Pemerintah Kirim 744 Prajurit TNI untuk Misi UNIFIL di Lebanon

Pemerintah Kirim 744 Prajurit TNI untuk Misi UNIFIL di Lebanon

Sebanyak 744 prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda (Satgas Konga) akan diberangkatkan untuk mengemban misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada Mei 2026 mendatang. Penugasan personel ini bertujuan menjalankan misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di tengah situasi geopolitik yang dinamis.

Keputusan pengiriman ratusan personel tersebut dilansir dari Nasional merupakan bagian dari kontribusi rutin Indonesia dalam kancah internasional. Menteri Luar Negeri Sugiono menekankan pentingnya persiapan matang bagi setiap personel mengingat tingginya risiko keamanan di wilayah konflik tersebut.

Penegasan mengenai kesiapan fisik dan mental disampaikan oleh Sugiono dalam Rapat Koordinasi Misi Pemeliharaan Perdamaian yang berlangsung pada Senin (11/5/2026). Ia menyebutkan bahwa kemampuan prajurit menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan di lapangan.

"Tempat kalian ditugaskan adalah tempat yang tidak damai sama sekali dan penuh risiko. Artinya, kemampuan dan keterampilan sebagai prajurit harus disiapkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya," kata Sugiono, Menteri Luar Negeri.

Sugiono menambahkan bahwa pertemuan lintas kementerian ini sangat krusial guna memperkuat sinergi koordinasi antarlembaga. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan risiko di wilayah operasi yang dipicu oleh dinamika geopolitik global saat ini.

"Kemenlu akan terus melaksanakan koordinasi dan kerja sama untuk meningkatkan misi perdamaian sebagai bagian dari amanat konstitusi dan reputasi negara," ucap Sugiono, Menteri Luar Negeri.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago memberikan arahan terkait standar kedisiplinan. Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan merupakan faktor penentu keselamatan seluruh personel selama bertugas di daerah operasi.

Djamari membagikan perspektifnya berdasarkan pengalaman sejarah saat ia terlibat dalam misi United Nations Emergency Force II (UNEF II) di Sinai pada dekade 1970-an. Baginya, pelatihan intensif sebelum keberangkatan adalah hak mendasar yang harus diterima prajurit.

"Latihan yang keras adalah bentuk kesejahteraan yang diberikan kepada para prajurit. Dengan latihan keras dan disiplin, prajurit kita dapat melaksanakan tugas dengan baik," ujar Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.

Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menjalankan instruksi militer akan berbanding lurus dengan apresiasi yang diberikan oleh negara. Prestasi prajurit di kancah internasional disebut akan membawa dampak positif bagi karier personel maupun citra bangsa.

"Pada saat tugas dilaksanakan dengan baik, di situlah muncul kebanggaan, kehormatan, promosi, dan apresiasi dari bangsa," imbuh Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.

Djamari mewanti-wanti agar tidak ada satu pun personel yang meremehkan prosedur keamanan selama berada di Lebanon. Segala bentuk pelanggaran disiplin dipandang dapat mencoreng nama baik Indonesia di mata internasional sekaligus membahayakan nyawa prajurit lainnya.

"Jangan sekali-kali lengah. Ketidakpatuhan bukan hanya berdampak pada keselamatan, tetapi juga pada nama baik bangsa. Beban itu ada di pundak kalian," tegas Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.

Koordinasi intensif antara Kementerian Luar Negeri serta Kemenko Polkam diharapkan memastikan seluruh aspek logistik dan teknis selesai sebelum jadwal pemberangkatan di bulan Mei.

Artikel terkait

Rekomendasi