Komunitas Muslim di Sacramento kini mengkhawatirkan keselamatan mereka setelah insiden penembakan maut di Islamic Center of San Diego diselidiki sebagai dugaan kejahatan rasial. Peristiwa yang menewaskan tiga pria tersebut memicu desakan peningkatan pengamanan di tempat ibadah.
Kekhawatiran ini muncul di tengah diskusi dan legislasi mengenai kebutuhan penjaga bersenjata di rumah ibadah selama beberapa tahun terakhir. Meski tidak ada anak-anak yang menjadi korban jiwa atau terluka fisik dalam penembakan di San Diego, umat Muslim di Sacramento merasa cemas akan potensi menjadi target serangan berikutnya.
Asosiasi Masjid Muslim (Muslim Mosque Association), yang merupakan masjid tertua di Pantai Barat Amerika Serikat, menjadi salah satu tempat berkumpulnya jamaah harian yang merasakan kecemasan tersebut. Pengurus masjid menyatakan telah memasang kamera pengawas dan pagar di sekeliling bangunan, namun belum merencanakan langkah pengamanan tambahan saat ini.
Imam Muslim Mosque Association, Mumtaz A. Qasmi menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap kelompok mana pun tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat.
"Doesn't matter. Muslim or non-Muslim, killing and targeting. Killing is not acceptable," kata Mumtaz A. Qasmi, imam of the Muslim Mosque Association.
Pihak pengelola masjid menjelaskan bahwa komunitas Muslim setempat sangat erat. Mumtaz A. Qasmi berencana untuk segera menghubungi imam di Islamic Center of San Diego untuk memberikan dukungan moral atas tragedi tersebut.
"We have to get together and raise our voice," kata Mumtaz A. Qasmi.
Menurut penjelasannya, masyarakat tidak boleh menoleransi tindakan kebencian semacam itu demi menjaga kedamaian bersama.
"We do not tolerate this kind of thing," kata Mumtaz A. Qasmi.
Respons serupa disampaikan oleh anggota komunitas yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan global dalam menyikapi kekerasan.
"Everybody is like we are brothers, sisters, everybody, all of humanity, you know, so it's not good for like to killing someone," ujar Ali Shen, seorang anggota Muslim Mosque Association.
Kesedihan mendalam juga dirasakan oleh jamaah lain yang rutin beribadah di tengah aktivitas harian mereka.
"It's so sad and, you know, any place over here is Muslim or Jewish or Christian. Any place of worship attack is not acceptable in this society," kata Tariq Muhammad, yang menghadiri masjid setiap hari selama istirahat makan siangnya.
Di sisi lain, beberapa jamaah mendesak adanya pengamanan ekstra melebihi fasilitas yang ada saat ini. Salah seorang jamaah, Umair Javed, mengaku kerap merasakan sentimen negatif yang diarahkan kepada umat Muslim sejak peristiwa masa lalu.
"I've experienced that through like 9/11 and all that," kata Umair Javed, yang juga dari Muslim Mosque Association.
Dirinya menambahkan bahwa setiap hari saat memasuki rumah ibadah, ia kerap melihat kebencian yang sayangnya ditunjukkan oleh sebagian orang terhadap masyarakat Muslim.
"So. So for me, it's just like every day going into places like this, it just seemed like the hatred that we unfortunately people have, you know, showing towards Muslim people."
Oleh karena itu, Umair Javed mengharapkan adanya langkah konkret dari otoritas dan pengurus untuk memperketat pengawasan di area sekitar masjid.
"Unfortunately, sometimes it's for being portrayed as negative, and stuff like that. I feel like they should put it out there," kata Umair Javed.
Ia menginginkan adanya peningkatan kewaspadaan, termasuk kehadiran petugas keamanan serta patroli yang memantau situasi secara berkala.
"The security, the people, all that, the vigilance should be there. Patrolling should be done being monitored. Everything needs to be done."
Berdasarkan laporan pantauan KCRA 3, sejumlah masjid lain di wilayah Sacramento juga mengambil langkah preventif. Pengelola masjid-masjid tersebut memastikan bahwa mereka terus meminta para jamaah untuk mengunci semua pintu akses dan mengoptimalkan fungsi kamera pengawas yang tersedia.