Presiden Kazakhstan Tokayev Bahas Solusi Krisis Air Laut Aral

Presiden Kazakhstan Tokayev Bahas Solusi Krisis Air Laut Aral

Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev mengumpulkan para pemimpin Asia Tengah di Astana pada pekan lalu untuk membahas koordinasi pengelolaan sumber daya air guna mengatasi penyusutan drastis Laut Aral. Dilansir dari Lestari, danau yang semula merupakan terbesar keempat di dunia ini kini tersisa kurang dari sepersepuluh ukurannya.

Krisis lingkungan ini berawal dari kebijakan pengalihan aliran sungai Amu Darya dan Syr Darya pada tahun 1960-an untuk irigasi kapas. UNDP menetapkan situasi ini sebagai bencana paling mengerikan di abad ke-20, yang mengubah dasar laut menjadi Gurun Aralkum.

Presiden Kassym-Jomart Tokayev menegaskan bahwa risiko kerusakan lingkungan saat ini bergerak lebih cepat dibandingkan upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah. Ia menyoroti tingginya tingkat kehilangan air dalam sistem irigasi pertanian di wilayah tersebut.

"Konsumsi air terus meningkat. Lebih dari 80% dari seluruh sumber daya air digunakan di bidang pertanian, sementara kehilangan air dalam sistem irigasi masih sangat tinggi. Dalam kondisi seperti ini, diperlukan solusi yang terkoordinasi dan jangka panjang," ujar Tokayev.

Sebagai langkah konkret, Tokayev mengusulkan pembentukan konvensi regional mengenai pengelolaan air antarnegara Asia Tengah. Pertemuan di Astana tersebut turut dihadiri oleh para pemimpin dari Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan.

Pemerintah Kazakhstan sebelumnya telah berhasil memulihkan sebagian Laut Aral Utara melalui pembangunan Bendungan Kokaral pada 2005. Proyek peningkatan bendungan tersebut diproyeksikan mampu menambah volume air hingga 34 kilometer kubik dalam lima tahun ke depan.

Zauresh Alimbetova, Presiden Asosiasi Publik Aral Oasis, menyatakan bahwa keberhasilan restorasi di bagian utara telah memicu kebangkitan ekonomi lokal. Kembalinya stok ikan memberikan peluang bagi masyarakat untuk kembali ke profesi tradisional mereka.

“Lapangan kerja baru tercipta, dan orang-orang mulai kembali ke daerah penangkapan ikan tradisional mereka setelah banyak yang sebelumnya pergi. Ini membawa harapan untuk masa depan," ujar Alimbetova.

Selain pembangunan infrastruktur, penanaman pohon saxaul dilakukan untuk menstabilkan tanah di dasar danau yang terbuka. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi badai debu beracun yang sering membawa partikel garam dan bahan kimia pertanian ke wilayah pemukiman.

“Bagi kami, sebagai penduduk wilayah ini, hal terpenting adalah pengembangan perikanan dan pengurangan pengangguran, sehingga masyarakat dapat terus tinggal di daerah asal mereka,” tutur Alimbetova.

Krisis serupa juga dilaporkan terjadi pada ratusan danau di seluruh dunia akibat perubahan iklim dan pengambilan air berlebihan. UNEP menekankan perlunya kemauan politik untuk menerapkan teknologi pemantauan air yang lebih kuat guna mencegah keruntuhan ekosistem lebih lanjut.

“Kabar baiknya adalah kita memiliki pengetahuan dan teknologi untuk membalikkan situasi ini. Yang benar-benar kita butuhkan adalah kemauan untuk mulai memperlakukan semua danau kita seperti sumber daya berharga sebagaimana mestinya," tutur Dianna Kopansky, dari program ekosistem air tawar UNEP pada tahun 2025.

Artikel terkait

Rekomendasi