Sistem Pengelolaan Buruk Ubah Pakaian Layak Pakai Jadi Sampah di Eropa

Sistem Pengelolaan Buruk Ubah Pakaian Layak Pakai Jadi Sampah di Eropa

Sebuah analisis terbaru mengungkapkan bahwa banyak pakaian yang dibuang di Uni Eropa masih dalam kondisi layak pakai, namun berakhir menjadi sampah akibat sistem pengelolaan yang buruk dan rendahnya harga jual kembali. Temuan ini dilaporkan pada Rabu (13/5/2026) di tengah pesatnya perkembangan industri mode dunia.

Berdasarkan laporan yang dilansir dari Lestari, produksi pakaian global saat ini mencapai level tertinggi dengan penambahan ratusan ribu model baru setiap tahun oleh merek global. Kondisi ini memicu pembuangan lebih dari 92 juta ton tekstil setiap tahunnya secara global, sementara hanya 0,3 persen yang berhasil diputar kembali untuk digunakan.

Analisis bertajuk Sorting for Circularity: Project Rewear memeriksa lebih dari 8.000 pakaian di empat negara Uni Eropa. Peneliti menemukan fakta bahwa 37 persen pakaian yang dibuang tidak mengalami kerusakan sama sekali, sedangkan 41 persen lainnya hanya memiliki cacat kecil yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.

Industri penggunaan kembali pakaian menghadapi tantangan ekonomi karena hanya sekitar 5 hingga 10 persen pakaian bekas yang dapat terjual dengan harga kompetitif. Hal ini terjadi karena harga pakaian baru dari industri fast fashion sangat murah, sehingga konsumen cenderung enggan memilih barang bekas.

Laporan tersebut menyoroti ketimpangan biaya operasional dibandingkan dengan harga jual produk baru yang ditekan sangat rendah di pasar global.

"Harapan konsumen terbentuk oleh harga baju baru yang dibuat sangat murah, sementara biaya operasional untuk pengiriman, pengecekan keaslian, dan layanan lainnya tetap tinggi," tulis laporan tersebut.

Masalah lain muncul dari sisi kesiapan infrastruktur pengolahan kembali yang membutuhkan sumber daya besar. Kegiatan pembersihan, perbaikan, hingga pemulihan baju memerlukan keterampilan dan teknologi khusus yang sering kali tidak mampu diprioritaskan oleh organisasi pengelola limbah maupun lembaga nirlaba.

Meskipun regulasi seperti Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (EPR) mulai diterapkan di Eropa, penanganan sampah tekstil ini masih memberikan beban besar bagi negara berkembang seperti Ghana dan Pakistan. Di Ghana, Pasar Kantamanto menerima sekitar 15 juta pakaian setiap hari yang sebagian besarnya berakhir menjadi tumpukan sampah karena nilai jual yang rendah.

Sementara itu, Pakistan mengimpor lebih dari 800.000 ton pakaian bekas per tahun untuk diproses kembali di Kawasan Pemrosesan Ekspor Karachi. Sebagian besar hasil olahan tersebut dikirimkan kembali ke Afrika Timur, namun beban penanganan limbah tetap menjadi tantangan nyata di wilayah tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi