Ahli Tekankan 1.000 Hari Pertama Kehidupan Bentuk Karakter Anak

Ahli Tekankan 1.000 Hari Pertama Kehidupan Bentuk Karakter Anak

Fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi periode paling menentukan dalam membangun kualitas sumber daya manusia melalui pembentukan karakter dan perkembangan otak yang pesat pada Senin (11/5/2026), dilansir dari Lifestyle.

Psikolog sekaligus anggota ECED Council Indonesia, Endang Fourianalistyawati, menjelaskan bahwa fondasi masa depan anak tidak bergantung pada alat permainan mahal. Kualitas manusia masa depan justru tumbuh dari cara anak diperlakukan dan didampingi dalam keseharian.

"Oleh karena itu, fase ini tidak hanya soal pemenuhan kebutuhan dasar. Fase ini adalah jendela krusial untuk memupuk kemampuan anak, yang sangat menentukan kapabilitasnya di jangka panjang," ujar Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Investasi pada anak usia dini merupakan strategi inti pembangunan jangka panjang yang didukung bukti ilmiah dari WHO, UNICEF, hingga World Bank. Data menunjukkan bahwa pengalaman awal kehidupan membentuk keterampilan regulasi emosi, perhatian, serta kemampuan sosial.

"Relasi yang hangat, tanggapan yang empatis dan suportif, kepekaan terhadap kebutuhan, serta lingkungan yang aman dan memberi ruang eksplorasi menjadi faktor kunci," kata Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Kegagalan dalam membangun fondasi yang kuat pada masa awal pertumbuhan dapat memicu berbagai kendala psikologis saat anak beranjak dewasa. Hal ini mencakup kesulitan mengelola emosi hingga rendahnya ketahanan dalam proses belajar.

"Persoalan yang tampak personal ini bisa berkembang menjadi isu kolektif yang memengaruhi kualitas SDM secara luas," tegas Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Dalam konteks lingkungan sebagai faktor pendukung, pendekatan Reggio Emilia memosisikan ruang sekitar sebagai elemen yang memicu rasa ingin tahu. Lingkungan tersebut dirancang agar anak bebas bereksplorasi tanpa harus selalu diberi jawaban instan oleh orang dewasa.

"Sehingga proses berbicara kepada anak tidak diarahkan untuk memberi jawaban, melainkan membuka kemungkinan dan memantik pertanyaan," jelas Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Keterlibatan orang dewasa dengan kehadiran penuh atau mindfulness memberikan rasa aman bagi anak. Hal ini membantu anak memahami identitas diri dan dunia sekitarnya melalui pengalaman yang dihadirkan secara sadar oleh lingkungan.

"Lingkungan yang mindful tidak hanya menyediakan aktivitas, tetapi menghadirkan pengalaman yang memungkinkan anak memahami dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya," tutur Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Stimulasi bermakna bagi perkembangan anak dapat diperoleh dari material sederhana di alam seperti air, batu, atau daun. Penggunaan benda-benda tanpa fungsi tunggal ini justru mendorong inisiatif serta kreativitas anak dalam memecahkan masalah.

"Interaksi dengan elemen sederhana, seperti air, pasir, daun, batu, atau benda-benda di sekitar justru memberikan pengalaman sensorik dan eksploratif yang kaya. Anak tidak hanya menggunakan benda, tetapi membangun relasi dengannya," jelas Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Kualitas pengalaman eksplorasi sangat dipengaruhi oleh tingkat intervensi orang dewasa yang mendampingi. Kehadiran yang terlalu mengontrol justru dinilai dapat menghambat proses pembentukan keterampilan fondasi pada diri anak.

"Namun, kualitas pengalaman ini sangat ditentukan oleh peran orang dewasa. Terlalu banyak intervensi dapat menghambat eksplorasi, sementara kehadiran yang peka justru memperkuat proses pembentukan keterampilan fondasi," ujar Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Pemanfaatan material terbuka memungkinkan setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang bersifat personal sesuai imajinasinya masing-masing. Proses ini sekaligus melatih kemampuan mengambil keputusan saat menghadapi ketidakpastian atau kegagalan saat bermain.

"Peran orang dewasa bukan untuk mengontrol pengalaman itu, tetapi memastikan ruangnya tetap aman sekaligus terbuka untuk eksplorasi," kata Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Melalui perspektif mindfulness, anak dapat terlibat sepenuhnya dalam proses eksplorasi tanpa merasa tertekan oleh target tertentu. Orang dewasa disarankan untuk tidak mendominasi permainan agar kreativitas anak dapat berkembang secara alami.

"Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas bermain, tetapi latihan keterampilan yang mengajarkan anak mengambil keputusan, menghadapi ketidakpastian, serta membangun ketekunan. Ketika bangunan runtuh, anak mencoba kembali. Proses ini mengajarkan anak mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan ketangguhannya," jelas Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Peran orang tua dan guru perlu bergeser dari sekadar pemberi instruksi menjadi mitra belajar yang berjalan berdampingan dengan anak. Fokus utama adalah mendampingi proses belajar dengan cara mengamati dan memberikan ruang penemuan mandiri.

"Orang dewasa hadir sebagai pengamat yang peka, memberi dukungan ketika dibutuhkan, dan menjaga ruang tetap aman," kata Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Pendekatan mindful parenting menekankan pada kualitas kehadiran mental orang tua tanpa distraksi saat menemani anak. Hal ini menciptakan rasa percaya pada diri anak karena merasa didengar dan dihargai secara utuh.

"Di sinilah terjadi pergeseran yang bermakna, dari yang sebelumnya fokus pada mengajarkan sesuatu kepada anak, menjadi mendampingi anak dalam proses belajarnya. Dari yang semula cepat memberi jawaban, menjadi memberi ruang bagi anak untuk menemukan. Dari yang terburu-buru menilai, menjadi lebih banyak mengamati," jelas Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Pendidikan anak usia dini seharusnya lebih menekankan pada kualitas interaksi dan penataan ruang yang memicu rasa ingin tahu. Lingkungan yang ramah anak bukan sekadar tentang aspek perlindungan fisik, melainkan ruang untuk membangun pemahaman mandiri.

"Dari sinilah anak merasa dilihat, didengar, dan dipercaya," kata Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Pertumbuhan anak secara utuh terjadi ketika lingkungan fisik dan emosional dirancang dengan kesadaran penuh. Kondisi ini menjadi landasan bagi lahirnya generasi masa depan yang memiliki sifat reflektif serta tangguh dalam menghadapi tantangan.

"Lingkungan yang aman dan ramah anak bukan sekadar tentang perlindungan, melainkan soal kemungkinan sebuah ruang yang membebaskan anak untuk berpikir, merasakan, mencoba, dan membangun pemahamannya sendiri," ucap Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Kualitas pembelajaran diukur dari bagaimana pengalaman tersebut berlangsung, bukan hanya materi yang diajarkan secara formal. Interaksi yang tepat di 1.000 HPK menjadi investasi paling mendasar bagi kualitas sumber daya manusia secara kolektif.

"Dari proses yang tampak sederhana inilah fondasi bagi generasi yang kreatif, reflektif, dan tangguh mulai terbentuk," ujar Endang Fourianalistyawati, Psikolog dan anggota ECED Council Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi