Umat Katolik Katedral Jakarta Peringati Kenaikan Yesus Kristus

Umat Katolik Katedral Jakarta Peringati Kenaikan Yesus Kristus

Umat Katolik mengikuti ibadah Misa Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus di Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, pada Kamis (14/5/2026) dengan penuh kekhidmatan. Prosesi ibadah tersebut berfokus pada penyampaian pesan kemanusiaan serta ajakan untuk mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam interaksi sosial masyarakat.

Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, perayaan keagamaan ini menjadi momentum bagi jemaat untuk merefleksikan kembali tugas-tugas kemanusiaan di dunia. Salah seorang pekerja swasta asal Jakarta Selatan, Andre (34), memberikan pandangannya mengenai esensi dari ibadah yang ia ikuti tersebut.

"Intinya sih mengingatkan momen kenaikan Yesus ke surga bukan berarti tugas kita selesai karena dosanya sudah ditebus. Tapi justru harus meneruskan ajaran kebaikannya, ibaratnya kalau di Alkitab menjadi garam dan terang dunia," ujar Andre saat ditemui usai ibadah di area Gereja Katedral Jakarta, Kamis.

Andre menjelaskan bahwa konsep menjadi "garam" dan "terang" berkaitan erat dengan peran manusia dalam menciptakan kedamaian serta menjadi teladan positif bagi sesama. Ia meyakini bahwa ajaran dalam Alkitab sangat aplikatif untuk menjaga harmonisasi di lingkungan masyarakat yang beragam.

"Misalnya ya kita jadi orang yang baik-baik aja gitu, enggak bikin ribut sama orang, toleransi dan jadi orang yang positif lah pokoknya di lingkungan," kata Andre.

Perspektif serupa disampaikan oleh jemaat lainnya, Redemptus Risky (26), yang memaknai peristiwa Kenaikan Yesus sebagai bentuk peralihan tanggung jawab kepada para pengikut-Nya. Menurutnya, umat memiliki kewajiban moral untuk melanjutkan keteladanan yang telah ada.

"Kenaikan ini menjadi tanggung jawab bagi kami para pengikut-Nya untuk menjalani teladan-teladan yang sudah Yesus tinggalkan, dibersamai oleh kehadiran Tuhan dalam rupa Roh Kudus," ujar Risky.

Dalam pengamatannya, Risky menekankan bahwa salah satu teladan yang paling relevan untuk diterapkan saat ini adalah keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Ia merujuk pada sikap konsisten yang ditunjukkan Yesus saat menghadapi pengadilan sebagai pedoman hidup yang utama.

"Dia (Yesus) selalu menjawab dengan kebenaran tanpa ragu-ragu, walaupun Dia tahu apa dampak dari kebenaran yang disampaikan. Menurut saya teladan itu yang wajib saya ikuti," kata Risky.

Ia menambahkan bahwa sikap kritis dalam membela kebaikan merupakan manifestasi nyata dari ajaran agama di tengah dinamika sosial saat ini. Keberanian berbicara dinilai menjadi faktor krusial dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

"Ajaran untuk selalu berani bicara kebenaran dan membela kebaikan itu seharusnya bisa terus diterapkan. Ini menurut saya pribadi yang masih sangat relevan di tengah kondisi masyarakat sosial kita yang sangat dinamis," ujar Risky.

Artikel terkait

Rekomendasi