Rencana pembangunan pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat angkut berat C-130 Hercules se-Asia di Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka memicu peringatan dari pengamat militer mengenai potensi risiko geopolitik, dilansir dari Nasional.
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting menilai proyek ini membawa konsekuensi strategis yang besar bagi posisi politik luar negeri Indonesia. Ia menyoroti munculnya kekhawatiran terkait persepsi kedekatan dengan Amerika Serikat (AS).
"Kritik sudah mulai muncul bahwa fasilitas ini bisa dianggap sebagai ‘pangkalan terselubung’ Amerika. Padahal Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif dan menolak pangkalan militer asing," kata Selamat Ginting pada Jumat (22/5/2026).
Selamat Ginting mengingatkan perlunya ketegasan dalam pengelolaan kerja sama internasional ini. Hubungan bilateral harus tetap menempatkan kedaulatan negara pada posisi tertinggi agar tidak terseret ke dalam konflik global.
"Pemerintah harus sangat hati-hati menjaga kedaulatan operasional, kepemilikan fasilitas, kontrol personel asing, dan batas kerja sama. Jika tidak, Indonesia bisa terseret dalam rivalitas AS-China," tegas Selamat Ginting.
Fasilitas militer bernilai tinggi di Bandara Kertajati tersebut dinilai bisa menjadi incaran utama apabila terjadi ketegangan di kawasan Indo-Pasifik atau Laut China Selatan. Selamat Ginting menyebut sistem pertahanan modern menuntut perlindungan berlapis pada infrastruktur logistik strategis.
"Artinya keamanan siber, pertahanan udara, dan proteksi infrastruktur strategis harus diperkuat sejak awal," kata Selamat Ginting.
Selain masalah keamanan fisik, ketergantungan teknologi terhadap satu negara tertentu dianggap menyimpan risiko politik yang tinggi seperti ancaman sanksi atau pembatasan operasional. Oleh karena itu, penguasaan teknologi secara mandiri menjadi langkah antisipasi yang mutlak.
"Maka transfer teknologi wajib menjadi syarat utama kerja sama," pungkas Selamat Ginting.
Proyek ini awalnya bermula dari tawaran Menteri Perang AS Pete Hegseth kepada Presiden Prabowo Subianto yang kemudian ditindaklanjuti oleh Kementerian Pertahanan RI. Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin memaparkan usulan tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi I DPR pada Selasa (19/5/2026).
"Dia menawarkan, dan ini tidak ada di negara ASEAN. Dia menawarkan, ‘bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami?’. Saya lapor (ke) Bapak Presiden, ‘kasih Kertajati’. Nah kita sedang bekerja untuk itu," ungkap Sjafrie Sjamsoeddin.
Kementerian Pertahanan RI melalui Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengonfirmasi rencana pemanfaatan Bandara Kertajati tersebut pada Rabu (20/5/2026).
"Terkait pernyataan Bapak Menhan tersebut, saat ini memang terdapat rencana untuk menyiapkan kawasan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat C-130/Hercules di kawasan Asia," ujar Rico Ricardo Sirait.
Faktor luas wilayah dan kesiapan infrastruktur penunjang penerbangan menjadi alasan utama penunjukan lokasi di Majalengka tersebut. Rico Ricardo Sirait menambahkan bahwa pengerjaan pusat MRO pesawat C-130 Hercules berskala regional ini bakal dilaksanakan secara bertahap.
"Diarahkan untuk mendukung Indonesia sebagai hub pemeliharaan Hercules di kawasan," ucap Rico Ricardo Sirait.