Remaja Bersenjata Serang Islamic Center San Diego dan Tewaskan Tiga Orang

Remaja Bersenjata Serang Islamic Center San Diego dan Tewaskan Tiga Orang

Dua remaja bersenjata melakukan aksi penembakan fatal di Islamic Center of San Diego pada Senin sebelum akhirnya tewas bunuh diri setelah dikonfrontasi oleh tiga korban yang berusaha melindungi jemaah di dalam gedung.

Kepolisian San Diego menjelaskan bahwa respons cepat dari para korban berhasil mengulur waktu sehingga mencegah para pelaku menjangkau 140 anak-anak yang tengah belajar di sekolah dalam kompleks masjid tersebut.

Aksi penembakan ini dikonfirmasi terjadi menjelang tengah hari setelah ibu dari salah satu pelaku sempat menghubungi pihak kepolisian untuk melaporkan anaknya yang membawa senjata dan kabur dari rumah.

"All three of our victims did not die in vain," kata Scott Wahl, Kepala Kepolisian San Diego.

Pihak kepolisian menegaskan tindakan menghadang para pelaku telah menyelamatkan banyak nyawa.

"Without distracting the attention, without delaying the actions of these two individuals … without question, there would have been many more fatalities yesterday," ujar Scott Wahl.

Amin Abdullah yang bekerja sebagai petugas keamanan masjid tewas di dekat pintu masuk setelah sempat membalas tembakan pelaku dan mengaktifkan prosedur penguncian bangunan masjid.

"If it was not for him … the carnage would be much worse," ucap Taha Hassane, Imam Islamic Center of San Diego.

Imam masjid menegaskan bahwa tanpa pengorbanan tersebut, para pelaku akan dengan mudah masuk ke ruang-ruang kelas.

"If he didn't do what he did, and sacrifice his life, the two suspects would have [had] easy access to every single classroom," tutur Taha Hassane.

Dua korban lain, Mansour Kaziha dan Nader Awad, ditembak mati di area parkir luar setelah mengalihkan perhatian pelaku dari dalam gedung saat menyadari kedatangan polisi.

"These are our three heroes," sebut Taha Hassane.

Pihak pengelola masjid menyatakan duka mendalam atas hilangnya para figur penting komunitas tersebut.

"We call them our brothers in the community, we call them our martyrs and our heroes," kata Taha Hassane.

Anak perempuan dari Amin Abdullah memberikan kesaksian mengenai figur ayahnya yang selalu melindungi sesama tanpa memandang latar belakang agama.

"He was the absolute best dad in the world," ujar Hawaa Abdullah.

Dia menegaskan ayahnya selalu memperlakukan semua orang secara setara sebagai sesama manusia.

"He was my protector," kata Hawaa Abdullah.

Pihak keluarga berharap nilai-nilai kebaikan tersebut menjadi warisan yang terus dijaga oleh komunitas.

"Regardless of if you were Muslim, if you were Jewish, if you had no faith. He didn't care. He would treat you human to human," ucap Hawaa Abdullah.

Anak perempuan korban juga menyatakan pesan terakhir ayahnya untuk persatuan seluruh masyarakat.

"And I believe that's exactly the legacy he left behind. He wants all of us to be better," tutur Hawaa Abdullah.

Rekan keluarga korban menceritakan motivasi awal Amin Abdullah bekerja menjadi petugas keamanan di tempat ibadah tersebut.

"He wanted to defend the innocent, so he decided to become a security guard," kata Shaykh Uthman Ibn Farooq.

Berdasarkan keterangan Biro Investigasi Federal (FBI), kedua pelaku diidentifikasi sebagai Cain Clark yang berusia 17 tahun dan Caleb Vasquez yang berusia 18 tahun.

"These subjects did not discriminate on who they hated," kata Mark Remily, Agen Khusus FBI.

Penyidik menemukan manifesto setebal 75 halaman yang berisi retorika anti-Islam, antisemit, serta glorifikasi terhadap aksi penembakan massal masa lalu di internet.

"These subjects did not discriminate in who they hated," ujar Mark Remily.

Petugas menyita lebih dari 30 senjata api milik orang tua pelaku beserta sebuah busur silang dari hasil penggeledahan rumah.

"Political violence, wherever it comes from, is unacceptable in the United States of America. Let's talk with one another, not shoot each other when we disagree," kata Wakil Presiden AS JD Vance.

Pemerintah federal mengutuk keras aksi kekerasan politik dan kebencian tersebut serta meminta masyarakat mendoakan keluarga para korban.

"We don't want that to happen in our country, and may God rest the souls of the people who lost their lives," tutur JD Vance.

Artikel terkait

Rekomendasi