat dari sembilan nama relawan di beberapa kapal berbeda sebelum koordinasi penjemputan berhasil dirampungkan.
"Pemerintah Indonesia akan terus mengawal proses pemulangan ini hingga seluruh WNI tiba kembali ke tanah air dengan selamat," ujar Sugiono, Menteri Luar Negeri.
Identitas sembilan WNI yang dievakuasi meliputi Andi Angga Prasadewa di Kapal Josef, Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, dan Thoudy Badai di Kapal Ozgurluk, Bambang Noroyono di Kapal BoraLize, Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu di Kapal Zapyro, serta Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1.