Edukasi mengenai isu perubahan iklim kini dihadirkan melalui pendekatan baru yang lebih menyenangkan bagi anak-anak usia sekolah dasar. Dilansir dari Suara, para peneliti asal Indonesia dan Australia berkolaborasi mengembangkan media pembelajaran berupa permainan papan atau board game.
Metode edukatif ini telah diuji coba di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan melibatkan para siswa secara langsung sebagai peserta utama. Pembahasan mengenai hasil riset serta praktik lapangan ini diangkat dalam sebuah diskusi di Lounge Katadata, Selasa (26/5).
Ahli Manajemen Risiko Bencana dari PREDIKT, Yusra Tebe, mengungkapkan bahwa tingkat pemahaman mengenai isu perubahan iklim saat ini masih tergolong rendah. Kondisi tersebut tidak hanya ditemukan pada kalangan murid, melainkan juga di tingkat guru hingga penentu kebijakan.
Menurut Yusra Tebe, krisis iklim merupakan ancaman nyata yang berpotensi mengganggu berbagai sektor kehidupan, termasuk bidang pendidikan.
"Kita tahu bahwa perubahan iklim itu nyata dan mengganggu seluruh sektor, khususnya pendidikan. Tapi pengetahuan tentang perubahan iklim di peserta didik cukup rendah, termasuk para guru dan pengambil kebijakan," ujar Yusra.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebenarnya sudah menerbitkan panduan khusus mengenai pendidikan perubahan iklim. Meski demikian, penyebaran dan implementasi panduan tersebut dinilai belum merata di seluruh satuan pendidikan.
Oleh karena itu, board game dipilih sebagai sarana alternatif untuk mempermudah proses belajar. Permainan papan ini dirancang menggunakan metode co-create bersama anak-anak di NTT dan siswa Sekolah Harkaway di Victoria, Australia.
Melalui metode kolaboratif tersebut, para siswa dilibatkan aktif dalam menyusun materi pembelajaran yang disesuaikan dengan pengalaman riil mereka sehari-hari.
"Supaya anak-anak dan guru bisa belajar perubahan iklim melalui permainan sehingga lebih menyenangkan. Jadi teori dan aplikasinya lebih terasa," kata Yusra.
Fokus pendidikan ini menyasar anak-anak karena mereka memegang peranan penting bagi masa depan lingkungan di wilayah mereka.
"Anak-anak akan menjadi penentu kebijakan, arah, dan masa depan keluarga di desa, kecamatan, dan negara," ujarnya.
Senior Specialist Perlindungan Anak dan Advokasi ChildFund, Reny Rebeka Haning, turut memberikan pandangan serupa terkait kerentanan anak-anak terhadap krisis lingkungan. Ia menjelaskan bahwa kelompok usia muda menjadi pihak yang paling terdampak oleh ketidakpastian cuaca global.
Sebagai contoh di NTT, ketidakpastian cuaca buruk mengganggu hasil tangkapan para nelayan lokal hingga memicu penurunan stabilitas ekonomi keluarga. Kondisi tekanan finansial ini berisiko memengaruhi pola pengasuhan hingga memicu potensi kekerasan pada anak.
Selain dampak ekonomi, cuaca panas ekstrem yang terjadi beberapa waktu lalu juga sempat memaksa aktivitas persekolahan dihentikan sementara waktu.
Kerentanan berlapis juga dihadapi oleh anak-anak penyandang disabilitas dalam situasi krisis lingkungan. Namun, saat dilibatkan dalam uji coba di Sekolah Luar Biasa (SLB), mereka mampu menunjukkan pemahaman yang mendalam mengenai dampak perubahan iklim.
"Anak-anak disabilitas punya kerentanan ganda. Ketika mereka dilibatkan, mereka bisa menceritakan apa yang mereka rasakan, dan itu penting dimasukkan dalam literasi perubahan iklim," ujarnya.
Reny menekankan agar hasil penelitian ini ditindaklanjuti secara konkret melalui penyusunan panduan praktis serta pelatihan bagi guru di sekolah.
Tantangan serupa ternyata juga dihadapi oleh para siswa di belahan negara lain, seperti yang diungkapkan Kepala Sekolah Dasar Harkaway Victoria, Leigh Johnson.
"Yang paling penting, para siswa memahami bahwa mereka tidak sendirian menghadapi persoalan ini," ujar Leigh melalui video conference.
Dari kacamata pemerintah, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendikti Saintek, Prof. Dr. Yudi Darma, mendorong dunia akademik untuk menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan riil.
"Kami sangat mendorong kampus dan peneliti untuk mempertimbangkan relevansi penelitian dengan kebutuhan riil masyarakat," kata Yudi.
Dukungan terhadap keberlanjutan program ini juga datang dari lembaga legislatif. Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur dan kompetensi tenaga pendidik.
"Tidak semua guru paham. Pendidikan perubahan iklim harus konsisten dan guru perlu dipersiapkan," ujar Ledia.
Ledia juga menambahkan bahwa desain fisik bangunan sekolah ke depan harus dirancang adaptif terhadap kondisi cuaca ekstrem di tiap-tiap daerah, seperti ancaman banjir rob atau petir. Langkah penguatan kurikulum ini direncanakan masuk dalam agenda pembahasan revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional bersama DPR.