Polisi Amankan Dua Pelaku Pemukulan Politisi Ronald A Sinaga di Menteng

Polisi Amankan Dua Pelaku Pemukulan Politisi Ronald A Sinaga di Menteng

Aparat kepolisian mengamankan dua pria terduga pelaku pemukulan terhadap politisi sekaligus konten kreator Ronald Aristone Sinaga, atau akrab disapa Bro Ron, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Insiden kekerasan yang menimpa mantan calon legislatif tersebut menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial pada Selasa (5/5/2026).

Peristiwa ini pertama kali mencuat melalui unggahan Ahmad Sahroni di akun Instagram pribadinya yang memperlihatkan detik-detik Bro Ron diserang. Dalam rekaman tersebut, korban tampak berusaha menghindar sebelum seorang pria berbaju hitam melayangkan pukulan ke arah wajahnya di tengah kerumunan warga dan petugas, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Kapolsek Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu memberikan konfirmasi mengenai kebenaran video yang beredar tersebut kepada awak media. Ia menyatakan bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan resmi dan segera bertindak untuk mengamankan para pelaku yang terlibat dalam keributan itu.

"Benar ada kejadian seperti di video. Pak Ronald sudah membuat laporan Polisi," ujar Braiel Arnold Rondonuwu, Kapolsek Menteng AKBP.

Penangkapan terhadap dua terduga pelaku dilakukan untuk mendalami motif di balik aksi penyerangan di ruang publik tersebut. Hingga saat ini, proses hukum terhadap laporan yang diajukan oleh Bro Ron terus berjalan di Mapolsek Menteng.

Ronald A Sinaga merupakan sosok yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha dan mantan pekerja di industri media nasional seperti Trans7 dan NET TV. Pria kelahiran Ujung Pandang ini kemudian melebarkan sayap ke dunia politik melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Pemilu 2024 untuk daerah pemilihan Jawa Barat V.

Nama Bro Ron juga kerap memicu polemik karena keberaniannya dalam mengadvokasi dugaan penyelewengan dana bantuan pemerintah. Pada Februari 2025, ia sempat berurusan dengan kepolisian setelah dilaporkan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia atas dugaan ujaran kebencian terkait penyelidikan dana Program Indonesia Pintar (PIP) di sebuah sekolah di Karawang.

Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa aksi vokal yang dilakukannya selalu didasarkan pada keresahan dan aduan dari masyarakat mengenai hak siswa yang tidak terpenuhi. Perubahan fokus kontennya dari isu jalanan ke masalah sosial membuat pergerakannya sering mendapat respons beragam dari berbagai kalangan.

Artikel terkait

Rekomendasi