Pendaftaran program beasiswa ASEAN-UK Women in STEM untuk tahun akademik 2026/2027 resmi dibuka bagi perempuan yang ingin menempuh studi magister satu tahun di universitas terkemuka Inggris. Program yang didanai British Council dan UK Mission to ASEAN ini menerima aplikasi hingga akhir April 2026.
Dilansir dari Edukasi, setiap penerima beasiswa akan mendapatkan dukungan finansial minimal senilai 40.000 Poundsterling atau setara Rp 898 juta. Komponen tersebut meliputi biaya kuliah penuh, tunjangan hidup harian, biaya perjalanan, pengurusan visa, asuransi kesehatan, hingga bantuan penguasaan bahasa Inggris.
Program ini dirancang untuk memperkuat kepemimpinan perempuan dalam sektor sains dan inovasi sekaligus menciptakan representasi gender yang lebih beragam. Global Head of Enabling Research & Science di British Council, Dr. Jen Bardsley, menyatakan bahwa penyelenggaraan tahun ini merupakan kesempatan luar biasa untuk menurunkan hambatan karier perempuan.
"Program ini benar-benar menciptakan suara-suara yang lebih inklusif dan beragam dalam sains, yang kita tahu akan menghasilkan sains yang lebih baik dan dampak yang lebih positif bagi semua," tutur Jen Bardsley, Global Head of Enabling Research & Science di British Council.
Tersedia kuota sebanyak 20 beasiswa bagi para pelamar di wilayah Asia Timur melalui skema kerja sama dengan empat universitas riset di Inggris. Country Director Indonesia dan Director South East Asia di British Council, Summer Xia, menyoroti adanya hambatan struktural yang masih sering dihadapi perempuan dalam mengakses riset global.
Summer Xia menjelaskan bahwa inisiatif ini ditujukan khusus bagi perempuan di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia dan Timor Leste, yang memiliki visi besar untuk berkontribusi pada kemajuan sosial dan inovasi internasional.
"Serta kemajuan sosial, baik di dalam negeri maupun secara internasional. Kami bangga membuka pendaftaran tahun ini dan berharap dapat melihat lebih banyak perempuan Indonesia memimpin dan membentuk masa depan STEM," ujar Summer Xia, Country Director Indonesia dan Director South East Asia di British Council.
Para peserta terpilih nantinya tidak hanya mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga kesempatan untuk membangun jejaring dengan para ahli di bidang STEM melalui jaringan alumni global Inggris.