Pemerintah Indonesia mengoptimalkan penguatan literasi berbasis inklusi sosial dan revitalisasi perpustakaan guna mengatasi rendahnya kemampuan membaca anak pada momentum Hari Buku Nasional, Minggu, 17 Mei 2026.
Langkah penataan ekosistem literasi ini menjadi krusial mengingat data nasional mencatat kunjungan masyarakat ke perpustakaan baru mencapai 3,99 persen.
Survei Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menempatkan literasi membaca Indonesia pada peringkat ke-63 dari 81 negara.
Berdasarkan data UNESCO tahun 2023, indeks baca masyarakat Indonesia berada di angka 0,001 dengan rata-rata membaca hanya 0 hingga 1 buku per tahun.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan sebanyak 75 persen anak usia 15 tahun berada di bawah standar kompetensi minimum, yang berarti mereka bisa membaca tetapi kurang memahami esensi bacaan.
Rendahnya literasi dipengaruhi oleh minimnya akses bahan bacaan berkualitas, infrastruktur pendidikan yang terbatas, disparitas kemampuan baca anak desa dan kota, hingga sepinya perpustakaan sekolah akibat fasilitas yang kurang menarik.
Kondisi perpustakaan di Indonesia saat ini juga terkendala oleh keterbatasan tenaga ahli, di mana pemenuhan pustakawan sekolah baru berkisar 0,1 persen dan perpustakaan umum sebesar 1,7 persen.
Di tingkat daerah, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak berupaya mengembalikan budaya membaca lewat regulasi resmi dan penyelenggaraan kegiatan literasi seperti lomba bercerita hingga layanan malam hari.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Rendrayani, menjelaskan bahwa membaca buku memberikan proses pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan dengan informasi instan dari internet.
“Tantangan terbesar saat ini adalah kebiasaan masyarakat yang lebih banyak mengakses informasi secara cepat tanpa memahami inti bacaan secara menyeluruh,” ujar Rendrayani, Sabtu, 16 Mei 2026.
Pemerintah Kota Pontianak kini mengimplementasikan Surat Keputusan Wali Kota Pontianak Nomor 35 Tahun 2025 yang mengintegrasikan peran keluarga, sekolah, pemerintah, dan dunia usaha.
“Upaya tersebut diperkuat melalui Surat Keputusan Wali Kota Pontianak Nomor 35 Tahun 2025 yang melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah hingga dunia usaha dalam membudayakan membaca,” imbuh Rendrayani.
Peringatan Hari Buku Nasional yang dicetuskan pertama kali pada tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar ini bertepatan dengan tanggal berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) pada 17 Mei 1980.
Selain perayaan literasi, tanggal 17 Mei secara internasional juga diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia yang digagas World Hypertension League, serta Hari Telekomunikasi dan Masyarakat Informasi Sedunia untuk mengenang berdirinya International Telegraph Union pada tahun 1865.
Dorongan untuk gemar membaca juga disuarakan oleh para pegiat literasi dan penikmat buku yang menganggap buku sebagai sarana refleksi diri yang efektif.
Seorang penggemar buku, Fitrah Rhama Diansyah, mengapresiasi momentum Hari Buku Nasional ini sebagai bentuk penghargaan bagi para pembaca dan mengajak masyarakat mulai membiasakan diri membaca dari satu paragraf secara konsisten.
“Melalui hari buku ini merupakan apresiasi tersendiri dari bagi kita. Udah sebanyak ini, ta kita baca buku, ” jelas Fitrah.
Melalui rilis tertulis diringkas dari dita.co, pakar literasi Prof Dr Hj Evi Fatimatur Rusydiyah, MAg menganalisis pergeseran medium membaca ke perangkat digital di era modern.
Kerangka Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) terus berkembang memantau literasi membaca global, dari teks cetak pada 2001, kemampuan berpikir tingkat tinggi pada 2011, navigasi digital daring (ePIRLS) pada 2016, hingga fokus pada literasi masa depan dan kecerdasan buatan pada PIRLS 2026.
Negara seperti Singapura berhasil memimpin peringkat PIRLS 2021 dengan mempertahankan basis membaca teks mendalam yang terarah bersama teknologi, sementara Swedia mengembalikan buku cetak dan menulis tangan ke kelas demi memulihkan daya analitis siswa.